Metamorphosis

Metamorphosis
S.2 Bab 11 - Cieee... Perhatian



"Bitna, menurutmu ayahku masih hidup nggak, ya?" ujar Bitna sambil memeluk bantal guling.


Tubuhnya yang mungil berselindung di bawah selimut tebal. Hujan yang baru saja mengguyur Kota Bogor, membuat udara malam ini bagai musim salju di Korea.


"Aku berharap, ayahmu masih hidup. Lalu kalian bisa berkumpul lagi," jawab Tika sambil memandang kosong ke depan. Kedua tangannya memegang cangkir berisi susu sereal yang masih mengepul panas.


Bitna menatap Tika, "Semoga saja. Tapi apa itu mungkin? Sudah selama ini ia menghilang tanpa kabar," ujarnya.


"Jika Tuhan berkehendak, tidak ada yang tidak mungkin," kata Tika. "Ah, bukan maksudku menonjolkan keyakinanku. Tapi aku berharap ending yang baik untuk kalian berdua."


"Aku paham, kok. Aku juga percaya Tuhan, walau pun dengan perspektif yang berbeda denganmu," kata Bitna.


Gadis Korea itu bersyukur, ia kini tinggal di tempat yang menjunjung tinggi toleransi. Meskipun ia berbeda dari yang lain.


"Aku malu padamu, Bitna. Kau orang yang kuat," kata Tika kemudian.


"Hmm?" Bitna tak mengerti.


"Ya, di tengah rasa sepimu tanpa kehadiran ayah dan ibu, kau tetap berjuang yang terbaik. Tanpa rasa takut, kau mendatangi negeri orang sendirian demi ayahmu," kata Tika.


Remaja lima belas tahun itu berhenti sejenak. Ia menyeruput susu serealnya yang mulai sejuk.


"Aku hanyalah seorang pengecut. Aku melarikan diri dari rasa sedih dengan belajar. Aku hanya takut menghadapi kenyataan, kalau sebenarnya ayahku telah tiada," lanjut Tika.


"Menurutku itu juga hebat, kok. Kamu mengisi waktu dengan kegiatan positif," ujar Bitna.


"Bitna, kau tahu? Aku hanya menceritakan hal ini pada beberapa orang," kata Tika.


Bitna penasaran dengan apa yang akan diceritakan Tika.


"Aku sangat menyesal tidak melihat saat-saat terakhir ayahku, sebelum ia pergi. Berkali-kali ia memintaku pulang. Tetapi aku terlalu sibuk mengejar prestasi."


Suara Tika terdengar gemetar. Entah dari mana datangnya, tiba-tiba hidungnya penuh oleh cairan kental. Matanya pun mulai berair.


"Aku tak pernah menyangka, kalau ayah pergi secepat itu. Dia selalu mengatakan rindu padaku., tapi aku hanya membalasnya dengan senyuman," lanjut Tika setelah mengelap hidungnya.


"Kini, aku yang sangat merindukannya, sampai mau mati. Karena aku tak bisa melihatnya lagi. Kini hanya ibu dan adikku seorang yang menjadi pelipur lara," ujar Tika menyudahi ceritanya.


"Aku nggak menyangka, kalau nasib kita hampir sama," bisik Bitna.


"Nggak. Nasib kita nggak sama. Aku sangat berharap ayahmu masih hidup," kata Tika tulus.


"Dan kamu jangan pernah merasa sendirian. Kita di sini adalah saudara. Kau boleh memanggil ibuku dengan sebutan ibu juga. Suatu hari aku akan mengenalkanmu padanya," lanjut Tika.


Bitna meraih tisu beberapa lembar. Ia mengelap hidung dan matanya yang basah.


"Ternyata benar kata orang, Indonesia itu negeri yang sangat ramah. Padahal aku orang asing di sini. Tapi kalian memperlakukanku seperti saudara kandung," kata Tika.


Tok! Tok! Tok!


"Permisi anak-anak. Ini Pak Jamal mau melakukan pemeriksaan." Terdengar suara pria di luar asrama mawar.


"Hah? Pak Jamal?" Tika langsung melempar selimutnya dan berganti pakaian formal.


Bitna pun demikian, meski ia tidak tahu siapa itu Pak Jamal, dia tetap mengikuti gerakan Tika.


"Nggak tahu juga. Pokoknya hadapi aja dulu," kata Tika.


*Sekedar informasi, Pak Jamal adalah petugas patroli malam yang paling garang. Dia bahkan rumornya, bisa mendengar suara para pelajar yang sembunyi-sembunyi menonton drama tengah malam. Jika ketahuan melanggar aturan, hukumannya gak segan-segan, yakni menjadi petugas kebersihan sekolah selama tiga hari.


Tak berapa lama kemudian, para penghuni asrama mawar pun membukakan pintu untuk Pak Jamal.


"Hah! Al..."


"Ssstttt... Jangan banyak ngomong. Biarkan aku masuk sebentar," kata pria bertopi dan berjaket kuning itu.


Cklak! Pintu asrama mawar pun kembali ditutup.


Plak! Plak!


"Apa-apaan kau, Alva? Kenapa menyusup ke asrama kami? Kalau ketahuan kita bisa digantung Pak Bot-maksudku Pak Hamid," omel Tika dan Julia.


"Hei, jangan marah-marah dulu. Aku bawain ini untuk kalian, terutama Bitna."


Alva membuka jaketnya dan mengeluarkan sekantung plastik penuh makanan.


"Wah, ada seblak dan sekoteng," seru Afie dan Citra.


"Tumben banget beli beginian? Biasanya juga nggak pernah?" ujar Julia.


"Katanya kan kalau cewek lagi sedih, makannya seblak. Terus karena hujan, aku beli sekoteng aja sekalian biar anget," kata Alva.


Rambut dan punggung cowok itu terlihat basah. Tetapi tentu saja tidak melunturkan ketampanannya, justru damagenya semakin bertambah.


"Siapa tahu dengan makan ini, sedihnya Bitna bakal hilang," kata Alva.


"Cieee... Ada yang perhatian, nih," sorak Citra, Alvi dan Yumna.


"Kamu pikir Bitna cewek Sunda? Nggak semua cewek sedih suka makan seblak," kata Julia.


"Gwaenchanayo... Gumawo, Alva. Aku bakal cobain makananya," kata Bitna sambil tersenyum manis.


"Ya udah, cepetan balik. Kami nggak mau besok di jemur gara-gara ada penyusup datang ke sini," usir Tika dan Julia.


"Iya... Iya... Aku balik, nih," kata Alva sambil memasang kembali jaketnya.


"Anak-anak, kenapa lampu kalian masih menyala? Jangan berisik. Ini sudah melewati jam malam," petugas patroli asrama pun memberikan peringatan.


Waduh, gimana caranya Alva balik ke asrama putra?


(Bersambung)


Halo teman-teman... Maaf kalau episode kali ini terlalu serius dan banyak typo.


Author ngetik part ini, terutama cerita ayahnya Tika dengan mata berkaca-kaca. Because, Tika is Anthiq. C. Semoga kisah hidup kalian nggak kayak aku, ya.


Enjoy reading...