
Dasar anak ini! Ngomongin Alva aja dengar, giliran di suruh kupas jagung malah nggak dengar," kata Devi.
"Eh, iya juga. Si Alva ke mana, ya? Dari tadi nggak ada kelihatan," kata anak-anak lain.
"Sebenarnya Alva sibuk apa, sih? Dari kemarin jarang nampak. Dia beneran sibuk apa cuma menghindariku?" kata Bitna dalam hati.
"Udah... Jangan sedih. Aku yakin Alva pasti datang, kok. Dia bukan tipe anak yang suka ilang-ilangan gitu..." kata Tika menenangkan Bitna.
"Anak-anak, lihat apa yang Bapak bawa."
Beberapa orang guru mata pelajaran lain juga ikut berkemah, tanpa pemberitahuan sebelumnya. Mereka menggunakan mobil pribadi milik kepala sekolah hingga pos satu.
Pak Adinata, lelaki pujaan Tika, datang membawa sekotak Endomeh goreng dan sekotak Endomeh kuah.
"Kyaaa... Pak Nata, keren. Ini menu wajib kalau lagi camping," seru anak-anak perempuan. Hanya Tika seorang yang diam. Gadis asal Sumatera itu tersipu melihat sang guru mengenakan pakaian casual seperti ini.
"Ehem! Pak Guru emang ganteng banget, ya?" kata Bitna di belakang Tika.
"Astaghfirullah! Ku pikir siapa tadi." Tika mengusap dadanya yang berdegup kencang karena kaget.
Bitna tertawa lepas. Ia teringat salah seorang temannya di Korea, yang juga menyukai sang guru. Siapa lagi kalau bukan Kim Min Ji.
Tetapi Tika berbeda. Dia tetap menjaga sopan santun di hadapan gurunya. Ia juga berlajar dan bersikap sama, seperti di depan guru-guru yang lain. Tidak sepatah kata pun terlontar dari mulutnya, kata-kata yang menggoda.
"Ayo, langsung di masak saja. Udah laper, nih," balas para murid laki-laki.
Beberapa jam pun berlalu. Kegiatan perkemahan tersebut berjalan dengan sangat seru. Cuaca juga sangat mendukung.
Rasi bintang di langit terlihat lebih jelas, karena udara yang bersih bebas polusi. Di tambah lagi tidak adanya polusi cahaya, dari lampu-lampu kota yang biasa mereka lihat.
Suasana yang temaram, semakin bertambah dingin. Tapi anak-anak dan para guru masih bercengkerama. Beberapa di antara mereka bermain gitar, dengan alunan musik yang ceria.
"Haaaah... Kalau lagi kayak gini, enaknya ngobrol sama Alva," gumam Bitna dalam hati.
"Hei, Bro. Aku udah lewatin apa aja, nih?"
"Alva! Lama banget sih, Lu datangnya? Kita udah pada mau tidur," seru anak-anak cowok.
"Sorry," kata Alva seraya mengambil posisi duduk di antara bebatuan landai.
"Gimana tesnya?" bisik Zay dan Ipung.
"Lancar," jawab Alva sambil mengacungkan jempol.
Sementara itu, seorang remaja perempuan yang melihat kehadiran Alva dari kejauhan, mengukir senyum di wajahnya. Walau pun mereka tidak saling bicara.
...πΊπΊπΊ...
Cirp... Cirp... Cirp...
Jemari tangan gadis itu membuka kunci layar HPnya, "Ah, masih pukul 2.30 dini hari rupanya. Pantas teman-teman masih nyenyak tidur," gumamnya.
Dengan sangat hati-hati, remaja itu keluar dari tenda. Tubuhnya yang mungil, dibalut dengan selimut tebal yang ia bawa.
Api unggun semalam telah padam. Menyisakan abu yang melayang ke udara, ketika angin berembus. Di bawah bayangan sinar rembulan, Bitna melihat seorang pria berdiri menghadap ke lembah.
"Alva?" ucap Bitna.
"Eh, kamu sudah bangun? Apa nggak bisa tidur?" ucap Alva.
"Aku tidur, kok. Tapi bangunnya kecepatan," kata Bitna.
"Oh..."
Keduanya sama-sama diam. Entah kenapa rasa canggung bergelayut di hati kedua remaja tersebut.
"Kenapa kamu terlambat kemarin?" tanya Bitna.
"Nih, kenang-kenangan dariku," Alva menyerahkan sebuah kado, yang hanya berukuran sebesar kotak korek api. Pria itu tidak mengindahkan pertanyaan Bitna sebelumnya.
"Apa ini?"
"Kalau ku kasih tahu, nggak kejutan dong namanya. Jangan dibuka sebelum sampai asrama."
"Hhmm...? Oke, deh. Makasih banyak, Al."
"Ahhh... Udaranya sejuk banget, ya. Bintang-bintangnya juga cantik," kata Alva.
"Iya... Tapi sayangnya di Korea susah mencari tempat untuk melihat bintang seperti ini. Harus keluar kota dulu," kata Bitna.
Alva menoleh ke arah gadis di sebelahnya, "Kamu berangkat dua hari lagi, ya?" ucapnya.
Bitna mengangguk.
"Selamat berjuang, ya. Kamu sudah jauh berbeda, dibandingkan saat baru datang dulu. Sekarang kamu jauh lebih bersinar dan percaya diri. Di Korea nanti kaku harus lebih berprestasi," ucap Alva.
Bitna tidak bisa membalas kata-kata Alva. Seluruh isi kepalanya buyar. "Akankah aku akan bertemu pria ini lagi, nanti?" pikir Bitna dalam hati.
"Hei, anak-anak! Ayo bangun. Kalian mau melihat matahari terbit, kan?" Beberapa guru keluar dari tenda dan mulai membangunkan anak-anak.
"Ah, sudah hampir subuh rupanya," gumam Alva sambil mengecek teman-temannya di dalam tenda.
Satu jam kemudian, para siswa berkumpul menghadap ke timur. Beberapa di antara mereka memegang mug berisi minuman sereal panas.
Perlahan-lahan, sinar keemasan pun muncul. Matahari menampakkan dirinya. Semuanya bersuka cita, menyambut matahari terbit di pagi ini. Akankah setiap pagi akan seindah ini?
(Bersambung)