
Tap! Tap! Tap!
Bibi meletakkan piring-piring berisi beragam sarapan khas Korea di meja. Ada gyeran bbang kesukaan putra sulungnya. Gyeran mari dan chamchi gimbab, yang biasa untuk bekal kerja sang suami. Dan tentu saja oi jee dan sukju namul yang renyah dan rasa yang kuat sebagai pelengkapnya.
Oh iya, bukan orang Korea namanya kalau tidak makan nasi. Chamci gimbab saja masih belum cukup untuk sumber karbohidrat pagi ini.
Oleh karena itu, bibi pun menyiapkan kimchi bokkeumbap, menu sederhana yang disukai semua anggota keluarga, dengan ekstra telur dan wijen di atasnya.
Bau harum makanan menyeruak ke seluruh ruangan rumah kecil itu. Membuat siapa pun yang mencium baunya langsung merasa lapar.
"Chae Yeonwoo, Chae Ara, Seo Bitna... Ayo keluar... sarapan sudah siap," seru bibi dari ruang tengah.
"Duh.. Ibu... kenapa bangunkan aku pagi-pagi sekali, sih? Aku kan kuliah siang. Biarkan aku tidur sampai puas," protes Yeonwoo.
"Dasar anak nakal! Tinggal makan saja apa susahnya, sih? Habis makan kan bisa tidur lagi. Ibu sudah susah payah memasakkannya untukmu."
Seo Dami memukul punggung putranya.
"Aw... Aw... Iya.. Aku bakal makan. Berhenti memukuliku, deh," kata Yeonwoo.
"Ara, mana kakakmu?" Bibi mengalihkan pandangan pada putri bungsunya.
"Kakak udah pergi sekolah dari jam enam tadi," jawab Bitna sambil mencomot sepotong gyeran bbang.
"Cepat banget? Apa dia ada masalah lagi?" ucap bibi cemas.
"Kayaknya nggak, tuh. Wajah kakak happy aja. Mungkin karena kemarin telat, jadi datang lebih pagi," kata Livy.
"Jangan terlalu cemas Seo Dami. Mungkin Bitna hanya sedang sibuk menyiapkan keberangkatannya ke luar negeri," ujar paman Chae Do Hyuk.
"Semoga saja begitu. Tapi kenapa hatiku berkata lain, ya?" gumam bibi.
...🍎🍎🍎...
Seo Bitna meletakkan bunga white lily di bawah batang pohon. Air matanya mengalir di pipinya yang semakin tirus.
"Ibu, maafkan aku baru berkunjung sekarang," ucap Seo Bitna di tengah isak tangisnya.
"Aku... Aku..."
Bitna kesulitan melanjutkan kalimatnya..Semua bayangan tentang masa hidup sang ibu, memenuhi ruang hatinya.
Sruk! Gadis berseragam sekolah itu berlutut ke tanah. Ia gagal menunjukkan diri yang kuat dan tabah di depan makam sang ibu.
"Ibu aku rindu. Aku rindu sekali padamu."
Tubuh Bitna terguncang. Ia tak mampu membendung air matanya lagi. Semuanya tumpah.
"Maafkan aku yang tak berada di sisi ibu saat terakhir kali. Maaf aku..."
Remaja itu membongkar isi tasnya, dan mencari tisu. Ia menyesap hidungnya yang penuh cairan.
Hatinya terasa hancur. Ia rindu tapi tak dapat bertemu. Ia butuh pelukan hangat, tapi ibu tak lagi di sini.
Bitna benar-benar sendirian. Bitna tak lagi bisa melihat sang ibunda tercinta.
"Aku sayang padamu, Bu. Sampai kapan pun aku akan tetap merindukanmu."
"Dan... Ibu jangan marah, ya? Aku bukannya tidak suka pada sekolah pilihan Ibu. Tapi aku ingin berjuang menemukan ayah."
"Aku akan menemukan ayah dan membawanya le sini menemui Ibu. Aku janji."
"Tolong izinkan aku pergi sebentar. Aku pasti kembali lagi. Aku mohon."
Bitna menumpahkan semua isi hatinya yang bisa ia katakan.
Tidak ada seorang pun yang menjawabnya. Hanya desir angin dan gemeririk daun yang menemaninya dalam kesedihan.
"Ya ampun, sudah jam segini."
Bitna berdiri dan membersihkan roknya dari tanah yang menempel.
"Ibu, aku harus pergi ke sekolah. Nanti aku ke sini lagi. Sampai jumpa."
Langkah kaki gadis mungil itu begitu berat untuk meninggalkan rumah terakhir sang ibunda.
...🍎🍎🍎...
"Syukurlah, aku bisa sampai di halte tepat waktu."
Seo Bitna mempercepat langkahnya dua kali lipat. Ia harus sampai di sekolah sebelum gerbang ditutup.
Tentu saja, siswi peringkat satu di seluruh angkatan kelas satu itu tidak mau menerima hukuman lagi karena terlambat. Hal itu hanya membuat waktunya banyak terbuang sia-sia.
Tinggal satu belokan lagi, maka ia sampai di depan sekolah.
Bitna terus memacu langkahnya. Peluh yang mengalir tidak ia pedulikan.
Grep! Tiba-tiba seseorang menarik tas Bitna dari belakang. Dalam sekejap, remaja itu sudah diseret ke dalam gang sebuah mobil yang diparkir di tepi jalan.
"Jangan berusaha teriak atau menarik perhatian. Itu cuma membahayakan nyawamu," ucap seorang wanita yang mengenakan jaket, topi dan masker.
"Hmmmhhh..." Seo Bitna tidak dapat berbicara. Mulutnya disumpal oleh kain. Kaki dan tangannya diikat erat.
Mobil mewah berwarna hitam itu melaju, membawa Bitna menjauhi sekolah.
"Hmmmpppphhh..."
Bitna terus meronta, berusaha melepaskan diri dari jeratan mereka.
Di dalam mobil itu terdapat seorang supir, serta beberapa wanita yang sangat dikenali Bitna.
Sepuluh menit kemudian, mobil itu menghentikan gerakannya. Mereka sampai di sebuah jalanan sepi. Bitna tidak mengenali tempat itu.
Tercium aroma amis dan deburan ombak di belakang mereka. Angin sepoi-sepoi menyambut kedatangan mereka.
"Ayo keluar!" Wanita berjaket hitam tadi mendorong Bitna untuk keluar dari mobil.
Bitna tidak punya pilihan lain selain mengikutinya. Kakinya yang terikat, membuatnya harus beringsut turun dari mobil.
Crassshh...
"Hahaha... Rasakan ini! Itulah akibatnya kalau melawan kami."
Para wanita itu menumpahkan beragam sampah dan cairan busuk di sekujur tubuh gadis malang yang tak berdaya itu.
Kepala Bitna terasa berputar. Isi perutnya seakan mau keluar. Bau sampah itu membuatnya mual.
"Kau pikir kau akan selamat, setelah dibela sama dua cowok populer di sekolah?"
"Dasar cewek kegatelan! Ingat posisi di mana? Lau nggak pantas mendekati dua cowok itu!"
"Kau nggak bisa menghancurkan hubunganku dengan Oppa Song Gae Nam."
Para remaja cewek itu benar-benar merisak Bitna sepuasnya.
Tempat yang mereka pilih sangat sepi. Jauh dari keramaian. Deburan ombak laut yang bertemu daratan, membuat suara mereka tersamarkan.
Buagh! Salah seorang di antara mereka melayangkan sebuah pukulan di bahu Bitna.
"Jangan harap ada yang menemukanmu di sini. CCTV depan halte tadi tidak berfungsi, dan HPmu sudah dalam keadaan mati."
"Kau hanya perlu membusuk perlahan di sini, lalu menjadi santapan burung laut."
Dada Bitna bergemuruh. Penuh sesak. Emosinya sudah sampai ke ubun-ubun.
Tidak ada seorang pun yang bisa membullynya seperti ini. Tidak ada. Termasuk kalangan konglomerat sekali pun.
Setiap orang yang terlahir di dunia ini memiliki hak yang sama. Dan Bitna akan memperjuangkan haknya.
"Tunggu saja pembalasanku. Akan datang hari di mana kalian akan bersujud di depanku," ucap Bitna dalam hati.
(Bersambung)
Hei, jangan buru-buru pergi. Coba tebak nama-nama makanan dalam foto di atas. Semuanya sudah ku tulis di dalam cerita, lho. Ada yang bisa menebaknya dengan benar?