
Beberapa hari berlalu. Kedaan di SMA Astana Nagara pun kembali damai dan tenang. Penjagaan yang ketat dilakukan untuk menjaga peserta olimpiade agar tidak terganggu lagi oleh para siswa local. Sementara Bitna mulai disibukkan dengan ulangan-ulangan harian, yang mulai meneror para siswa.
“Guys, hasil ulangan Matematika dan Biologi udah keluar,” seru Zay dan Ipung.
“Beneran? Gimana nilai, Lu?” tanya anak-anak di kelas.
“Udah pasti dipajang di papan pengumuman, dong?” kata Zay bangga.
“Halah. Kayak gitu kok malah bangga?” seru Flora dan Imelda.
“Emangnya kalau dipajang di papan pengumuman kenapa?” tanya Bitna tidak mengerti.
“Itu artinya nilai dia di bawah standar yang ditentukan. Dan harus remedial atau mengulang,” jelas Flora.
“Oh… Maksudnya merah merona gitu?” tanya Bitna dengan wajah polos.
“Yo’i. Bu Elya kan sayang banget sama gue. Jadi sering dapat Bunga mawar gitu, deh,” kata Zay bangga.
*Bu Elya: guru Biologi/wali kelas mereka.
“Zay, kebanyakan mempelajari rumus di kelas IPA, bikin otak Lu geser, ya? Harusnya Lu bangga kalau nilai ulangannya bagus,” ujar Ipung.
“Geser sih enggak. Cuma kayaknya udah hangus aja, mesti ganti mesin,” kata Zay sambil terkekeh.
“Lagian, kan nggak semua siswa bisa ditempel namanya di papan. Lumayan… famous sehari, bakal dicariin adek-adek kelas,” lanjut siswa yang bernama asli zaenudin itu.
“Kayaknya Lu beneran sengklek, deh,” ujar Alva sambil merangkul bahu Zay. “Ikut aku, yuk. Ambil buku paket sejarah di perpustakaan,” ajak Alva.
Ekor mata Bitna mengikuti gerak gerik remaja cowok yang berpangkat ketua kelas itu. Bitna masih menyimpan banyak misteri dari sosok pria yang berulang kali menolongnya tersebut.
“Dia sedikit mirip dengan Seon Wooil. Sangat pintar, tapi penuh misteri,” batin Bitna.
“Ehem. Uhuk-uhuk!” Flora pura-pura batuk. “Tahu deh, yang lagi kasmaran itu. Tapi nggak usah diawasin terus gitu, dong. Cuma ke perpus bentar, kok,” lanjut Flora.
“Hah, apa?” Otak Bitna loading cukup lama untuk mencerna ucapan Flora. “Heee… apaan, sih? Aku beneran nggak ada apa-apa kok sama dia,” ujar Bitna kemudian.
“Aku kenapa juga memikirkan Alva dan Seon Wooil, ya? Duh, kayaknya aku udah gila,” gumam Bitna dalam hati.
“Telat ah, responnya,” balas Flora.
“Eh, btw katanya kamu dan Alva bebas ulangan matematika, ya? Kok bisa?” tanya beberapa teman yang lain.
“Kata Pak Guru, rata-rata nilai mereka sudah mencukupi walau pun nggak ikut ulangan,” jawab Tika.
“Heeee? Beneran? Enak banget?” ujar mereka.
“Tik, kayaknya posisimu diperingkat kelas bakal terancam, nih,” celetuk Sundari.
“Selow. Rezeki udah ada yang mengatur,” kata Tika tidak terprovokasi. “Mana tahu nanti aku malah menggantikan posisi Alva sebagai juara umum, kan?” lanjut cewek mungil itu.
“Nggak kok, teman-teman. Beberapa nilai ulanganku rendah. Dan aku sudah berulang kali dipanggil guru untuk memperbaikinya,” ungkap Bitna dengan jujur.
“Loh, kok bisa?” tanya Flora.
“Aku juga nggak tahu. Mungkin kendala Bahasa. Ada banyak yang belum aku mengerti,” ujar Bitna sambil melempar pandangannya keluar kelas.
Hamparan langit biru yang membentang luas, membuat Bitna teringat pada sosok sang ayah yang menghilang di lautan.
“Sudah berapa lama aku di Indonesia? Tetapi masih belum menemukan kabar tentang ayah. Apa aku bisa melihatnya kembali sebelum pulang ke Korea?” bisiknya dalam hati.
...🍎🍎🍎...
“Bitna, ada yang mau bertemu denganmu tuh di luar kelas,” ucap Alva yang membawa setumpuk buku.
“Siapa?” tanya Bitna. Rasanya ia tidak memiliki janji dengan siapa pun.
“Tuh,” Alva menunjuk ke arah pria yang sedang berdiri di depan ruang kelas. “Perlu aku temani?” tanya Alva.
“Nggak perlu. Gumawo, Al,” balas Bitna. Cewek itu lalu berlajan keluar kelas dan menemui remaja cowok yang ditunjuk Alva tadi.
“Besok aku akan pergi dari sini,” kata pria itu.
“Oh, syukurlah. Aku senang kamu cepat angkat kaki dari sini,” kata Bitna ketus.
“Aku akui, kamu berhasil di sini. Prestasimu bagus, mendapat teman-teman yang baik, dan…” Park Jun Hyeon menjeda kalimatnya sejenak. Matanya melirik ke arah Alva Arkanza, yang menajdi rivalnya beberapa hari ini. “Dan laki-laki yang melindungimu,” lanjutnya.
“Jadi kamu mengakui kekalahanmu?” tanya Bitna.
“Nggak. Aku pasti akan menghancurkanmu dengan cara lain suatu hari nanti,” ucap Park Jun Hyeon sambil tersenyum licik.
“Aku datang ke sini cuma mau bertanya, apakah kamu sudah membuka hadiah kecil dariku kemarin?” tanya Jun Hyeon.
“Hadiah?” Bitna berpikir sejenak. “Ah, hadiah di kebun itu!” gumam Bitna kemudian.
“Sepertinya kamu belum membukanya, ya. Padahal itu sangat special dariku,” ucap Jun Hyeon memasang wajah kecewa.
“Maaf, aku lupa,” jawab Bitna asal.
“Ku harap kamu membukanya. Setelah itu terserah mau kau apain. Dibuang juga boleh,” kata Jun Hyeon.
Bitna jadi penasaran. Kira-kira isinya apa, ya?
“Kalau begitu, selamat tinggal rivalku. Aku pasti akan mencarimu lagi nanti. Urusan kita masih belum selesai,” ujar Park Jun Hyeon berpamitan.
“Semoga kau menang kali ini,” balas Bitna.
“Huh? Aku nggak butuh doa darimu,” sahut Jun Hyeon ketus. Pemuda asal Korea itu akhirnya menghilang di balik tangga, bersama salah seorang panitia lomba yang menemaninya.
“Al… duduk, dong. Bitna nggak kenapa-kenapa, kok,” ucap Ipung yang sedari tadi mengawasi Alva. Ketua kelas mereka itu terlihat gelisah sambil terus memandang Bitna yang sedang berbincang.
“Hei kecebong, aku suka pada Bitna, kan?” celetuk Zay.
“Ngomong apa, sih? Aku cuma mengawasi mereka. Jangan sampai cowok gila itu membuat Bitna celaka lagi,” Bantah Alva.
“Peraturan nomor satu orang jatuh cinta. Selalu menyangkal perkataan orang, tapi mengawasi gebetannya di mana pun dan kapan pun,” ucap Zay dengan lantang.
“Duh, resek banget sih, Lu.” Alva menimpuk Zay menggunakan buku sejarah yang tebal.
“Kalau suka tuh langsung tembak, jangan didiemin. Disambar orang baru nyahok, Lu,” ujar Zay nggak jera juga.
...🍎🍎🍎...
Malam hari di asrama mawar. Seo Bitna membongkar semua isi laci dan lemarinya. Semua benda miliknya bertebaran di atas tempat tidur.
“Lagi cari apa sih, say?” tanya Tika sambil memegang buku catatan kimia. Besok kelas mereka mendapat giliran ulangan kimia.
“Sorry kamarnya berantakan. Nanti aku beresin lagi, kok,” jawab Bitna tanpa menoleh.
“Hei, lihat sini dulu, cantik. Aku tanya, kamu lagi cari apa? barangkali bisa ku bantu?” tanya Tika gemes.
Bitna membalikkan badannya, “Itu… Aku lagi cari hadiah kecil yang diberikan Jun kemarin. Aku lupa meletakkannya di mana?” kata Bitna sambil menggaruk-garuk kepalanya.
“Maksudmu ini?” Tika menunjuk sebuah benda kecil berpita merah di atas meja.
“Astaga! Iya ini yang kumaksud. Kamu menemukannya di mana?” seru Bitna kegirangan.
“Emang udah ada di sini dari beberapa hari yang lalu, kok,” jawab Tika.
“Hehehe… Gitu, ya?” ujar Bitna malu. Ia langsung membuka hadiah dari Jun Hyeon tersebut.
“I-ini, kan…?”
Sebuah kalung indah dengan liontin berbentuk bintang. Sangat mirip dengan kalung pemberian dari ayahnya dulu. Sayangnya kalung tersebut putus dan hilang ketika insiden yang menimpa Park Jun Hyeon dulu. Bitna sudah lelah mencarinya dibantu panitia lomba, tetapi tidak ketemu juga.
“Dasar, cowok gila itu. Dia mau mempermainkan aku?” Tanpa disadari air mata Bitna meleleh.
(Bersambung)