Metamorphosis

Metamorphosis
S.2 Bab 34 - Terguncang



"Jadi besok kalian libur dan pulang ke kampung halaman?" tanya Bitna pada Tika dan Sundari.


"Kita semua libur tiga hari, kok. Tapi kami harus pulang karena mau merayakan hari raya Idhul Adha," kata Tika.


"Hari raya? Terus Flora dan Devi kok nggak pulang?" Bitna semakin bingung.


"Semuanya boleh pulang, kok. Tapi karena liburnya cuma tiga hari, tanggung banget mau pulang ke Sumatera Utara," kata Flora.


"Jadi hari raya kamu gimana?" Bitna kembali bertanya.


"Jadi gini Bitna. Kamu tahu, kan? Indonesia itu beragam suku, budaya dan agama. Nah Tika, Sundari, Alva, Zay dan Ipung itu merayakan Idhul Fitri dan Idhul Adha," jelas Sri Devi.


"Nah, kalau Sri Devi dan Bayu itu merayakan Nyepi," sambung Tika.


"Kalau aku, Imelda dan Yonanes, sama kayak kamu. Merayakan Natal," ujar Flora.


"Setiap hari raya, kita semua libur, kok. Boleh pulang juga," ujar Devi.


"Woah, hebat ya! Kalian berbeda-beda latar belakang tapi tetap kompak," komentar Bitna dengan takjub.


"Itulah yang namanya Bineka Tunggal Ika," kata Zay yang sedari tadi menyimak.


"Aku jadi pingin sekolah di Indonesia sampai tamat, deh. Banyak hari liburnya dan teman-teman juga seru," ujar Bitna dengan mata berbinar. Ia seperti sudah menemukan habitat yang tepat untuk melangsungkan hidup.


"Ya udah. Kamu sekolah di sini aja sampai selesai kuliah. Kan ada yang jagain tuh, si Alva," ujar Zay sambil terkekeh.


"K-kok Alva, sih?" gumam Bitna dsngan wajah merah padam karena malu.


"Kau barusan ngomong apa? Jangan bikin Bitna nggak nyaman." Alva yang baru saja datang, mencengkeram bahu Zay dengan kuat.


"Cieee... Pawangnya datang," cemooh Zay tanpa rasa jera.


"Btw Bitna dipanggil Pak Hamid, tuh," kata Alva.


"Duh, ada apa, ya? Apa nilaiku hancur lagi?" tanya Bitna cemas.


"Aku juga nggak tahu. Tapi tadi wajahnya serius banget Kayaknya ada beberapa tamu juga di ruangannya," kata Alva sambil mengingat-ingat.


...🍎🍎🍎...


Satu hari yang lalu...


“Pak, apakah di sini tempat pembantaian atau pembuangan mayat?” tanya Dave dengan suara bergetar.


“Apa maksudmu?” para anggota Tim SAR itu saling berpandangan.


“Aku melihat belasan tengkorak manusia bertumpuk di dasar laut,” ungkap Dave yang membuat semuanya bergidik ngeri.


"Tengkorak manusia? Itu nggak mungkin. Kamu semalam pasti sedang halusinasi karena terseret gelombang."


"Saya melihatnya dengan jelas, Pak. Di dasar laut sana, saya melihat tulang belulang bertumpuk. Beberapa aksesoris mereka, seperti life vest dan jam tangan juga masih ada." Dave terus meyakinkan semua orang.


"Kamu pasti salah lihat. Bisa saja itu hanya tumpukan sampah yang mengendap di sana. Wilayah perairan ini kan sering dilalui kapal. Masa kejadian seperti itu tidak ada yang tahu?"


"Ku rasa padang lamun yang begitu tebal adalah penyebabnya. Daunnya yang panjang, dan menjulur ke atas, menutupi jasad-jasad tersebut. Ketika kota menyelam baru terlihat semuanya," ujar Dave tetap ngotot.


"Hmm... Apa benar begitu? Tapi kalau memang iya, itu jasad siapa, ya?"


William dan Lim Chan saling berpandangan beberapa kali. Seolah mereka bicara menggunakan telepati dan memiliki pendapat yang sama.


"Pak, sebenarnya tujuan kedatangan kami ke sini..." Lim Chan lalu mengatakan semuanya kepada Tim SAR, dibantu oleh William.


Menjelang matahari terbenam, apa yang dikatakan Dave pun terbukti. Belasan tengkorak dan tulang belulang manusia ditemukan di dasar lautan, dan telah ditumbuhi batu karang serta padang lamun yang tebal.


Hasil penyelidikan menyatakan bahwa, tulang belulang manusia tersebut diduga merupakan awak kapal dagang Seowol 13, yang berasal dari Korea Selatan.


Hal tersebut berdasarkan benda-benda yang bertebaran di sekitar TKP. Bahkan beberapa barang dagangan yang masih di dalam kotak-kotak kayu, juga berceceran di sana.


Beberapa tulang belulang lainnya juga ditemukan di lokasi yang berbeda, tak jauh dari TKP pertama.


Menggunakan pesawat khusus, penemuan tersebut langsung dibawa ke Kota Ambon, untuk penyelidikan lebih lanjut di laboratorium forensik. Beberapa keluarga terduga korban juga dihubungi untuk melakukan tes DNA.


Hari ini, di ruang kepala sekolah...


"Permisi, Pak."


"Oh, Bitna. Silakan masuk," ucap Pak Hamid.


Bitna berjalan dengan kikuk menuju ke dalam ruangan kepala sekolah. Sudah ada Bu Elya juga di dalam sana. Terlihat juga beberapa orang tamu yang mengenakan pakaian seperti seragam militer.


Jantung Bitna berdegup kencang. Apa yang sebenarnya telah terjadi?


Pak Hamid mengatakan semuanya kepada anak didiknya tersebut dengan sangat hati-hati. Tubuh Seo Bitna terguncang. Bu Elya memeluk gadis malang itu dengan erat.


Tes! Tes!


Air mata terus membasahi rok sekolah yang dikenakan gadis itu. Bibirnya bergetar tanpa mengucapkan sesuatu.


"Nak, kuatkan dirimu," bisik Bu Elya. Wanita lemah lembut itu sangat sabar menghadapi muridnya yang tengah terguncang. Sesekali ia mengusap rambut siswi tersebut untuk menenangkannya.


"Aku pikir Ayah masih bisa tersenyum padaku. Aku pikir dia masih bisa memelukku," ucap Bitna terbata-bata, di sela isak tangisnya. "Padahal selama ini aku selalu tersenyum demi Ayah," lanjutnya.


Grep! Kedua tangan Bitna mengepal erat. Ia merasakan dadanya begitu sesak, tetapi tidak tahu bagaimana cara melepaskannya. Hatinya kosong, tetapi merasa berat. Pikirannya berkecamuk. Andai saja waktu itu.. Andi saja.. hanya itu yang bisa terpikirkan olehnya saat ini.


"Nak, tetaplah berdoa yang terbaik untuk Ayahmu. Ini semua kan masih dugaan," ucap salah seorang pria berseragam militer tersebut.


"Benar," kata pria satunya lagi. "Jumlah awak kapal yang hilang itu ada tiga puluh empat orang. Sementara yang ditemukan sekitar dua puluh dua orang. Masih ada harapan bahwa ayahmu masih hidup."


Bitna hanya menganggukkan kepala dengan pasrah. Ia mengelap air mata dan cairan dalam hidungnya, menggunakan tisu yang diberikan Bu Elya.


"Semoga saja yang Bapak katakan benar," sahut Bitna beberapa saat kemudian.


...🍎🍎🍎...


"Bitna..."


Tika memeluk Bitna yang baru saja masuk asrama, tanpa mengucapkan apapun. Kedua gadis itu melepas tangis mereka bersama-sama. Kabar itu tersebar begitu kuat.


"Yang sabar ya, Na," ucap Julia kemudian.


Seo Bitna hanya bisa menganggukkan kepala. Ia melihat tumpukan tas dan koper di tengah ruangan. Sepertinya teman-teman telah bersiap untuk pulang ke kampung halaman.


"Jadi kamu langsung terbang ke Ambon hari ini?" tanya Tika. Lagi-lagi Bitna hanya mengangguk.


"Hati-hati di jalan, ya. Aku pasti akan merindukanmu beberapa hari ini," ujar Tika dan Julia.


"Terima kasih, teman-teman."


(Bersambung)