Metamorphosis

Metamorphosis
S.2 Bab 39 - Tanggung Jawab



"Aku hamil." Bu Aram menyerahkan beberapa buah alat tes kehamilan, di depan pria yang sudah menumpahkan benih padanya.


Wanita itu sangat canggung bicara dengan sang murid, mengenakan bahasa informal seperti tadi. Tapi ia memaksakan diri demi anak dalam kandungannya.


"Ya."


"Apa? Cuma iya? Kau tak percaya kalau anak dalam kandungan ini adalah anakmu?" ucap Bu Aram hampir gila.


"Lalu Anda ingin saya bersikap seperti apa, Bu Guru?" tanya pria yang memiliki mata indah dan tajam itu.


"Ya... Seharusnya kan..." Bu Aram tak sanggup mengeluarkan kata-kata yang sudah dirancangnya dengan baik sejak dari rumah.


"Saya masih pelajar dan memiliki pacar. Jika Anda mengungkap semuanya, maka Anda yang akan ditahan, karena melecehkan anak di bawah umur," lanjut remaja cowok tersebut.


"Grrtt... Sial."


"Saya akan bertanggung jawab menafkahi anak tersebut secara finansial, jika telah lahir nanti. Tetapi Anda harus menyelesaikan apa yang ernah saya minta dulu," kata Jun Hyeon memberikan tawaran.


"Tetapi, kenapa baru-baru ini saya malah mendengar Bitna tidak jadi di deportasi dan di DO, ya? Sebenarnya apa saja yang sudah Anda lakukan? Menggoda pria lain?" ucap Jun Hyeon dengan nada sangat dingin tetapi menakutkan.


"Permintaanmu terlalu berat. Aku yang guru bermasalah ini, gimana caranya menggoyang pemerintah, agar mencabut biaya untuk anak itu?" kata Bu Aram terbata-bata.


"Nah, itu tahu. Jadi siapa yang akan percaya pada Anda, kalau melaporkan kejadian kita ini ke atas? Anda kan memang sudah bermasalah sejak lama." Park Jun Hyeon berbicara sambil melemparkan senyum manisnya.


Bu Aram mengepalkan kedua tangannya, "Dia benar-benar mengerikan. Dia sangat pandai merayu wanita dengan pesonanya. Tetapi di saat yang sama, dia juga membunuh orang-orang dengan senyumannya. Aku yang bodoh karena sudah terjebak," gumamnya dalam hati.


"Jun, bagaimana kau bisa melarikan diri dari masalah ini? Tes DNA kan tidak bisa dipungkiri?" ucap Bu Aram dengan suara bergetar.


"Sudah ku bilang, kan? Saya akan bertanggung jawab secara finansial, kalau Anda melakukan tugas dengan baik. Anda harus bisa membuat Bitna GAGAL di Indonesia," kata Jun Hyeon dengan tegas.


"Jika tidak, aku bisa dengan mudah membalikkan cerita, kalau Anda lah penyebab semuanya," lanjut pria itu lagi.


"Tapi kau kan sudah dewasa. Tidak ada perlindungan hukum lagi untuk kegiatan 'itu'. Kau sudah legal melakukannya," kata Bu Aram masih bersikeras meyakinkan Jun Hyeon.


"Anda salah, Bu. Aku masih enam belas tahun. Artinya aku masih tiga tahun lagi baru dinyatakan dewasa secara hukum," kata Park Jun Hyeon seraya tegak dari duduknya. Ia hendak pergi dari sana.


"Kalau begitu aku akan menggugurkan bayi ini!" ancam Bu Aram.


"Tidak masalah! Itu lebih baik lagi," kata Jun Hyeon tidak peduli. "Aku bisa mengurus Bitna seorang diri," ucapnya dalam hati.


...🍎🍎🍎...


Beberapa minggu kemudian...


"곡기가 λ„ˆλ¬΄ μ‹ μ„ ν•΄μš”."


"Udaranya segar sekali."


"Aku tidak menyangka, akan sampai ke pulau indah ini."


Seorang pria asal Korea Selatan, berjalan-jalan di pesisir barat pantai papua tersebut. Suasana pagi itu cukup ramai. Para nelayan sibuk melelang ikan yang masih sangat segar, baru saja datang dari laut.


Pria muda pecinta makanan laut tersebut juga tak mau kalah dari penduduk lokal. Ia berjalan dari satu kapal ke kapal lainnya untuk melihat-lihat beragam jenis hasil tangkapan dari laut tersebut.


"점심 λ©”λ‰΄λ‘œ 생선ꡬ이λ₯Ό λ¨ΉλŠ” 것도 쒋은 것 κ°™μŠ΅λ‹ˆλ‹€. 쒋은 생선 μΆ”μ²œμ΄ μžˆμŠ΅λ‹ˆκΉŒ?"


"Sepertinya makan ikan bakar untuk menu siang ini enak juga. Apa kamu punya rekomendasi ikan yang enak?"


Seon Lim Chan, pria Korea yang memutuskan untuk menetap di Indonesia tersebut bertanya pada tourguidenya. Belum begitu lancar berbahasa Indonesia, membuatnya harus menyewa warga lokal untuk menjadi pendampingnya di sana.


"κ°€μ˜€λ¦¬ μ’‹μ•„ν•˜μ„Έμš”? κ·Έλ¦΄λ“œλ„ λ§›μžˆμŠ΅λ‹ˆλ‹€."


"Apa kamu suka ikan pari? Di bakar juga enak." Sang Tourguide bernama Vincent Abarua tersebut memberi sebuah usul.


"κ°€μ˜€λ¦¬? 흠... ν˜Ήμ‹œ..."


"Ikan pari? Hmm... Boleh juga..." Lim Chan menerima usul tersebut.


"삢은 쑰개λ₯Ό λ„£μœΌλ©΄? μ—¬κΈ°μ—μ„œ νŠΉλ³„ν•œ μ‚Όλ°œμ„ μ‹œλ„ν•΄μ•Όν•©λ‹ˆλ‹€."


"Kalau kita tambah kerang rebus gimana? kamu harus mencoba sambal khas di sini," tambah Vincent.


"μ™„λ²½ν•œ! λ‚˜λŠ” ν™•μ‹€νžˆ 그것을 μ’‹μ•„ν•  κ²ƒμž…λ‹ˆλ‹€."


"Sempurna! Aku pasti akan sangat menyukainya," sahut Lim Chan.


"이런! μ Šμ€μ΄, 당신도 ν•œκ΅­μ—μ„œ μ™”μŠ΅λ‹ˆκΉŒ?"


"Ya ampun! Anak muda, kamu juga berasal dari Korea?"


Seon Lim Chan memutar badannya ke belakang. Ia terkejut ada seorang pria tua, dengan badan sangat kurus dan kaki pincang, menyapanya dalam Bahasa Korea.


"λ§žμŠ΅λ‹ˆλ‹€. μ €λŠ” ν•œκ΅­μ—μ„œ μ™”μŠ΅λ‹ˆλ‹€. 당신은 λ™μΌν•©λ‹ˆκΉŒ?"


"Benar, Pak. Saya berasal dari Korea Selatan. Apa Bapak juga sama?" jawab Lim Chan dengan lembut.


"였λ₯Έμͺ½. μ €λŠ” μ„œμšΈμ—μ„œ 온 μ„œμΌμƒμž…λ‹ˆλ‹€. 도와쀄 수 μžˆλ‹ˆ, μ•„λ“€?"


"Benar. Saya Seo Il Sang, dari Seoul. Apa kamu bisa membantuku, Nak?" ujar pria tersebut.


(Bersambung)