Metamorphosis

Metamorphosis
S.2 Bab 10 - Kapal Hantu



"Bitna! Hosshh.. Hoshh..." Tika datang sambil berlari dan napas ngos-ngosan.


"Ada apa?" tanya mereka semua.


"Ada pemeriksaan rutin?" tanya Julia panik.


Tika menggeleng, "Katanya kapal dagang Korea yang hilang lima tahun lalu udah kemu. Hosh... Itu kapal ayahmu, bukan?" kata Tika dengan napas masih tidak teratur.


"Beneran? Itu kapal ayahku!" seru Bitna. "Di mana kau mendengarnya?"


"Ruang kepala sekolah. Tadi Mbak Sheza juga menuju ke sini," kata Tika.


Benar saja, tidak berapa lama kemudian Mbak Sheza datang dan meminta Bitna mendatangi ruang kepala sekolah. Tika dan Julia pun diminta ikut menemani.


"Kalau ayahnya Kak Bitna ketemu, apa dia bakal segera pindah dari sini?" tanya Yumna.


"Hei, jangan bicara seperti itu. Sosok ayahnya pasti jauh lebih penting bagi Kak Bitna dibandingkan apa pun," kata Citra.


"Tumben bener omonganmu? Biasanya juga sengklek," kata Afie.


...🍎🍎🍎...


"Permisi..."


"Seo Bitna, kemarilah..." Pak Hamid mempersilakan Bitna untuk masuk. Sementara Mbak Sheza dan kedua temannya menunggu di luar.


"Apa benar kapal Seowol 13 itu kapal ayahmu?" tanya pria paruh baya itu.


"Benar, Pak," jawab Bitna dengan jantung berdegup kencang. Perasaannya menjadi tidak karuan, ketika melihat ekspresi wajah kepala sekolahnya yang tidak menunjukkan reaksi bahagia.


"Jadi, tim Angkatan Laut yang kemarin berpatroli di sekitar perairan Arafura, menangkap sinyal radio kapal asing dan mendekatinya," Pak Hamid memulai ceritanya.


Itu kan berita yang Bitna baca sebelum ia ke Indonesia. Ia jadi penasaran apa hasilnya? Dalam hati gadis malang itu terus berdoa, agar mendengar kabar baik.


"Lalu beberapa minggu kemudian mereka pun mnedapat laporan, bahwa sebuah kapal telah terdampar di sebuah pulau di perairan itu," lanjut pria berkumis tebal itu.


Deg! Detak jantung Bitna semakin tidak beraturan. Demikian juga dengan napasnya.


"Jadi, bagaimana hasilnya, Pak?" tanya Bu Elya, sang wali kelas yang turut mendampingi. Ia juga tak sabar menunggu kelanjutannya.


"Setelah di konfirmasi, ternyata benar itu adalah kapal dagang asal Korea Selatan yang hilang lima tahun lalu," lanjut pria itu.


"Astaga!" Bitna tak sanggup menahan air matanya.


"Tapi Nak, Bapak mohon maaf menyampaikan kabar ini. Kapal itu adalah kapal kosong. Beberapa bagiannya sudah lapuk, bahkan hampir karam. Tidak ada satu pun awak kapal di atasnya," ujar Pak Hamid dengan sangat hati-hati.


Bruk!


Bitna tak sanggup menahan lagi tubuhnya. Ia ambruk ke pangkuan Bu Elya. Air matanya tak sanggup lagi keluar. Tetapi, hatinya terasa perih bagai diiris sangat halus.


"Bagamana mungkin, Pak? Sinyal Radio itu menyala, lalu siapa yang melakukannya?" tanya Bu Elya memastikan.


"Menurut kabar yang beredar, kemungkinan itu adalah ulah para nelayan yang ingin menjarah kapal. Tapi karena mereka tidak menemukan apa pun, lalu ditinggalkan lagi," jawab Pak Hamid.


"Mereka mengatakan, di atas kapal itu hanya ditemukan sampah makanan dan beberapa stok yang sudah membusuk. Artinya, tidak ada lagi awak kapal di atas sana sejak lima tahun lalu," kata Pak Hamid lagi.


"Nak, jangan patah semangat. Teruslah berdoa untuk ayahmu. Jika Tuhan mengizinkan, kalian pasti akan bertemu lagi," kata Pak Hamid.


"Baik, Pak. Terima kasih semuanya," kata Bitna dengam wajah lesu.


...🍎🍎🍎...


"Bitna..."


Julia dan Tika memeluk Bitna dengan erat. Sementara Mbak Sheza mengusap rambut Bitna yang halus. Mereka mendengar semua obrolan itu dari luar. Tak ada yang bisa dilakukan, selain memberi semangat pada gadis malang itu.


Bitna terharu melihat perhatian teman-temannya. Mereka baru bertemu beberapa hari, tetapi sudah menganggap Bitna yang asing ini seperti keluarga.


Bruk!


Bitna kembali ambruk. Ternyata kabar yang baru saja di dengarnya itu sangat mengguncang hatinya.


"Seo Bitna!"


Tiba-tiba seorang cowok berlari mendekati Bitna yang terkapar di lantai.


"Dia kenapa?" tanya cowok itu pada Julia, Tika dan Mbak Sheza. Ia membantu ketiga wanita itu memapah Bitna ke ruangan terdekat.


"Mm.. Itu..."


"Alva, kenapa kamu ada di sini? Cuma pakai sarung dan baju kaos pula?" tegur kepala sekolah.


"O-oh, ini. Tadi saya sedang sholat di ruang OSIS, tiba-tiba mendengar suara orang terjatuh," jawab Alva.


Memang benar, ruang OSIS berdekatan dengan ruang kepala sekolah.


"Terus, sholat kamu udah selesai?" tanya Pak Hamid lagi.


"Be-belum, Pak."


"Ya kalau gitu, kenapa kamu di sini? Harusnya kamu lanjutkan lagi ibadahmu."


"Tapi, Pak. Gimana saya bisa membiarkan seoeang wanita terjatuh di lantai seperti ini? Jiwa pelindung saya seketika muncul," kata Alva.


"Ya.. Ya.. kamu pasti akan tumbuh menjadi laki-laki yang sangat bertanggung jawab nantinya. Tapi di sini kan banyak orang. Sekarang kembali ke ruang OSIS," perintah Pak Hamid.


"Baik, Pak. Segera laksanakan."


Alva lalu ngacir ke luar ruangan dan menuju ke tempat wudhu.


"Bitna, gimana keadaanmu?" tanya Bu Elya.


"Tidak baik, Bu. Saya..." Bitna tidak bisa melanjutkan kalimatnya.


Kali ini air matanya pun tumpah. Bagaimana hidupnya nanti, jika ayahnya benar-benar telah tiada? Padahal ia jauh-jauh datang ke negeri orang juga demi ayahnya.


(Bersambung)