
“Bagaimana hasilnya, Bitna?” tanya paman Chae Do Hyuk melalui sambungan telepon.
“Belum ada hasilnya, Paman,” sahut Bitna hampir menangis. “Sudah ada sembilan belas tulang kerangka yang berhasil di identifikasi, tetapi belum ada uang cocok dengan DNA-ku,” lanjutnya.
“Astaga! Kakakku… Kau ada di mana? Pulanglah… Kami menantikanmu pulang. Lihat anakmu yang sudah tumbuh menjadi gadis cantik dan pintar ini,” tangis Bibi Dami pecah. Ia menangis histeris dalam pelukan putra pertamanya, Chae Yeon Woo.
“Dami, jangan begini. Kau membuat Seo Bitna semakin terpuruk,” ujar paman.
Seo Bitna menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia sudah lelah menangis. Air matanya telah kering. Dadamya begitu sesak, bagai berada di dasar lautan. Sorot matanya yang bersinar telah padam. Pikirannya benar-benar kacau.
“Nak, jaga kesehatanmu di sana. Ingatlah, kau tidak sendirian di dunia ini. Masih ada paman, bibi dan kedua sepupumu,” ujar paman Che Do Hyuk.
Pria yang hampir menginjak usia lima puluh tahun itu, beberapa kali mengalihkan pandangannya dari kamera HP. Meski demikian, Bitna masih bisa melihat genangan air mata di pelupuk mata sang paman.
“Nanti kalau kau sudah mau pulang, akan paman jemput ke Indonesia. Paman dan kakak lelakimu ini akan mencari uang yang banyak agar bisa pergi ke sana,” kata paman lagi.
“Kam-sa-ha-mi-da,” ujar Bitna sangat terbata-bata dan hampir tidak terdengar.
“Sudah dulu ya, Nak. Sampai jumpa lagi.” Keluarga Bitna dari Korea memutuskan video call tersebut.
Tuk! Bitna meletakkan kepalanya di atas meja. HP pinjaman dari sang wali kelas ia pegang erat-erat. Napasnya hanya terdengar satu per satu, begitu lemah.
Sudah satu bulan berlalu sejak Tes DNA dilakukan. Berkali-kali Seo Bitna dimintai oleh Tim Forensik untuk dimintai keterangan, tetapi sayangnya belum ada beritanya.
Belasan keluarga dari Korea Selatan yang juga melakukan Tes DNA, telah kembali ke negaranya dengan membawa sisa-sisa kehidupan dari sang keluarga, untuk dimakamkan atau dilakukan persembahyangan sesuai tradisi keluarga. Hanya Bitna yang masih terus menunggu tanpa kepastian.
Cring! Sebuah benda berkilauan di leher Bitna menyilaukan mata. Hadiah kecil pemberian Park Jun Hyeon, kini menjadi benda paling berharga bagi Bitna. Liontin Bintang yang indah tersebut, seolah menjadi symbol, bahwa sang ayah masih ada bersamanya.
Tuk! Lengan Bitna merasakan sentuhan dengan sebuah benda dingin.
“Al?” kata Bitna tanpa ekspresi. Remaja perempuan itu kini tidak kaget lagi dengan kehadiran Alva yang tiba-tiba.
“Minum dulu, nih. Bibirmu kering banget, tuh,” ujar Alva sambil mendekatkan minuman kaleng dingin itu kepada Bitna.
“Thanks.” Tanpa disuruh dua kali, Bitna segera menenggk setengah isi kaleng minuman berperisa tersebut.
Alva menatap wajah Bitna cukup lama. Ia tidak bicara apa pun dan tidak berekspresi apapun selama lebih dari lima belas detik.
“Kenapa lagi? Aku cantik? Iya aku tahu, putri dari Kapten Seo Il Sang dan Sin Min Ah ini memang cantik,” ujar Bitna.
“Pfftt…” Alva tertawa kecil, melihat gadis yang dulu selalu tersipu malu, kini menjadi wanita yang super narsis.
“Kok ketawa?” tanya Bitna.
“Aku senang, melihatmu yang penuh celoteh kayak tadi. Apalagi kalau kau tetap tersenyum seperti dulu,” ujar Alva.
“Mau menggombal? Sekarang aku lagi nggak mood.”
“Ya, Tuhan… Jutek amat, sih?” ucap Alva pura-pura ngambek.
Alva memindahkan kaleng minuman, yang masih berisi setengah itu ke samping. Kini kedua remaja itu saling berhadapan langsung.
“Tapi aku serius loh, Bitna. Kami semua, teman-temanmu di sini khawatir melimatmu terus menerus diam dan menyendiri,” ucap Alva dengan mimik muka serius.
Bitna memutar bola matanya. Bayangan Alva yang rapi dan tampan, tercetak sempurna di matanya yang berwarna kecoklatan. Hanya saja sinarnya tetap redup seperti sebelumnya.
“Aku nggak bisa bilang ‘kau harus kuat dan sabar’. Karena saat ini kau pasti berada di titik terendah dalam hidupmu,” kata Alva tanpa mengalihkan pandangannya dari cewek Korea tersebut.
Gadis cerdas tersebut dapat menangkap dengan cepat, apa yang diucapkan pria di hadapannya barusan. Tetapi…
“Karena itu, aku ingin meminjam waktumu sebentar,” kata Alva membuyarkan lamunan Bitna.
“Meminjam waktuku?” ulang Bitna dengan kening berkerut.
“Aku ingin mengajakmu makan siang di luar. Kata orang, belum lengkap ke Indonesia tanpa mencoba menu yang satu ini.” Alva menggenggam tangan Bitna dan mengajaknya pergi.
“Tapi kita kan dilarang keluar?” Bitna kembali teringat dengan momen mengenaskan, bersama teman-temannya saat kehujanan dulu.
“Jangan khawatir, aku sudah meminta izin pada wali kelas,” kata Alva meyakinkan. “Ayo, perutku sudah lapar, nih,” ucap Alva tanpa melepas genggaman tangannya.
Beberapa saat kemudian…
“Hei, mau ke mana kalian?” seru petugas keamanan mengejar Alva Arkanza dan Seo Bitna yang lolos melewati gerbang depan.
“Kami mau kencan sebentar, Pak. Nanti saya belikan nasi rames lauk dobel, deh,” teriak Alva sambil berlari menjauhi gerbang.
“Kamu yakin sudah meminta izin?” tanya Bitna cemas.
“Iya, dengan Bu Elya. Tetapi dengan petugas keamanan ya nggak,” kata Alva sambil tertawa.
“Terus kita sekarang mau ke mana?” tanya Bitna bingung. Teriknya sinar mentari, membuat kulitnya yang putih menjadi bercak kemerahan.
“Udah pernah naik angkot apa belum?” tanya Alva.
Tanpa menunggu jawaban dari Bitna, Alva memberhentikan sebuah angkot dan membawanya keliling Kota Bogor.
“Warmindo?” Bitna membaca tulisan yang terpajang di atas warung sederhana di hadapannya. Aroma yang wangi yang kuat, tercium dari arah tempat makan yang berdindingkan papan tersebut.
“Ini tempat makan favorit semua kalangan. Kau pasti juga suka. Ayo masuk,” ajak Alva.
“Bu, Mi rebus dua, ya. Yang pedas.” Alva memesan makanan ketika masuk ke dalam.
Seo Bitna melihat ke arah mangkuk yang hendak disajikan kepada pengunjung lain. Wah, semangkok mi dengan asap mengepul di atasnya. Potongan cabai rawit, daun bawang dan seledri yang mempercantik tampilannya, serta taburan bawang goreng yang memperkuat rasa. Wow, perut Bitna langsung memberontak minta diisi.
“Oh iya, kelupaan. Satunya nggak usah pakai telur ya, Bu?” ucap Alva.
“Nggak pakai telur?” Pedagang berparas manis itu menatap Alva kebingungan. Telur dan mi instan, kan satu paket lengkap?
“Kau nggak suka telur, kan Bitna?” tanya Alva.
“Ah, iya. Aku… alergi telur,” sahut Bitna.
“Kalau begitu diganti dengan suwiran ayam aja, Bu,” pinta Alva.
“Beres, Tuan Muda,” kata pedagang tersebut seraya mengacungkan ibu jarinya.
“Al, dari mana kamu tahu kalau aku nggak bisa makan telur?” tanya Bitna.
“Seorang cowok pasti akan memperhatikan hingga detail kecil, tentang gadis yang disukainya,” ucap Alva sambil menatap kedua mata indah, milik gadis negeri ginseng tersebut.
(Bersambung)