Metamorphosis

Metamorphosis
S.2 Bab 43 - Ayah dan Ibu



"Ini beneran Ayah?" bisik Bitna dengan sangat lirih. Suaranya tercekat di tenggorokan.


"Memangnya Ayah kamu punya kembaran?" tawa Seon Il Sang.


Hati Kyara meleleh melihat gurat bahagia di wajah sang ayah. Ia tak menyangka benar-benar bisa melihatnya sosok pria itu lagi. Ruang rindu di relung hatinya telah lama hampa.


Tetapi di saat yang bersamaan, dada Bitna juga merasa tersayat-sayat. Gambaran sosok kapten yang gagah dan tegas, serta disegani banyak orang, telah menghilang dari Kapten Seo Il Sang.


Seo Bitna hanya melihat tubuhnya yang ringkih dan rapuh. Begitu kurus hanya kulit membungkus tulang. Rambut yang putih dan tidak terawat. Serta kaki yang tidak lagi berfungsi dengan baik.


Gadis itu menumpahkan kesedihannya, di dada pria yang telah lama menghilang tersebut.


"Jangan menangi, Bitna. Ayah tidak apa-apa. Setelah dirawat secara intensif di sini, Ayah akan sembuh kembali." Seo Il Sang mengusap rambut putrinya yang terurai panjang.


Seo Bitna tidak menyahut. Bukan karena ia enggan. Tetapi karena lidahnya tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Perasaannya campur aduk. Seakan-akan semua bebannya terangkat, bagai debu terhempas oleh angin.


"Nak, kau sudah kelas berapa sekarang? Kenapa bisa ada di Indonesia?" tanya mantan kapten kapal tersebut.


"Aku sudah kelas dua SMA, Yah. Aku mengikuti pertukaran pelajar demi mencari Ayah," jawab Seo Bitna di sela-sela isak tangisnya.


Seo Il Sang menggigit bibirnya. Ia tidak mampu menahan air matanya agar tidak tumpah. "Aku sudah pergi terlalu lama rupanya," bisik sang kapten.


Pria itu mengenggam tangan Bitna, lalu menatap matanya, "Selama ini kau pasti kesulitan karena telah berjuang seorang diri. Tanpa ayah maupun ibumu. Kamu anak yang tegar rupanya," ucap Seo Il Sang.


Bitna membesarkan matanya, menatap sang ayah selama beberapa detik berikutnya, "Ayah sudah tahu tentang Ibu?" tanya gadis mungil itu dengan suara bergetar.


Seo Il Sang mengangguk, "Pertama kali aku bertemu dengannya, yang pertama kali ku tanyakan adalah kabarmu dan ibumu, Nak."


Seo Bitna mengangkat kepalanya. Ia baru menyadari ada orang lain di ruangan tersebut selain dirinya, sang ayah dan Miss Ivanka.


"Anyeong, Bitna." Pria muda dengan pakaian casual tersebut tersenyum manis pada Bitna.


Gadis itu menatapnya lekat-lekat. Sejuta pertanyaan berputar di kepalanya. Tetapi tidak satu pun yang terlontar keluar dari bibirnya.


"Kenapa? Ada yang salah denganku?" tanya pemuda tersebut.


"Ah, maaf. Ku kira tadi Anda temanku," jawab Bitna sedikit malu.


"Maksudmu Seon Wooil?" tanyanya sambil melempar senyum.


"Bagaimana Anda bisa menebaknya dengan tepat?" Kelopak mata Bitna kembali terbuka lebar.


"Karena saya kakak lelakinya. Namaku Seon Lim Chan. Aku adalah putra pertama dari Tuan Seon Kang Nam." Pria itu memperkenalkan dirinya pada Bitna.


"Salam kenal..." Bitna menggantung kalimatnya.


"Kau bisa memanggilku Oppa." Lim Chan tertawa kecil.


"Hah? O-oppa.." gumam Bitna dengan wajah dan telinga memerah bak delima.


"Ayah senang, kau ternyata tumbuh menjadi gadis yang ceria dan memiliki banyak teman, Nak," ucap Seon Il Sang tersenyum bahagia.


Bitna membalas senyuman ayahnya dengan tawa berurai air mata. "Ayah, aku sangat merindukan Ibu. Aku ingin kita berkumpul bersama seperti dulu," ucapnya.


"Ayah juga merindukannya. Tetapi ia pasti bahagia di sana, telah berhasil merawat gadis kecil kami, menjadi gadis yang pintar mandiri seperti ini." Seo Il Sang kembali mengusap rambut putrinya.


...🍎🍎🍎...


"Aku pulang..."


"Hei, Bitna. Lama sekali kalian keluar? Pasti seru, ya?" sambut Tika yang tengah menyetrika pakaian di ruang belajar bersama.


Bitna tidak menjawab. Ia hanya meletakkan beberapa bungkus makanan di samping teman sekamarnya.


"Loh, kamu kenapa? Kok menangis?" Tika baru menyadari kalau mata Seo Bitna bengkak dan air mata terurai di pipinya.


"Hueeee... Aku baru saja bertemu Ayahku..." tangis Bitna pecah di pelukan Tika.


"Duh.. Yang sabar, ya." Tika mengusap punggung Bitna untuk menenangkannya.


"Eh, kau bilang apa? Kau bertemu ayahmu?" teriak Tika beberapa detik kemudian. Gadis melayu itu melepaskan pelukannya dari tubuh Bitna.


Seo Bitna mengangguk pelan, "Akhirnya aku menemukannya... Hueee... Ayahku ditemukan selamat..."


"Hueeeee... Selamat, ya. Aku turut bahagia mendengarnya," kata Tika.


Brak!


"Ada apa?"


Anak-anak di kamar lain di asrama mawar itu pada keluar dari kamar. Mereka semua terkejut mendengar keributan di luar, serta melihat Tika dan Bitna menangis bersama.


Sepuluh menit kemudian...


"Syukurlah kalau begitu. Kami semua sangat senang mendengarnya," kata Julia setelah mendengarkan cerita dari Bitna.


"Terima kasih... Sroottt..." Seo Bitna menghabiskan sekotak tisu milik Yumna, untuk mengelap lendir yang berkumpul di hidungnya.


"Jadi Kak Bitna bakalan balik ke Korea?" tanya Afie.


"Nggak, dong. Aku tetap sekolah di sini sampai selesai ujian kenaikan kelas nanti. Dan ayahku juga masih harus dirawat untuk memulihkan kondisinya," jawab Bitna.


"Oh ya, kalian belum makan malam, kan? Ini aku bawakan pizza untuk makan bersama. Miss Ivanka yang membelikannya untuk kita," kata Seo Bitna.


"Martabak? Tapi kok baunya..." Julia dan Tika yang curiga, langsung membuka plastik dan kotak makanan tersebut.


"Ini sih martabak mesir, alias martabak asin. Bukan pizza," seru Tika dan Julia.


"Hwweee.. Padahal aku tadi memesan dua loyang pizza, lho," seru Bitna. "Alva sialan, pasti dia sengaja menukarnya."


"Sudahlah Bitna, martabak juga enak, kok." Hibur Tika.


Sementara di Korea Selatan...


"Apa? Kapten Seo Il Sang ditemukan hidup? Bagaimana bisa? Bukankah semua awak kapal telah tewas? Bisa berbahaya kalau sempat pria itu membuka semua kedok kita. Cepat bunuh dia."


(Bersambung)