
Double Eye lid liner sudah. Bedak powder sudah. Lipgloss matte, blush on, semua sudah. Tinggal berangkat.
Seo Bitna mengambil flat shoes -nya dari rak sepatu.
"Bi... Aku pergi dulu..."
"Ya, jangan pulang terlalu malam," seru bibi Seo Dami.
"Ya, Bi."
"Mau ke mana kau? Tumben cantik begini?"
"Astaga, Wooil! Kau ngapain di rumah bibiku." Bitna terlonjak kaget, melihat cowok berkaus putih itu duduk dengan santainya di depan televisi.
"Aku guru privat di sini. Hargai aku, dong," kata Wooil sambil memasang wajah angkuhnya.
"Guru privat?"
"Iya. Wooil oppa itu guru privat semua mata pelajaranku." Ara yang datang membawa setoples biskuit dan seteko jus jeruk itu memberi penjelasan kepada sang kakak.
"Oppa?" ucap Bitna dengan pandangan jijik dan aneh.
"Kenapa ekspresimu begitu? Memangnya aku ini kecoak?" protes Wooil.
"Ya, mungkin begitu," sahut Bitna.
"Eonnie, jangan bicara seperti itu. Eonnie telah menyakiti perasaan guruku," kata Ara membela Son Wooil.
"Woaaah... Lihat, ini. Sejak kapan kalian jadi dekat begini?" tanya Bitna.
"Sejak Eonnie pergi ke luar negeri. Aku kesepian tahu," kata Ara.
"Kalian berdua pacaran?" tebak Bitna.
"Nggak!" jawab Ara dan Wooil serempak.
"Dia adikku," kata Wooil.
"Dan dia Oppa-ku," tambah Ara pula.
"Haaah... Sudahlah, aku mau keluar dulu," kata Bitna sambil mengelus keningnya yang pusing.
"Mau ke mana? Sebentar lagi cuaca dingin, loh," kata Ara mengingatkan.
"Keluar sebentar. Ada janji," ucap Seo Bitna.
"Janji? Kau punya pacar?" tanya Seon Wooil.
"Kalau iya kenapa?" jawab Bitna sambil ngeloyor pergi.
"Apa? Hei, Bitna. Tunggu. Ara, kakakmu beneran punya pacar?" tanya Wooil.
"Mana mungkin. Masa mau pergi kencan bawa kantong plastik sebesar itu?" jawab Ara santai.
"Ah, benar juga," sahut Wooil bernapas lega.
"Lagian, kalau pun Eonnie punya pacar, paling di Indonesia," lanjut Ara. Kedua tangannya sibuk membuka toples biskuit dan menuangkan jus jeruk ke dalam gelas.
"Hei, Chae Ara. Kau mau menenangkanku atau meresahkanku?" kata Wooil.
"Sudahlah, guru. Jangan khawatir. Kata orang Indonesia, kalau jodoh nggak akan ke mana," kata Ara sambil menepuk-nepuk punggung tangan Seon Wooil.
"Sekarang mulai belajar aja, yuk. Besok aku test sejarah Korea," lanjut gadis mungil itu.
...πΊπΊπΊ...
Tuuut...
"Halo?"
"Belum. Aku masih di dalam bus. Sepuluh menit lagi aku sampai," jawab Bitna melalui telepon.
"Baiklah. Aku sudah sampai di lokasi. Nanti langsung ke dalam aja, ya."
Sepuluh menit kemudian...
"Kak Ningsih... Apa kabar?" seru Birna ketika memasuki sebuah kafe.
"Anyeong, Bitna. Makin cantik aja, nih," kata Ningsih.
"Awww... Terima kasih. Ini, aku bawain pesenan kakak." Bitna meletakkan sekantung plastik di atas meja.
"Gumawo, Bitna." Ningsih tersenyum senang melihat sekotak bumbu pecel dan sebungkus kerupuk udang. "Loh, ini apa?"
Ternyata masih ada beberapa bungkus makanan lagi, yakni lumpia frozen, sambal udang khas Lampung dan satu set pempek.
"Itu oleh-oleh dariku. Kak Ningsih pasti suka, kan?" ujar Bitna.
"Suka banget. Tapi emangnya boleh, bawa ini dalam bagasi?" tanya Ningsih.
"Agak ribet, sih. Terutama kuah cuko pempeknya. Tapi aku berhasil membawanya ke sini. Walau pun sampe harus membujuk petugas bandara dengan foto bareng. Eh, yang lain malah ikutan minta foto dikira aku anggota girl band," kata Bitna bangga.
"Hahaha... Ada-ada aja kamu," tawa Ningsih. "Maaf, ya. Ternyata kontrak aku diperpanjang di sini. Padahal udah janji mau menemanimu jalan-jalan di Indonesia," kata Ningsih.
"Nggak apa-apa, aku juga udah jalan-jalan, kok. Walau hanya di sekitar Kota Bogor. Berarti kakak hebat, dong kontraknya diperpanjang."
"Alhamdulillah... Aku juga nggak nyangka. Jadinya pindah kuliah di sini, deh," sahut wanita berkerudung itu.
"Anyeong."
"Eh, Eunjo. Kau sudah selesai les? Kenalkan, ini guru Bahasa Indonesia-ku."
"Halo, Aku Go Eunjo. Bodyguardnya Bitna dari SD," ujar Eunjo memperkenalkan diri.
"Anyeong, aku Ningsih dari Jawa Tengah," jawab Ningsih sambil memamerkan gigi gingsulnya. "Ternyata Bodyguardnya Bitna cantik, ya," kata Ningsih.
"Woiya dong... Siapa dulu..." Eunjo mengibaskan rambut pendeknya dengan tangan kanan.
"Kita pesan makanan, yuk. Biar aku traktir," ucap Bitna.
"Wohooo... Ada yang banyak duit, nih. Aku pesan menu paling mahal, ya," tantang Eunjo.
"Boleh aja. Tapi nanti kalian berdua temani aku ke suatu tempat, ya," pinta Bitna.
"Ooo... Aman itu. Yang penting perutku kenyang dulu," kata Eunjo. "Ommunie, aku pesan set menu paling lengkap di sini," seru wanita tomboy tersebut.
Satu jam kemudian...
"Hmmm... Bitna, kau nggak marah padaku, kan?" tanya Eunjo. Putri jenderal tersebut mengenggam tangan Ningsih dengan erat.
"Enggak, kok," jawab Bitna sambil menyibak semak belukar untuk membuka jalan.
"Atau menu yang ku pesan tadi terlalu mahal?" tanya Eunjo lagi.
"Nggak juga," sahut Bitna yang berjalan di depan.
"Terus kenapa kita ke kuburan malam-malam? Ini kan bukan kuburan ibumu, atau leluhurmu?"
(Bersambung)
Hai, semua... Mampir juga ke novel author lainnya, yuk.
Sampai jumpa lagi...