
“Bitna, jangan pundung terus, dong. Aku kan jadi kesepian,” kata Tika. “Mending kita ke kebun aja, yuk. Aku dengar rambutan belakang sudah berbuah,” ajak gadis melayu itu.
“Pundung?” Bitna mengerutkan keningnya. Ia baru mendengar kata-kata itu.
“Pundung itu semacam badmood,” jelas Tika. "Wajahmu murung terus dari tadi."
“Oh… Aku nggak kenapa-kenapa, kok. Cuma ingin membaca buku aja,” jawa Bitna tanpa menoleh.
“Hei, Jangan coba-coba bohongi aku. Aku tahu semuanya dari matamu,” kata Tika.
Bitna mengangkat kepalanya dan menatap teman sekamarnya itu cukup lama. Wajahnya benar-benar mendung. Disentil sedikit saja, air matanya pasti akan tumpah.
“Dasar gadis cengeng! Jangan sedih gitu. Ibuku juga nggak bisa datang, kok. Nggak ada biaya untuk ongkos dari Sumatera ke Pulau Jawa,” kata Tika.
“Lho, memangnya sejauh itu, ya?” ucap Bitna. Ia mulai tertarik dengan obrolan Tika.
“Jauh banget. Jangankan keliling Indonesia dari ujung ke ujung, Dari pulau ke pulau aja jauhnya udah sama kayak ke luar negeri,” kata Tika.
“Yang benar? Apa itu sebabnya, Indonesia dibagi menjadi tiga zona waktu?" tanya Bitna. Gadis itu meletakkan buku yang sedang ia baca ke atas meja.
"Yo'i," sahut Tika singkat.
"Luar biasa..." wajah Bitna mulai berseri. Mendung telah pergi dari wajahnya.
“Makanya, jangan bersedih gitu. Nanti sore kan kita kan oleh pegang HP selama dua jam, kamu bisa menelepon paman dan bibimu nanti,” kata Tika.
“Mending kita ke kebun aja, yuk. Aku dengar rambutan belakang sudah berbuah,” ajak gadis melayu itu.
"Rambutan? Ya udah, ayo," kata Bitna seraya mengambil sweaternya. Sementara rambutnya ia biarkan terurai.
Di kamar seharian membuatnya sesak. Ia juga belum pernah mencicipi buah rambutan yang terkenal enak itu.
"Haaahh... Segar banget ya udaranya," ujar Bitna sambil menghirup napas dalam-dalam.
Memang, berjalan di bawah rerimbunan pohon seperti ini, ampuh sekali untuk mengembalikan mood yang rusak.
"Sayang banget, yang berbuah cuma rambutan dan jambu air. Padahal di sini ada banyak pohon buah-buahan, lho," kata Tika.
Kedua tangan Tika sibuk memetik buah rambutan yang sudah berwarna merah. Bitna pun demikian. Mereka mengumpulkan buah-buahan itu dalam sebuah kantong plastik yang sedang mereka bawa.
"Wah, enak, manis," ujar Bitna ketika mencobanya. Mulutnya tidak bisa berhenti mengunyah buah unik itu.
"Semoga saja aku masih di sini saat musim buah yang lainnya. Kau tahu? Di Korea itu buah-buahan sangat mahal. Kadang kami hanya menemukan jeruk dan pir saja saat musim dingin," kata Bitna.
"Tenang saja, pohon di sini tak berbuah sampai kau pulang , aku akan membawamu ke pasar dan mencoba banyak buah lokal di sana. Kau bisa makan sepuasnya," janji Tika.
"Maksudmu dengan cara kabur dari sekolah seperti kemarin?" tanya Bitna. "Emang seru banget, sih. Tapi aku nggak mau mengulangnya lagi. Aku hampir mati memikirkannya."
"Hahaha... Kau ada-ada saja." Tika tertawa terbahak-bahak.
"Tapi tentu kami tak mengajakmu seperti itu. Kita bakal kekuar dengan izin. Kalau bisa bareng Mbak Sheza," lanjut Tika.
Srak!
"Hai, Seo Bitna. Apa kabar?" Seorang pria tampan seperti idol, menyapa Bitna dengan senyuman manis menggunakan Bahasa Korea.
"K-kau? Park Jun Hyeon? Kenapa kau bisa ada di sini?" Suara Bitna terdengar berat dan sesak. Tubuhnya gemetaran.
Meskipun tidak memahami apa yang sedang dibicarakan Bitna dan pria asing itu, tapi Tika menangkap ada sesuatu yang aneh di antara keduanya.
"Maaf, Anda siapa? Jangan ganggu teman saya," ujar Tika dengan Bahasa Inggris. Gadis melayu itu memasang badan, menjadi benteng pelindung bagi Bitna yang tampak ketakutan.
"Cih, cewek pendek! Minggir, kamu! Aku mau bicara dengan kekasihku. Aku nggak selera melihatmu," ucap Park Jun Hyeon benar-benar memancing emosi.
"Kekasih?" Tika memutar badannya ke belakang, menanti jawaban dari Bitna.
Seo Bitna mengepalkan kedua tangannya, lalu menarik napas dalam-dalam.
"Jun Hyeon, sayang. Kau pasti kangen banget sama aku, ya? Sampai jauh-jauh ke sini mencariku?" kata Bitna membuat teman sekamarnya semakin bingung. "Tapi, memangnya sejak kapan ya kita pacaran? Apa tujuanmu datang ke sini?" lanjut remaja itu lagi.
"Apa harus ada seucap kata, agar kita resmi jadian? Padahal aku sudah menunjukkan rasa sukaku begitu banyak," kata Park Jun Hyeon.
"Sampai kapan pun, aku nggak akan mau beraamamu. Aku tahu tujuanmu adalah menghancurkanku. Kau nggak benar-benar tulus cinta," balas Bitna.
"Tapi Bitna, ku rasa kita emang jodoh. Aku menjadi utusan Korea Selatan dalam Olimpiade Fisika Internasional yang di selenggarakan di Indonesia," ucap Park Jun Hyeon.
Tika hanya diam saja mendengarkan perdebatan dengan bahasa asing ini. Park Jun Hyeon menggunakan Bahasa Inggris hanya ketika bicara dengan Tika.
"Olimpiade Fisika? Kau?" tanya Bitna setengah tak percaya. Sebelum ia meninggalkan Korea, siswi peringkat satu di sekolah itu sama sekali nggak tahu tentang olimpiade.
"Ya. Kau terlalu sibuk mengurusi Min Ji dan Chae Rin, jadi tidak mendengar beritanya," ucap Jun Hyeon.
"Dan tidak disangka, kau sudah susah payah pergi menjauh dariku. Tapi aku justru mendapatkan sekolah ini untuk karantina selama sepuluh hari," lanjut Jun Hyeon.
"Sepuluh hari? Kau menipuku, kan? Kenapa bisa kebetulan banget?" ucap Bitna masih tidak percaya.
"Kau boleh mencari informasinya sendiri. Tapi aku lulus murni dan tak tahu kalau kau ada di sini sebelumnya," ucap Jun Hyeon.
"Tidak! Aku nggak mau bertemu denganmu lagi!" Bitna berteriak histeris.
"Bitna, apa kita perlu pergi dari sini? Sepertinya eia sangat menganggumu," bisik Tika.
"Iya. Kita harus pergi dari sini," ucap Bitna sambil bersandar pada Tika. Kasihan sekali, gadis mungil asal Korea itu, tubuhnya sangat lemas dan wajahnya tampak pucat pasi.
"Hei, Bung. Aku nggak tahu siapa kamu, dan kenapa kamu ada di sini. Tapi kebun ini bukanlah tempat yang bisa didatangi oleh orang asing sepertimu," kata Tika pada Jun Hyeon.
Park Jun Hyeon hanya tertawa sinis mendengar ucapan cewek pendek dan jelek di matanya itu.
"Dan sepertinya, kalian bukanlah sepasang kekasih," lanjut Tika lagi.
"Mungkin Bitna bilang begitu, tapi aku nggak akan menyerah. Selama aku ada di sekolah ini, Bitna nggak akan lepas dari genggamanku," kata Jun Hyeon menantang Bitna dan Tika.
"Ah, Bitna. Sebelum kau pergi, seperti biasa aku akan memberimu hadiah kecil. Dibuka setelah sampai di kamarmu, ya," ucap Jun Hyeon sambil memberikan sebuah kotak kecil dengan pita merah di atasnya.
(Bersambung)