
"Ayah pasti kesepian di sini," kata Bitna.
"Nggak, kok. Ayah kan punya smartphone, pemberian dari Lim Chan," kata Seo Il Sang sambil memamerkan benda gepeng tersebut. Walau tidak baru, tetapi sangat membantu.
"Oh, ya? Memangnya Ayah bisa menggunakannya?" tanya Bitna sambil menyusun rantang di atas meja makan.
"Bisa, dong. Memangnya Ayahmu ini gaptek banget? Nggak, kan? Lagian Ayah punya teman baru di sini. Dia menemani Ayah hampir setiap hari.'
"Siapa? Oppa Lim Chan kan sudah pergi?" tanya Bitna penasaran.
"Tuh, orangnya datang," ucap Kapten Seo menunjuk ke arah pintu.
Trang!
Sendok dalam genggaman Bitna terjatuh ke lantai. Mulutnya ternganga. Ia benar-benar tidak menyangka, orang itu adalah teman ayahnya.
"Anyeong Bitna."
"Alva? Kok kau bisa di sini?" tanya Seo Bitna.
"Hmm... Pengen aja."
"Gimana caranya kau keluar asrama?"
"Aku kan spesial." Alva mengedipkan sebelah matanya, dan tertawa kecil.
"Spesial? Emang martabak?" protes Bitna.
"Aku ke sini untuk ketemu orang tuaku, sekalian saja bermain ke kamar kapten," ucap Alva semakin membuat Bitna penasaran.
"Orang tuamu dirawat di sini? Atau bekerja di sini?"
"Orang tuanya direktur utama rumah sakit ini," ucap Seo Il Sang.
"Apa? Kau ternyata chaebol* ya? Gak nyangka kalau orang tuamu yang punya rumah sakit ini."
*Chaebol: konglomerat
"Rumah sakit ini punya pemerintah. Ayahku hanya menjalankan tugas. Jadi aku bukan pria sendok perak," jawab Alva merendah.
*Pria sendok perak: ungkapan di Korea Selatan untuk anak yang kaya dari lahir
"Ayah senang, kamu tumbuh dengan baik. Dan memiliki teman yang juga baik," kata pria paruh baya tersebut.
"Siapa yang Ayah sebut teman baik? Dia itu jahat. Ayah jangan tertiou dengan tampang charming-nya," bantah Seo Bitna.
"Kau bilang aku jahat? Di bagian mananya? Apa memintamu menjadi pacarku itu perbuatan yang sangat jahat? Wah, aku sedih banget, nih," kata Alva sok tersakiti.
"Si Bangsat ini... Kenapa dia bicara begitu sih di depan Ayah," gumam Seo Bitna seraya menggeretakkan seluruh barisan giginya.
"Wek, mau bilang apa lagi, kamu?" balas Alva dengan isyarat mata.
Seo Il Sang melihat sang putri dengan haru. Ia tidak mengindahkan pertengkaran kedua remaja tersebut.
Matanya fokus pada sang remaja perempuan. Meski usianya saat ini sudah hampir memasuki enam belas tahun, tetapi tetapi pria itu tetap memandangnya sebagai gadis kecil yang harus ia lindungi seumur hidup.
"Sudah berapa banyak aku kehilangan momen indah bersamanya? Tamat SD, masuk SMP, hari pertama di SMA..." Seo Il Sang meneteskan air mata.
"Sin Mi Ah, lihatlah anak kita. Ia tumbuh dengan sangat baik. Kau pasti kesulitan membesarkannya sendirian selama ini," batin kapten kapal tersebut.
"Ayah kenapa melamun saja? Ayo di makan dong bekal yang aku bawa," rajuk Bitna. Gadis itu mengelak dari tatapan tajam Alva, yang terus membuat jantungnya hampir melompat keluar.
"Oh iya. Baiklah, akan Ayah makan. Sebaiknya dimulai dari mana, ya?"
Seo Il Sang pun mengikuti saran dari remaja tersebut. Ia mengambil daging ikan dengan sendok, lalu menambahkan nasi ke atasnya. Duh, nikmat sekali.
Dddrrrrrrttttt... Tiba-tiba HP ayah Bitna itu berdering. Seo Il Sang langsung mengangkatnya.
"Halo? Ah, Tuan Seon..." Pria itu meletakkan sendoknya untuk fokus pada telepon.
...
"Pengacara? Aku nggak punya," kata pria itu lagi.
...
"Jadi sidangnya akan dilaksanakan selasa minggu depan? Baiklah, saya akan bicarakan hal ini dengan dokter, agar dapat izin untuk keluar sebentar," ucap Seo Il Sang di telepon.
"Siapa yang menelepon, Yah? Sidang apa?" tanya Bitna penasaran. Kenapa ayahnya baru saja mulai sembuh, sudah ditimpa masalah lagi.
"Nanti akan Ayah ceritakan. Untuk sekarang, Ayah hanya ingin menghabiskan waktu dengan anakku," ucap Seo Il Sang.
Bitna tidak mengalihkan pandangannya dari sang ayah. Ia masih menantikan sebuah jawaban.
"Jangan khawatir, Nak. Ini bukan sesuatu yang buruk. Ayah janji tidak akan meninggalkanmu lagi," kata pria itu meyakinkan sang putri.
...🍎🍎🍎...
Seo Bitna berjalan di sisi Alva dengan hening. Hanya langkah sepatu mereka yang berbunyi di lorong sepi tersebut.
Jantung Bitna tidak berhenti berdebar sejak tadi. Jika orang lain mendengarnya, pasti tidak bisa membedakan, antara beduk buka puasa dengan suara jantungnya.
Sesekali ia mencuri pandang ke arah pria pemilik tubuh tinggi dan tegap tersebut. Rambutnya yang hitam, kontras sekali dengan kulitnya yang berwarna kuning langsat.
Hidungnya mancung, bibir tipis berwarna merah muda alami dan...
"Astaga! Stop Bitna. Kamu mikirin apa, sih?" jerit Bitna dalam hati.
"Kenapa Bitna? Kamu menyesal sudah menolakku?" ucap Alva tanpa menoleh.
"Hah?" Bitna menghentikan langkahnya. "Dari mana dia tahu, aku melihatnya?" kata Bitna dalam hati.
"Jangan terlalu dipikirkan. Waktunya masih panjang. Bisa saja ke depannya semakin dewasa, kita berubah pikiran. Soal ayahmu juga, berdoa saja semuanya baik-baik saja," kata Alva.
"Sejak kapan kamu menemani ayahku?" tanya Bitna.
"Entahlah, tiba-tiba saja jadi begitu. Entah kenapa obrolan kami selalu nyambung," ucap Alva.
Mereka kembali hening, hingga sampai di depan lift. Rasanya canggung sekali, menunggu lift terbuka.
Ting! Pintu lift terbuka.
Drap! Drap! Drap! Seorang pria berjalan terburu-buru keluar dari lift.
"Hah? Gawat!" gumam Alva dalam hati. Alva melihat suatu benda menyilaukan di balik jaket hitamnya yang tebal.
Remaja pria yang samar-samar mendengar isi telepon Seo Il Sang dan Tuan Kim tersebut langsung bergerak cepat.
"Alva, mau ke mana? Pintunya mau tertutup," seru Seo Bitna.
"Bitna, segeralah ke bawah, dan lapor ke keamanan. Ayahmu dalam bahaya," ujar Alva sambil berlari kembali ke arah ruang perawatan Ayah Bitna.
"Bahaya?"
(Bersambung)