
“Nona Ah Yeong, ini mix frut cocktail pesanan Anda,” ujar salah seorang pelayan.
“Letakkan di situ. Lalu tolong balurkan sunblock di kaki dan lenganku. Panas sekali di sini,” ujar perempuan muda itu dengan nada ketus. Tidak ada ucapan terima kasih keluar dari bibirnya.
“Hei, lakukan dengan pelan! Kau mau membuat kulitku lecet terkena tanganmu yang kasar?” hardik wanita itu pada sang pelayan.
“Maaf, Nona,” ujar pelayan itu ketakutan.
“Sepertinya kamu sudah sembuh? Kau sudah bisa memarahi para pelayan seperti biasanya?” Seorang pria tampan berusia empat puluh tahunan, duduk di sebelah wanita muda yang mengenakan swimsuit itu.
“Ayah nggak lihat? Kulitku masih kering dan pucat. Bekas Lukaku juga belum hilang,” gerutu Ah Yeong.
“Semua luka itu kan kamu sendiri yang membuatnya, Min Ji. Jadi, kapan kamu kembali ke Korea dan masuk sekolah?” tanya pria yang banyak memiliki fans para gadis remaja tersebut.
“Jangan sebut aku dengan seperti itu. Namaku sekarang Ah Yeong, bukan Kim Min Ji,” omel Ah Yeong Alias Kim Min Ji. “Lagian, gimana aku kembali ke sekolah? Semua orang sudah mengira ak mati. Kim Min Ji telah meninggal,” lanjut wanita itu.
“Semua masalah ini kan karena kau juga. Ah Yeong itu hanya nama samaran agar kau bisa dirawat di rumah sakit dan keluar dari Korea,” kata Tuan Kim.
“Salahku? Ini semua karena Ayah yang terlambat menepis pemberitaan soal kematianku. Dan entah kenapa di waktu bersamaan, sepupuku juga meninggal. Semua orang jadi salah paham, kan?”
Udara hangat di pesisir pantai Kelingking Nusa Penida tersebut, membuat suasana Ayah dan Anak itu semakin memanas. Deburan ombak yang menggulung dari laut biru, sangat memanjakan telinga. Sesekali aktivitas para warga local, menjadi pusat perhatian yang menarik bagi para pelancong asing.
“Min Ji, kau memang jagonya menyalahkan orang lain, dalam setiap kesalahan yang kau buat,” ucap Aktor Korea Selatan itu dengan nada sangat rendah.
“Apa kau tahu? Ibumu sampai membatalkan fashion Shownya di Eropa demi menjagamu di rumah sakit,” Tuan Kim Hyun Seong menjeda kalimatnya sejenak, untuk mengirup udara pantai yang segar.
“Berhari-hari kamu melalui masa kritis di rumah sakit, tetapi ibumu tak pernah lelah. Ia selalu yakin bahwa kau akan membuka matamu lagi,” lanjut Tuan Kim.
“Itulah sebabnya aku tidak mau menikah dan punya anak. Mereka hanya menghalangi langkah kita untuk maju,” ujar Kim Min Ji tanpa rasa empati sedikit pun.
“Min Ji! Apa kau tidak bisa mengucapkan terima kasih sedikit saja? Kalau kau masih membantah Ayahmu ini, Ayah akan diam! Tapi kalau kau melawan pada ibumu, maka Ayah duluan yang akan menghadapimu!” marah Tuan Kim Hyun Seong.
Suara actor terkenal itu terdengar sangat melengking. Bahkan deburan ombak yang menghantam pantai pun, tidak mampu meredam emosinya yang semakin meluap.
“Sudah ku bilang, jangan panggil aku Min Ji! Namaku sekarang adalah Ah Yeong!” gadis yang beranjak dewasa itu sama sekali tidak menghiraukan ucapan sang ayah. Dia malah balik memaki pria itu.
“Ayah nggak mau tahu! Senin depan kau sudah harus masuk sekolah lagi. Ayah akan merilis pernyataan, kalau berita kematianmu kemarin adalah salah paham,” kata Tuan Kim.
“Aku tidak mau!” tolak Kim Min Ji mentah-mentah.
“Kau tidak akan bisa membantah Ayah kali ini. Ayah dan ibu sudah bosan memanjakanmu. Mulai hari senin kau akan masuk sekolah seperti biasa. Jangan membuat masalah lagi.”
Sejak Min Ji dinyatakan berhasil melewati masa kritis, maka sejak itu pula Tuan Kim dan istrinya bertekad, akan mengubah pola asuh mereka terhadap Kim Min Ji.
“Mau di taruh mana wajahku di sekolah nanti? Kalau harus sekolah juga, aku mau homescholling di Amerika saja,” pinta Min Ji.
“Lakukan apa yang Ayah minta. Jangan berdebat! Namamu tetap Kim Min Ji. Dan kau harus sekolah dengan baik, untuk bisa mengganti rugi saham yang telah kau berikan pada guru muda itu,” kata Tuan Kim tegas.
“Sialan! Heh, Tuan Kim Hyun Seong! Aku akan kabur kalau Anda terus memaksamu melakukannya,” seru Min Ji sambil membanting makanan dan minuman yang ada di atas meja. Para pelayan pun buru-buru membereskannya.
“Kau nggak akan bisa kabur dari Ayah! Karena kau pasti akan membutuhkan uang,” kata Tuan Kim dengan percaya diri.
“Kalau gitu, biarkan aku memilih sekolahku sendiri. Aku ingin sekolah regular di sini,” kata Min Ji kemudian.
“Hah? Kim Hyun Seong?”
Beberapa wisatawan local memandang ke arah sumber keributan. Bola mata mereka menangkap pemandangan indah, yakni sugar daddy dari Korea Selatan. Sang Aktor tampan yang sangat melegenda.
“Itu benera Kim Hyun Seong? Kenapa dia ada di Bali? Bukankah anaknya baru saja tewas bunuh diri?” para wisatawan tersebut saling berbisik.
...🍎🍎🍎...
Hari Minggu, saatnya kunjungan orang tua untuk bulan ini. Para wali murid pun memenuhi aula tempat pertemuan mereka dengan anak-anak. Tawa dan canda pun bergema di ruangan yang mampu menampung dua ribu orang itu.
Berbagai aneka menu makanan pun tumpah ruah di sana. Para orang tua berlomba-lomba membawakan makanan kesukaan sang anak. Mereka pun makan bersama sambil melepas rindu.
Tetapi sayangnya, tidak semua anak merasakan hal yang sama. Beberapa di antara mereka tetap menyendiri di dalam asrama. Salah satunya adalah Bitna. Sejak pagi, remaja yang hobi berkebun dan membaca itu mengurung diri di kamar. Menyibukkan diri dengan buku-buku yang ia pinjam di perpustakaan kemarin.
Sudah ada dua buku yang ia baca. Sebuah novel klasik karangan NH. Dini, penulis legendaris di Indonesia, dan buku astronomi berbahasa inggis. Akan tetapi wajahnya tetap sama, datar tanpa ekspresi.
“Bitna, jangan pundung terus, dong. Aku kan jadi kesepian,” kata Tika. “Mending kita ke kebun aja, yuk. Aku dengar rambutan belakang sudah berbuah,” ajak gadis melayu itu.
"Rambutan?"Bitna tidak menolak.
Kedua sahabat itu lalu berjalan-jalan di taman. Udara sejuk dan lembab membuat Bitna menghirup napas dalam-dalam. Ia sangat menyukai negara tropis ini.
“Hai Bitna, Apa kabar? Akhirnya kita bertemu lagi.” Seseorang menyapa Bitna.
“Ka-kamu? Kenapa kamu ada di sini?” Tubuh Bitna lemas seketika, melihat seseorang di hadapannya.
(Bersambung)