Metamorphosis

Metamorphosis
Bab 47 - Perbuatan Memalukan



"Kau sudah pulang?" tanya Tuan Seon Kang Nam.


Sudah berhari-hari pria paruh baya itu tidak me


"Ya..."


Wooil tak begitu menggubris kalimat ayahnya. Pemuda itu meneruskan pekerjaannya menyiram bunga peninggalan ibu.


Tuan Seon duduk di kursi beranda di bawah pohon camelia.


"Jadi, apa yang kau temukan di ruang kerja Ayah?" tanya Tuan Seon.


Wooil menutup keran dan berbalik ke arah sang ayah. Hatinya meradang.


"Siapa yang memberitahu? Ajudan itu, ya?" tebak Wooil.


Tuan Seon menggeleng, "Kau lupa kalau ada teknologi bernama CCTV? Ayah bisa memantaunya setiap saat," ujarnya.


Wajah Wooil memucat. Kepalanya memutar kembali memori, yang telah ia lakukan di ruang kerja ayahnya.


"Ayah maklum dengan sikapmu. Ayah nggak akan marah," kata Tuan Seon lembut.


"Berarti Ayah akan cerita semuanya?" tagih Wooil.


Tuan Seon lagi-lagi menggeleng. Hal itu membuat Wooil kembali murka.


"Nak, Ayah tidak bisa ceritakan hal itu padamu, karena yang telah Ayah perbuat itu sangat memalukan. Tapi di sisi lain, Ayah tetap harus bertanggung jawab," kata Tuan Seon.


"Kenapa harus ngomong putar-putar kayak gini, sih?" protes Wooil.


"Nanti kamu akan tahu sendiri."


"Nanti kapan? Ayah sudah ngomong kayak gini dari beberapa minggu yang lalu," seru Wooil tak sabaran.


"Apa Ayah berselingkuh lalu mendapatkan anak?" tuduh Wooil. "Terus gimana dengan foto perempuan lain yang ada di laci Ayah?"


"Ayah tidak pernah menduakan ibumu, sampai dia meninggal. Dia cinta pertama dan terakhir Ayah," kata Tuan Seon.


"Jadi masalahnya ada di mana? Aku nggak mengerti. Kenapa Ayah harus bertanggung jawab pada mereka?" desak Wooil.


Tuan Seon menghembuskan napas panjang. Alisnya yang mulai memutih, saling bertaut.


Entah sejak kapan Wooil mengabaikan sang Ayah, sampai ia tak menyadari Ayahnya kini semakin kurus dan keriput.


"Kau dan Kakakmu, adalah orang yang paling Ayah sayangi, selain ibumu," ucap Tuan Seon setelah bungkam beberapa saat.


"Meskipun Ayah selalu membandingkanmu dengan gadis kecil itu, tapi Ayah selalu berharap kau lah yang terbaik," kata Tuan Seon dengan sangat lembut.


"Ayah tahu selama ini sudah banyak menuntut padamu. Padahal kau sudah berusaha. Maafkan Ayah."


Hati Wooil mulai melunak. Ia bisa merasakan kasih sayang ayahnya dari sorot mata dan ucapannya. Tetapi ia masih merasa sedikit dongkol.


"Wooil, Ayah melihatmu banyak membantu gadis itu. Padahal kau sangat membencinya. Ayah senang sekali," ucap Tuan Seon kemudian.


Nyut! Dada Wooil terasa perih mendengarnya.


"Ayah apaan, sih? Punya mata-mata ya, di sekolah?"


"Aku bukan membantunya, tapi mengusirnya jauh-jauh dari Korea. Kalau bisa nggak usah kembali," bantah Wooil dengan sebal.


Tuan Seon tertawa kecil melihat wajah putranya merah padam.


"Ya terserahlah apa katamu. Ayah senang melihat kalian berdua jadi akrab," ujar pejabat Kota Seoul itu.


"Aku nggak akrab dengannya. Kata-kata Ayah cuma bikin aku semakin curiga." Wooil terus membantah.


"Apa benar Ayah menjadi pegawai kota juga demi ibu dari wanita itu?" selidik Wooil.


"Iya," jawab ayahnya.


"Tapi ibumu mengetahuinya. Dan dia sangat mendukung Ayah."


"Apa hyung juga tahu masalah ini?" tanya pemuda itu.


"Nggak, cuma kau yang tahu. Jadi rahasiakanlah baik-baik," kata Tuan Seon misterius.


...🍎🍎🍎...


"Aku pulang..."


"Bitna, kau datang tepat waktu. Kami baru saja mau makan malam."


Bibi Dami memecahkan beberapa telur, untuk membuat gyeran jjim.


Huppp... Hueeekkk...


Tanpa bisa ditahan, Bitna merasa mual dan hensak mengeluarkan isi perutnya.


"Bitna, kau kenapa?"


Bibi melempar kulit telur itu sembarangan, lalu mengejar keponakannya yang sempoyongan.


"Bu, jangan berikan Bitna telur," kata Yeon Woo yang juga baru pulang.


"Nih, odeng untukmu."


"Gumawo, oppa," kata Bitna. "Oppa emang paling ganteng dan pengertian padaku," lanjutnya sambil mengacungkan jempol.


"Cih, ganteng dari sebelah mana?" protes Ara.


"Hei, oppa ini termasuk populer di kampus," kata Yeon Woo menyombongkan diri.


Bitna hanya tertawa melihat pertengkaran kedua sepupunya, "Aku ke kamar dulu," kata Bitna.


"Bitna kenapa, ya? Ini bukan pertama kalinya dia muntah. Apa dia hamil?" bisik bibi.


"Ehei... Ibu ngomong apa? Masa muntah karena telur aja bisa dibilang hamil?" bantah Yeon Woo.


"Kau nggak mengerti keadaan orang hamil jangan banyak protes. Bisa aja dia cuma sensitif sama telur." Bibi mulai menganalisa liar.


"Bi, gimana dia bisa hami? Jangankan pacar, teman cowok aja dia nggak punya," kata Yeon Woo masih nggak percaya.


"Dia punya pacar," kata bibi dan Ara bersamaan.


"Hah, masa? Adikku yang imut-imut itu punya pacar?" ucap Yeon Woo tak percaya.


"Iya. Minggu lalu kakak di antar pulang sama seorang cowok tampan. Ibu juga melihatnya," kata Ara memberikan kesaksian.


"Oh iya, saat aku mengikuti Bitna ke kafe, cowok aneh itu juga sempat menyebut nama Seon Wooil. Apa dia orangnya?" gumam Yeon Woo.


"Aku tak punya pacar dan nggak hamil. Jadi jangan mikir macem-macem," kata Bitna yang tiba-tiba muncul.


Cewek cantik itu sudah berganti pakaian dan mengunyah odeng miliknya.


"Terus Seon Wooil itu siapa?" selidik Yeon Woo.


"Dia bukan siapa-siapa. Cuma tikus ladang aja," kata Bitna nyaring.


"Aku? Tikus ladang?"


Jeng! Jeng!


Orang yang diomongin pun muncul.


(Bersambung)