
Plak!
Tuan Kim Hyunseung nenghadiahkan sebuah tamparan di pipi sang putri. Kelima jarinya membekas merah di wajah Min Ji yang putih.
"Lihat, apa yg sudah kau lakukan?" ucap Tuan Kim dengan oktaf paling tinggi.
"Ckk!" Min Ji berdecak lidah, berusaha tidak peduli.
"Mitra kita dari China membatalkan kontraknya. Lalu Fasion show ibumu gagal. Gimana caranya kau bertanggung jawab?" Marah Tuan Kim.
"Itu kan, karena Ayah nggak becus mengurus cewek miskin itu. Kenapa cuma dihukum ringan mengerjakan tugasku saja? Harusnya dia dikeluarkan dari sekolah!" jerit Min Ji
Plak! Satu lagi tamparan mendarat di pipi Min Ji.
"Apa kau tak ingat awal mula masalah ini? Video bully mu hampir saja tersebar luas."
"Dia itu cuma cewek kumuh! Tapi kenapa dia malah mendapatkan perhatian banyak orang! Kenapa dia merebut perhatian dua cowok populer di sekolah!" seru Min Ji tak puas.
"Harusnya dia tahu di mana tempatnya! Dasar gadis penggoda. Sama saja seperti ibunya." Min Ji terus berteriak menumpahkan kekesalannya.
"Masalah utama dalam dirimu itu hanya iri. Memangnya kau kurang puas dengan yang kau punya sekarang?" kata Tuan Kim.
"Iri? Aku iri dengan cewek kumuh itu? Nggak masuk akal."
"Aku cuma mengajarkan dia, agar tahu posisinya di mana!"
Kim Min Ji terus mengelak dari kesalahannya.
"Ayah akan membatalkan liburanmu ke Paris. Ayah akan memotong uang jajanmu. Jadi, nikmatah hukumanmu," kata Tuan Kim sebelum meninggalkan putrinya.
...🍎🍎🍎...
"Bitna, kau sudah masuk sekolah?" tanya beberapa teman.
"Iya," balas Bitna sambil tersenyum.
Hatinya bertanya-tanya, "Apa yang sudah terjadi kemarin? Kenapa teman yang biasanya cuek, kini malah menyapaku?" pikirnya bingung.
"Hei, Seo Bitna! Ini HPmu." Salah seorang teman sekelas memberikan HP milik Bitna yang tampak sedikit lecet.
"Gumawo. Kok HPku bisa sama kamu?" ujar Bitna.
"Ini dari Wooil, kok. Tadi dia menitipkannya padaku," kata cewek itu.
"Wooil?" Bitna tersenyum kecil. "Dasar anak itu."
Bitna mempercepat langkahnya menuju ke taman sekolah. Katanya Wooil ada di sana.
"Hei," sapa Bitna.
"Hmm?" Wooil memutar bola matanya. Cowok itu bingung melihat Bitna datang mencarinya.
"Ini untukmu. Makasih, ya." Bitna menyodorkan sebungkus gimbab segitiga pada Wooil.
"Gimbab?" Wooil tertawa.
"Iya. Kenapa? Kau nggak bisa memakannya karena terlalu murahan?" tanya Bitna.
"Sini! Kebetulan aku lapar." Wooil merebut gimbab itu dari tangan Bitna.
"Tapi kau masih salah sangka padaku. Aku cuma nggak mau kau hancur di tangan orang lain. Karena aku lebih puas melihatmu hancur dan pergi dari sini, dengan tanganku sendiri," kata Wooil tanpa menunggu pertanyaan Bitna.
"Iya, aku tahu, kok. Kau kan orang paling jahat padaku," ucap Bitna. Gadis itu duduk di samping Wooil yang sibuk mengunyah gimbab.
"Kenapa malah tersenyum, sih? Aku ini berusaha mengusirmu dari Korea. Kau nggak takut atau marah?" ucap Wooil sebal.
"Iya... Kau kan memang nggak suka denganku dari dulu. Tapi masa aku nggak boleh senyum? Takut naksir, ya?" goda Bitna.
"Ckk... Apaan, sih? Mana mungkin aku bakalan suka sama kucing kampung kayak kamu," bantah Wooil.
"Pokoknya anggap saja aku udah menolongmu. Tapi kau harus menepati janjimu, untuk pergi dari sekolah ini," ancam Wooil.
"Iya deh... Aku akan menuruti permintaanmu sebagai balas budi," kata Bitna santai. Ia berusaha menahan tawa, melihat Seon Wooil mengomel sendirian.
"Kau harus lulus. Nggak boleh nggak. Kau belum menghubungi guru privat yang kutawarkan, kan?" tanya Wooil.
"Ah, aku lupa. Nanti aku hubungi, deh. Makasih, ya," kata Bitna lagi.
"Udah pergi sana! Aku nggak mau digosipkan denganmu," usir Wooil.
"Duh, cerewet banget, sih? Aku pergi, nih," gerutu Bitna.
Bitna berjalan kembali ke kelas, meningalkan Awoo seorang diri.
"Huh, dasar tsundere. Apa susahnya sih mengaku aja jadi orang baik," gumam Bitna berkali-kali.
Langkah kakinya begitu ringan, meski luka di sekujur tubuhnya masih belum sembuh.
Tep!
Bitna memperlambat langkahnya. Entah kenapa ia menghindari pandangan dari Park Jun Hyeon yang menunggunya di depan kelas.
"Bitna, gimana kabarmu?" tanya Jun Hyeon.
"Baik," jawab Bitna singkat. Gadis itu masih mengalihkan pandangannya dari cowok tampan di depannya.
"Kenapa? Kau terlihat masih takut denganku?" tanya Jun Hyeon.
"Aku..."
Bitna menggantung ucapannya, "Apa ku katakan saja, aku melihatnya berciuman di ruang penyiaran itu, ya?" pikirnya.
"Tentu saja Bitna takut padamu, kalau setiap hari kau terus menempel padanya seperti itu." Go Eunjo tiba-tiba datang dan menyelamatkan Bitna.
"Memangnya hal itu menakutkan?" protes Jun Hyeon.
"Menurut beberapa orang iya, sikapmu cukup menakutkan. Tapi kalau kau mau mendekatiku, aku nggak bakal nolak, kok," kata Eunjo.
"Ih, apaan sih? Dasar cewek gila." Jun Hyeon memutar badannya lalu pergi meninggalkan para gadis.
"Trims Eunjo. Kalau nggak ada kau, aku bisa pingsan tadi," ucap Bitna.
"Aku belum menemukan alasan di balik sikapnya itu. Tapi aku merasa, dia cowok yang mengerikan. Kau sebaiknya hati-hati aja," kata Eunjo memberi peringatan.
"Tentu."
Ggrrroowwlllll...
"Eh, itu bunyi perutmu?"
Eunjo tak bisa menahan tawa, mendengar raungan dari perut Bitna yang begitu nyaring.
"Hei.. Kau jangan bikin aku malu, dong."
"Habisnya... Emangnya kau belum makan?" tanya Eunjo.
"Belum. Gimbabku tadi direbut kucing, sebelum aku sempat makan," kata Bitna.
"Hah? Apa? Ada-ada aja. Nanti aku traktir nasi bulgogi, deh," ujar Eunjo.
"Hah... Jadi Gimbab yang diberikan tadi itu menu sarapannya Bitna? Duh, kenapa aku malah memakannya, sih?" gumam Wooil yang baru aja muncul di depan kelas.
"Nanti aku diam-diam harus memberikan sesuatu yang enak padanya," kata Wooil.
"Tunggu! Tadi dia bilang apa? Kucing merebut gimbabnya? Jadi maksudnya aku kucing?" kesal Wooil. Ia baru menyadari ucapan Bitna tadi.
(Bersambung)