
Tuuut... Tuuut... Tuuut...
"Ku mohon. Angkatlah..."
Wanita berambut cokelat itu berulang kali menghubungi nomor yang sama.
Kakinya tidak bisa diam. Ia berjalan mondar mandir di dalam ruangan sepi di bawah tangga.
"Tuuut... Tuut..."
"Duh, apa dia udah tidur? Tapi di sana pasti sekarang baru jam sebelas malam," gumamnya.
Kuku dijarinya telah rusak akibat giginya. Kini bibirnya yang mungil itu menjadi korban selanjutnya.
"Kalian lihat Bu Aram tadi? Sidangnya akan segera mulai."
Terdengar beberapa orang pria mencari wanita itu. Bu Aram bergeser semakin ke tepi. Ia berlindung di antara tumpukan kursi dan meja rusak.
Tuuut...
"Halo?"
"Lim Chan? Kenapa kamu sulit dihubungi, sih?" ucap wanita itu hampir menangis.
"Oh, aku masih ada di kampus. Memangnya kenapa?" tanya pria di seberang sana.
"Jam segini masih di kampus? Nggak mungkin," pikir Bu Aram. "Ah, tidak. Bukan itu fokusnya."
"Halo? Kenapa diam saja? Ada masalah?"
"Chan, apa kamu belum menghapus foto itu?" tanya Bu Aram.
"Foto apa?" jawab Lim Chan.
"Foto kita di Sungai Han waktu itu. Kenapa kau nggak menghapusnya?" desak Bu Aram.
"Kenapa harus dihapus? Kan kau sendiri yang meminta upload foto itu. Captionnya juga kau yang tulis," jawab Lim Chan.
"Bukan gitu. Sekarang kan situasinya jadi gawat. Kau dan ayahmu bisa terseret juga nanti," kata Bu Aram.
"Situasi gawat? Ah, maksudnya karena sudah ketahuan sama adikku? Ku pikir kita memang sudah putus sejak itu," kata Lim Chan santai.
"Kau sudah tahu kalau kita ketahuan?" tanya Bu Aram.
"Loh, ku pikir kau tidak ada meneleponku lagi karena masalah itu. Apa aku salah tebak?" kata Lim Chan.
"Kita nggak putus. Maksudku, belum," sahut Bu Aram. "Aku masih mencintaimu, Chan."
"Nggak. Aku nggak bisa menjalin hubungan dengan perempuan milik laki-laki lain," ucap Lim Chan tegas.
"Jangan begitu. Aku mohon jangan tinggalkan aku. Aku akan berpisah dengan suamiku."
"Itu bukan keputusan bijak, Aram. Sekarang saja kau sudah banyak berbohong. Lalu kau minta hapus fotomu. Aku nggak bisa menjadikan perempuan seperti itu sebagai pendampingku."
"Kau mencampakkanku sekarang? Setelah semua masalah ini lalu kau lepas tangan?" ucap Bu Aram.
"Aku nggak mencampakkanmu. Tapi kamulah yang dari awal berbohong padaku dan suamimu," kata Lim Chan.
"Hei, kalian dengar suara itu? Sepertinya dari gudang bawah tangga." Pria yang mencari Bu Aram tadi kembali berbicara.
"Chan, aku dalam bahaya. Tolong aku sekali ini saja. Tolong hapus foto itu. Soal hubungan kita nanti dibicarakan lagi," pinta Bu Aram.
"Maaf, aku nggak bisa. Terimalah konsekuensi dari semua perbuatanmu itu," kata Lim Chan lalu menutup telepon.
"Dasar Sialan! Kakak sama adik sama saja. Dua-duanya menghancurkanku!"
Prang!
Bu Aram menghempaskan teleponnya ke lantai hingga pecah menjadi berkeping-keping.
...🍎🍎🍎...
"Jadi gimana, Bu Aram. Anda sudah terbukti melakukan perselingkuhan dan suami Anda sensiri yang melaporkannya," kata Ketua Komite Sekolah.
"Pak, tapi kan kedua pihak salah. Artinya anak dari Tuan Seon juga terlibat," ujar Bu Aram membela diri.
"Tidak. Seon Lim Chan sudah mengkongirmasinya padaku. Dia mengirimkan semua bukti chat kalian. Dan kamu yang memulainya duluan," kata suami Bu Aram.
"Ggrrrt.. Dasar!" gerutu Bu Aram.
"Anda juga terbukti beberapa kali menggunakan dana penelitian untuk keperluan pribadi," ucap peserta sidang lainnya
"Penelitian? Ah, putra bungsu Tuan Seon juga bersalah, karena merebut karya tulis orang lain," jawab Bu Aram dengan lantang.
"Kalau begitu, kenapa bisa lolos terbit? Artunya Anda tidak bekerja dengan baik," tuduh yang lainnya.
"Maaf menyela."
Seon Wooil yang hadir dalam rapat sebagai saksi, akhirnya meminta izin untuk bicara.
"Saya tidak melakukan hal yang dituduhkan Bu Aram. Memang, karya tulis saya ini, penelitiannya dilakukan bersama seorang teman," Wooil mulai menyampaikan pendapatnya.
"Tapi dia bersedia hasil penelitian ini ditulis atas nama saya. Dan Saya memiliki bukti persetujuannya," lanjut Wooil.
"Hah? Bagaimana bisa?" gumam Bu Aram terkejut.
"Saya juga ingin menyampaikan satu bukti lagi, kalau hubungan Bu Aram dengan kakak saya hanyalah simbiosis parasitisme." Wooil menjeda kalimatnya sejenak.
"Karena Bu Aram menggunakan kesempatan ini, untuk mengambil jalan pintas dana penelitian luar negeri melalui kakak saya. Dan dana itu digunakan untuk foya-foya." Wooil menutup kesaksiannya.
...🍎🍎🍎...
"Beneran nggak apa-apa kamu pulang sendiri?" tanya Ningsih.
"I-ya. Nggak mas-alah," jawab Bitna dengan Bahasa Indonesia yang terbata-bata.
"Baiklah. Hati-hati di jalan, ya. Aku pergi dulu."
Ningsih pun meninggalkan Aram di halte. Gadis Indonesia itu sedang ada pekerjaan mendesak di tempat magangnya.
"Akhirnya kamu sendirian juga."
Seorang pria bertopi duduk di sebelah Bitna.
"Jun, kamu mengikutiku dari tadi?" tanya Bitna risih. Ia memandang sekeliling untuk mencari bantuan.
"Hmm... Memangnya kenapa? Aku cuma menjagamu dari orang-orang nggak jelas."
"Jun, kau sadar kan? Kau lebih menakutkan dari orang-orang itu," kata Bitna dengan suara tinggi.
Beberapa orang di sekitar mereka pun menoleh. Mereka cukup terganggu.
"Maafkan pacar saya. Kami akan pergi."
Jun Hyeon membungkukkan badan pada orang-orang itu, lalu menariknya pergi.
"Jangan tarik aku. Aku nggak mau pergi dari sini," kata Bitna.
"Sayangnya mereka lebih percaya padaku daripada kamu. Dan Wooil nggak akan datang membantuz karena sibuk dengan sidang Bu Aram," jawab Jun Hyeon percaya diri.
Pemuda itu terus menarik tangan Bitna menjauhi halte.
"Kau mau aku berteriak?" ancam Bitna.
"Jangan takut. Aku cuma mau mengajakmu bicara."
"Soal apa? Membatalkan program itu. Aku nggak bisa," tegas Bitna.
"Ku pikir kamu akan mundur setelah aku mengatakan semua tentangmu," lanjut Bitna lagi.
"Kau nggak bisa mengancamku, Bitna," balas Jun Hyeon.
"Aku ingat, kita pernah satu SMP. Aku sudah berbuat apa padamu sampai kau dendam begini? Apa pun itu maafkan aku," ucap Bitna.
"Kau boleh pergi. Aku hanya ingin mengatakan itu padamu," bisik Jun Hyeon di telinga Bitna.
"A-apa?"
Bitna tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Kau boleh pergi. Aku akan menunggumu kembali. Ini hadiah untukmu."
Jun Hyeon mengikatkan sebuah gelang pada di lengan Bitna.
"Aku nggak paham pada sikapmu. Kita nggak cukup dekat untuk saling memberi hadiah." Bitna menolaknya.
"Jadi gimana biar kita lebih dekat lagi?" kata Jun Hyeon sambil mendekatkan tubuhnya pada Bitna.
Wajah gadis mungil itu pun berhadapan langsung dengan dada bidang pria itu. Lagi-lagi, degup jantung Bitna menjadi tak beraturan.
"Nggak! Nggak perlu. Terima kasih gelangnya. Aku pergi dulu."
Bitna menjadi salah tingkah karena sikap Jun Hyeon. Dia pun tanpa sengaja menghentikan sebuah taksi dan menaikinya.
"Duh, habis sudah uang jajanku. Bibi pasti akan memarahiku nanti," pikir Bitna.
Sementara itu, Jun Hyeon tersenyum sinis melihat kepergian Bitna.
"Kena kau, gadis lugu," ujarnya.
(Bersambung)
Heiii.. Jangan pergi dulu. Ada bonus foto, nih.
Btw ada yang tahu, nggak? Arti caption IGnya apa? 🤭... Kasih tau othornim di kolom komentar yaa...