Metamorphosis

Metamorphosis
Bab 49 - Bodyguard Misterius



Bitna menegakkan kepalanya. Berjalan melalui kerumunan murid di halaman sekolah.


Setelah berkali-kali dibully, kini Bitna menjadi lebih tenang dan berani menghadapinya.


Tapi, kok?


"Pagi, Bitna."


"Pagi..."


Bitna membalas semua sapaan dari teman-temannya itu dengan wajah bingung.


"Apa yang terjadi? Kenapa semuanya jadi baik padaku?" gumam Bitna.


Selama beberapa hari ini, tidak ada seorang pun yang merisaknya.


Jangankan menghujaninya dengan sampah. Mengata-ngatainya juga nggak ada. Malah sebagian besar murid kelas satu menyapanya ketika berpapasan.


Puk!


"Anyeong, Bitna. Kau sudah sarapan?"


Eunjo menepuk bahunya, lalu merangkul gadis itu.


"Nih, bibi membawakanku bekal. Kau makan denganku nanti," kata Bitna.


"Wah, tumben? Kayaknya enak, nih," kata Eunjo. Air liurnya mengalir mencium masakan bibi Bitna yang terkenal enak.


"Tapi kok ada tiga tingkat?" tanya Eunjo.


"Hahh.. Ini satu lagi untuk tikus ladang itu." Bitna menunjukkan wajah sebal sambil menarik napas panjang.


"Tikus ladang?" Eunjo mengerutkan wajahnya. Baru pertama kali ia mendengar kata-kata itu dari mulut Bitna.


"Iya... Si cecunguk itu. Seon Wooil," kata Bitna.


"Uwwooo... Kalian sekarang semakin dekat, ya. Sampai kau memanggilnya tikus ladang dan membawakan bekal."


Eunjo tertawa sangat kuat sampai perutnya terasa keram.


"Eh, tapi wajar sih kau membawakannya bekal. Dia banyak membantu waktu kau diculik kemarin."


"Hei, nggak gitu! Kau salah paham!" Bitna menepuk bahu Eunjo cukup keras.


"Cecunguk itu kemarin tiba-tiba datang ke rumah, lalu makan malam bersama," cerita Bitna.


"Dia bilang masakan Bibi enak. Dia juga cerita, kalau ibunya sudah nggak ada. Eh, Bibi malah memintaku membawakannya bekal, selama aku belum pergi ke luar negeri."


"Daebak! Hebat sekali hubungan kalian berdua, sampai direstuin sama orang tua."


"Kau mendengarku apa nggak, sih?" seru Bitna kesal.


"Iya.. Dengar, kok. Kau udah akrab sama Wooil, kan?" kata Eunjo sambil tertawa jahil.


"Ih, bukan ituuuu...! Nggak jadi kubagi nih bekalnya!"


"Dih, gitu aja ngambek," kata Eunjo tak bisa berhenti tertawa.


"Hei, lihat itu di depan pintu kelas." Eunjo menunjuk ke suatu arah.


"Ck! Dia lagi."


Bitna ingin menghindari cowok manis yang tersenyum ke arahnya. Tapi terlambat.


"Annyeong, Bitna."


"Ada apa lagi? Bukannya kemarin sudah cukup jelas," kata Bitna sambil ngeloyor masuk.


Beberapa pasang mata mengikuti gadis itu, tapi Bitna tidak peduli.


"Aku belikan macaron nih untukmu. Kamu suka yang rasa blueberry, kan?" kata Jun Hyeon tak menyerah.


"Kamu nggak lihat, aku udah bawa bekal dari rumah?" Bitna mengangkat kotak bekalnya tinggi-tinggi.


"Nggak apa-apa, kau bisa menyimpannya untuk di makan nanti," ujar Jun Hyeon meletakkan macaron itu di atas meja.


"Wah, ada macaron, nih."


Tiba-tiba Wooil datang dan mengambil sebuah macaron dari dalam kotak.


"Kau?" ujar Jun Hyeon menatap Wooil dengan kesal.


"Hmm? Ada apa? Macaron ini sudah milik Bitna, kan?" kata Wooil sambil mengunyah makanan yang baru saja dirampasnya.


"Bitna?" Jun Hyeon meminta persetujuan.


"Ambil sajalah. Sudah kau makan juga," ujar Bitna tidak peduli.


Jun Hyeon mengepalkan tangannya dengan kesal.


"Kau ngapan di sini? Bel sudah berbunyi," usir Wooil.


"Ckkk!" Jun Hyeon meninggalkan kelas dengan hati kesal.


...🍎🍎🍎...


"Sampai di sini dulu pelajaran kita. Jangan lupa tugasnya dikumpulkan," ujar Pak Guru Sosiologi.


"Baik, Pak."


Seperti biasa, Bitna mengumpulkan tugas teman-teman dan hendak di bawa ke ruang guru.


Bruk!


Tanpa sengaja Bitna menabrak seorang siswa, dan menghamburkan kertas-kertas yang baru saja disusun.


"Bitna!"


"M-maaf, aku nggak sengaja." Bitna buru-buru mengumpulkan kertas tugas yang berserakan itu.


"Kau nggak apa-apa? Biar ku bantu?" kata siswi bertubuh tinggi itu.


"Eh?"


"Nih."


"Terima kasih, ya," kata Bitna.


"Aku Jeong Sonam. Kau harus ingat namaku nanti," katanya sambil tersenyum.


"Terima kasih, Sonam," kata Bitna.


Setelah mengantarkan tugas ke ruang guru, Bitna pum berbelok ke toilet. Syukur, toilet sepi. Bitna pun buru-buru menyelesaikan urusannya, sebelum anak-anak perempuan datang.


Tap! Tap! Tap!


Terdengar suara beberapa pasang sepatu mendekat.


"Kau sudah lihat Bitna hari ini?" ujar seseorang. Bitna tidak mengenali suaranya.


"Ya, aku mencoba menyapanya tadi pagi,sahut yang lain.


"Terus gimana?"


"Nggak disangka, dia ternyata sangat ramah dan baik."


"Nah, aku juga tadi tanpa sengaja menabraknya. Ternyata malah dia yang meminta maaf. Kita selama ini salah paham padanya."


"Dia juga sebenarnya cantik banget, walau pun nggak pakai make up mahal. Wajar kalau anak-anak cowok berebut mendekatinya."


"Katanya dia mau pindah ke luar negeri. Kita harus meminta maaf sebelum dia pergi."


"Hei, dia nggak pindah. Tapi cuma pertukaran pelajar selama satu tahun."


"Enaknya.. Aku juga pengen, deh."


Air mata Bitna meleleh mendengar obrolan itu. Meskipun nggak tahu apa sebabnya, tapi Bitna merasa sangat bersyukur. Perlahan-lahan sikap temannya berubah.


"Udah, yuk."


"Yuk lah, ke kantin. Lapar, nih."


Rombongan siswi itu pun pergi meninggalkan toilet.


Tak lama kemudian Bitna pun segera keluar dan buru-buru menuju kelas.


"Kamu dari mana aja, sih? Nggak ada di kelas, di ruang guru. Kamu nggak kenapa-kenapa, kan? Ada yang membullymu lagi?" Eunjo menyambut Bitna dengan sederet omelan.


"Aku nggak apa-apa, kok. Tapi kau pasti nggak percaya ini."


Bitna lalu menceritakan semuanya.


"Hah, itu bagus sekali. Aku senang kau akhirnya memiliki teman baru," kata Eunjo.


"Kau beneran nggak tahu sebabnya?" tanya Bitna.


Eunjo hanya menggeleng, "Mungkin sejak kau diculik itu, mereka jadi pada takut," ujarnya.


Jam istirahat akan segera berakhir. Bitna pun teringat pada kotak bekalnya.


"Aku harua mencari Wooil untuk menyerahkan ini," ujar Bitna sambil berlari.


"Tadi aku lihat Wooil di halaman olahraga," seru Eunjo.


"Gumawo, Eunjo."


Bitna berlari menuruni tangga dan menuju halaman olahraga. Benar kata Eunjo, Wooil ada si sana.


Seon Wooil tampak berdiri di tepi lapangan dan dikerumuni beberapa anak perempuan dari kelas lain.


Bitna pun berjalan di sisi bangku penonton untuk mendekatinya.


"Pokoknya siapa pun yang menganggu Bitna, akan habis ditanganku."


Bitna yang mendengar ucapan Wooil itu lalu mendadak bersembunyi.


"Apa hubunganmu dengannya?" kata mereka tak terima.


"Dia calon pembawa nama sekolah ini ke luar negeri. Kalau sampai dia gagal pergi gara-gara ulah kalian semua, tunggu saja balasan dariku," ancam Wooil.


"Ah, jadi ini penyebabnya?" gumam Bitna lalu kembali berjalan ke kelas.


"Hei!" seseorang menarik lengan Bitna, dan membawanya ke bawah pohon.


"Jun? Ada apa lagi, sih? Memintaku batalkan program itu?" tanya Bitna.


Jun Hyeon tidak menjawab. Ia hanya mendorong tubuh Bitna ke arah pohon dan mendekatkan bibir lembutnya ke arah gadia belia itu.


Plak!


"Apa yang kau lakukan?"


Sebuah tamparan dari Wooil mendarat di pipi Jun Hyeon.


"Apa urusanmu?" balas Jun Hyeon.


"Kau nggak lihat dia ketakutan begitu?" kata Wooil.


"Ck! Dasar penganggu ini."


"Jangan!" Bitna mengentikan Jun yang hendak memukul Wooil.


Brak!


Bekal di tangan Bitna pun terlepas.


"Lihat! Bekal gadis ini jadi berserakan di tanah gara-gara pengecut sepertimu," marah Wooil.


"Wooil, itu bekal untukmu. Bibi menitipkannya padaku," kata Bitna.


"Untuknya?" Jun Hyeon semakin meradang.


Wooil pun tak kalah terkejut.


(Bersambung)