
"Cieee... Siapa tadi itu? Cakep banget..."
Ara menyambut Bitna dengan senyum lebar. Matanya yang indah terlihat semakin sipit, membentuk garis tipis.
"Apa, sih?"
Bitna sibuk membuka sepatu dan kaos kaki. Ia tidak mempedulikan kalimat Ara.
"Uh.. pura-pura nggak tahu!" Ara menyilangkan tangannya di depan perut.
"Cowok tadi itu ganteng banget, ya. Mirip idol. Tapi kok dia mau bela-belain jalan kaki ke kawasan kumuh begini. Kira-kira dia siapanya Kak Bitna, ya?"
Kali ini Ara pura-pura bicara dengan dirinya sendiri.
"Dia cuma teman sekelasku yang resek. Udah, deh. Nggak usah aneh-aneh," kata Bitna sambil berlalu masuk ke kamar.
"Bitna, kau sudah pulang? Bisa bantu Bibi memasak makan malam?"
Bibi muncul dari dapur yang berbau harum. Bajunya berlapis dengan celemek, di tangan kanannya terdapat sebuah pisau besar.
"Baik, Bi. Aku ganti baju dulu," seru Bitna dari dalam kamar.
"Ara, kau juga bantu Ibu cuci beras," seru bibi pada sang putri.
"Iyaaa..." balas Ara. Gadis itu menekan tombol igf pada remote TV, lalu menyusul sang ibu ke dapur.
"Gimana persiapanmu untuk berangkat?" tanya bibi sambil menyiang sayuran. Tangannya begitu cekatan mengiris lobak menjadi lembaran yang sangat tipis.
"Lancar, Bi. Aku tinggal ujian dan urus paspor aja," jawab Bitna. Mata gadis itu tampak berair karena bulir bawang yang sedang ia kupas.
"Oh.. Kau akan pulang lagi ke Korea, kan?" Suara bibi terdengar sangat lirih. Hampir tidak terdengar.
Bitna meletakkan pisau dan bawang. Ia lalu mendekati adik kandung ayahnya, dan memeluknya dari belakang.
"Bi, aku pasti kembali. Aku kan cuma satu tahun di sana," kata Bitna. Kali ini air matanya mengalir lebih deras, bukan karena bawang.
"Aku pasti nggak bisa memaafkan diriku sendiri, kalau sampai kau tak kembali lagi. Aku harus bilang apa pada mendiang kakak iparku?" Air mata bibi benar-benar tumpah.
Entah kenapa Bitna malah bersyukur. Ia merasakan kalau sang bibi tulus menyayanginya.
"Ibu tadi lihat? Kak Bitna diantar sama cowok ganteng," celetuk Ara, memecahkan momen haru.
"Oh ya? Bitna punya pacar?" ujar Bibi sambil mengangkat pisau tinggi-tinggi.
"Nggak, Bi. Dia cuma teman sekelasku," kata Bitna.
"Terus kenapa dia mengantar kakak sampai ke rumah. Temanku saja malas mendaki bukit untuk ke rumah kita?" kata Ara.
Bitna membesarkan matanya dan menggeregakkan gigi untuk menakuti Ara. Tapi remaja cilik itu hanya menjulurkan lidah pada sang kakak sambil tertawa jahil.
"Punya pacar itu kan bagus juga. Jadi kau nggak melulu berteman sama buku. Tapi dia bukan orang yang membullymu, kan?" kata bibi.
"Emm..." Bitnaa hanya nyengir kuda. Dia harus jawab apa? Wooil beberapa kali ikut membullynya. Tapi cowok itu juga banyak membantunya.
...🍎🍎🍎...
Ceklek!
"Kau sudah pulang?"
"Astaga!" Wooil hampir melompat keluar, ketika melihat sosok yang duduk tepat di sofa ruang tamu.
"Kok ekspresimu begitu? Memangnya ayahmu ini hantu?" tanya Tuan Seon.
"Habisnya Ayah ngapain duduk di situ. Gelap-gelap pula," ujar Wooil menggerutu.
"Ada undangan dari mana?"
Wooil meepaskan sepatunya dan meletakkannya di rak sepatu. Walau pun mereka punya asisten rumah tangga, tetapi cowok remaja itu terbiasa mandiri.
"Tidak ada undangan. Hanya kita berdua saja," jawab Tuan Seon.
Wooil mengerutkan kening, mendengar kalimat sang ayah.
"Ada apa sebenarnya? Aku salah apa lagi kali ini?" ucap Wooil penuh rasa curiga.
"Aku hanya ingin mengajakmu makan bersama. Memangnya aneh seorang ayah mengajak putranya makan bersama?" kata Tuan Seon sedikit kesal.
"O-oh, gitu.."
Satu jam kemudian...
Tik... Tik... Tik...
Denting jarum jam terdengar jelas di telinga Wooil. Suara gesekan sendok dan garpu, sesekali mendominasi suasana keheningan di sudut ruangan itu.
"Ini makan malam bersama apa makan sendirian di kutub selatan, sih? Dingin banget," batin Wooil.
Sedari tadi, cowok itu bahkan bisa menghitung berapa potong daging yang telah masuk ke dalam perutnya, saking heningnya meja makan di restoran mewah itu.
"Gimana kabarmu di sekolah?" kata Tuan Seon.
"Baik-baik aja," jawab Wooil datar.
"Ayah tahu, karya tulis kemarin bukan milikmu, kan?" ujar Tuan Wooil tanpa mengubah posisi duduknya. Pandangannya fokus pada hidangan di hadapannya.
Glek! Wooil menghentikan kunyahannya. Bola matanya bergerak perlagan, menatap pria paruh baya di hadapannya.
"Kali ini Ayah maafkan. Asalkan kau bisa mendapat peringkat satu di ujian berikutnya."
Wooil hanya menanggapi ucapan sang ayah dengan senyuman. Ia kini sudah biasa mendengar kalimat tersebut.
"Ayah belum menjawab pertanyaanku waktu itu." Wooil menagih janji sang ayah.
"Soal apa?"
Kali ini Tuan Seon memalingkan wajahnya ke arah sang putra. Ia meletakkan sendok dan garpu di piring.
"Kenapa Ayah menyimpan foto wanita itu? Ayah mengenal Bitna dan ibunya, kan?" tuduh Wooil dipenuhi rasa penasaran yang sangat tinggi.
"Kenapa Ayah harus cerita padamu, soal foto yang Ayah simpan?" ucap Tuan Seon datar.
"Ayah menghianati ibu?" suara Wooil mulai meninggi.
"Nggak."
"Terus kenapa? Apa hubungan Ayah dengan wanita itu?" desak Wooil.
"Wooil, tenanglah. Kau mulai menarik perhatian orang-orang," kata Tuan Seon.
Beberapa pasang mata dari meja lainnya melirik mereka dengan tatapan tajam.
"Kalau begitu berikan aku jawaban yang memuaskan." Cowok remaja itu terus mendesak sang ayah untuk berbicara.
"Ayah hanya merasa bertanggung jawab pada mereka berdua. Terlebih kepada putrinya yang kini menjadi yatim piatu," jawab Tuan Seon.
"Bertanggung jawab? Apa maksudnya itu?"
(Bersambung)