Metamorphosis

Metamorphosis
S.2 Bab 32 – Berlibur ke Pulau



Kabupaten Kepulauan Aru, Provinsi Maluku.


Udara pantai yang segar, deburan ombak yang menyapu pantai pasir serta sinar matahari yang hangat, menyambut kedatangan sekelompok mahasiswa asal Amerika tersebut.


“Wah, sudah gila aku. Gara-gara ucapan Seon Wooil kemarin, aku sampai pergi ke negara tropis ini,” gumam Lim Chan yang tampil stylish dengan celana renang dan kaos polos berwarna putih.


Pemuda dua puluh dua tahun asal Korea itu, baru saja menyelesaikan sidang tesisnya untuk meraih gelar S2. Sambil mengisi waktu menjelang wisuda, dia pun menjalankan rencananya untuk memenuhi permintaan sang adik.


Memang tidak mudah, menggali cerita yang hampir terkikis air dan tenggelam di antara milyaran pasir di pantai. Luasnya lautan di Kawasan Asia tenggara, membuat Seon Lim Chan harus melakukan riset dulu sebelum terjun ke lapangan.


Sebelum mengunjungi Indonesia, Lim Chan terlebih dahulu mendatangi Filiphina dan mendengarkan cerita para penduduk setempat tentang badai yang terjadi lima tahun lalu.


Penduduk lokal di Davao, pesisir selatan Filipina mengatakan, tidak banyak yang bisa mereka ceritakan. Hanya ada ingatan tentang langit yang gelap, angin kencang yang datang bergulung, lalu menyisakan puing-puing di sepanjang daratan.


Mereka juga banyak kehilangan orang tersayang akibat serangan dahsyat dari alam yang sedang murka kala itu.


“Filipina selatan dengan Kepulauan Aru ini sangat jauh. Tetapi kenapa bangkai kapal Seowol 13 itu malah ditemukan di perairan ini, ya?” ujar Lim Chan pada dirinya sendiri.


Kepulauan Aru adalah sebuah kabupaten di Provinsi Maluku. Letaknya berada di wilayah Indonesia Timur, di kawasan laut arafura antara Maluku, Papua dan Nusa Tenggara.


“Hei, Bro. Ngapain kau melamun di sana? Airnya hangat. Banyak wanita cantik juga,” seru beberapa orang pemuda berambut pirang.


“Iya, sebentar. Aku datang.” Lim Chan menyusul teman-teman kuliahnya tersebut masuk ke dalam air.


“Ternyata di sini sangat seru, ya. Tidak ramai pengunjung, tetapi ombaknya dan pantainya sangat indah. Ku pikir Indonesia hanya terkenal dengan Balinya,” seru para mahasiswa Amerika tersebut.


“Indonesia punya banyak tempat menarik dari timur hingga ke barat, Bro. Kau tak akan punya uang yang cukup untuk mengunjungi semuanya,” sahut Lim Chan seraya menyambut ombak yang datang bergulung.


“Sialan, kau. Mentang-mentang anak konglomerat dari selatan,” balas para pemuda tersebut.


“Ternyata berlibur ke sini bukan ide yang buruk. Aku bisa refreshing sambil mencari informasi,” pikir Lim Chan sambil membenamkan kepalanya ke dalam air yang jernih.


Suasana pantai tersebut memang cukup sepi pengunjung. Hanya ada beberapa kelompok pelancong asing yang berenang di air dan berjemur di pantai. Sementara penduduk local sibuk dengan aktivitas nelayan dan berdagang di pesisir.


Kepulauan di bagian timur Indonesia ini terkenal memiliki panorama yang indah, namun sepi penduduk. Kabupaten yang memiliki sekitar 187 pulau tersebut, hanya di huni 89 pulau saja. Topografi daerah ini umumnya dataran rendah dengan rawa-rawa, tetapi keindahan pantainya tidak diragukan lagi.


“Kenapa aku baru menemukan tempat seindah ini untuk healing? Ini tempat sempurna untuk melenyapkan diri dari peradaban,” gumam Lim Chan.


“Hei, Bro. Aku dengar pulau-pulau tak berpenghuni di sana jauh lebih indah lagi. Gimana kalau sore nanti kita sewa kapal kecil untuk mengunjunginya?” usul teman-teman Lim Chan.


“Apa boleh dikunjungi? Kita tak punya banyak waktu di sini. Aku harus mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya,” ucap Lim Chan.


“Aku sudah tanya tadi. Asal membawa penduduk local, kita boleh pergi ke sana,” kata Dave yang memliki tubuh tinggi dan kekar.


“Benar. Kita masih punya waktu delapan hari di sini. Kami janji akan membantumu besok,” tambah William yang bermata biru.


“Hah… Ya sudah. Kalau begitu nanti sore kita berangkat. Kalian yang urus semuanya, kan?” sahut Lim Chan.


“Tentu. Pokoknya kau terima bersih, eh,” ucap Dave.


“Apa anak-anak yang lain ikut juga?” tanya Lim Chan.


“Nanti coba ku tanya lagi,” kata William.


...🍎🍎🍎...


Matahari mulai menyembunyikan sinarnya di balik cakrawala. Cahaya kemerahan di ufuk barat, menampah eksotika pantai berpasir putih tersebut. Beberapa burung camar tampak terbang berkelompok, masih mencari ikan untuk mengganjal perut di malam hari.


“Ini baru jam empat sore, Dek. Matahari masih lama terbenam. Kapal para nelayan saja baru bersiap-siap pergi,” jawab seorang tourguide lokal dengan Bahasa Inggris yang terbata-bata.


“Memangnya apa yang menarik di sana kalau malam hari?” tanya Lim Chan tidak begitu tertarik. Dia kan datang ke sini untuk mencari orang yang hilang. Jangan sampai malah dia yang menghilang dan dicari orang nantinya.


“Di sana bisa melihat sunset. Bisa menangkap ikan juga, untuk dibakar,” jawab tourguide tersebut sambil menggulung tali kapal.


“Ikan? Apa ada kepiting dan udang juga?” tanya Lim Chan mulai tertarik.


“Kalau untuk kepiting dan udang, kita harus memasang perangkap dulu. Besok pagi baru kita lihat hasilnya,” ujar pria kelahiran Pulau Wokam itu.


“Oh…” gumam Lim Chan. Meski demikian ia tidak terlalu kecewa. Memancing ikan lalu membakarnya seru juga.


“Tapi kalau kalian mau, kita bisa menginap di sana malam ini. Besok pagi kita berburu udang dan kepiting,” lanjut tourguide tersebut.


“Bisa begitu?” tanya Lim Chan.


“Kita bisa buat tenda nanti. Tetapi harus izin dulu dengan kepala desa di pulau terdekat,” jawab pria berambut keriting tersebut. “Nah, selesai,” gumamnya seraya meletakkan gulungan tali besar itu ke atas pasir.


“Hoooiii… Anak-anak. Gimana persiapan kalian?” tanya tourguide tersebut.


“Sempurna,” seru Dave, William dan beberapa teman lain.


“Kalau gitu, ayo kita berangkat sekarang.”


...🍎🍎🍎...


Perjalanan menuju ke pulau tidak berpenghuni tersebut sangat menyenangkan. Perlu waktu sekitar satu setengah jam untuk mengarungi lautan yang luas itu.


Mereka pesta makanan dengan buah-buah local yang tersedia di kapal. Menjelang matahari terbenam, mereka pun mendarat di sebuah pulau dengan hutan cukup lebat.


“Woah… benar-benar indah,” gumam Lim Chan ketika melihat matahari terbenam.


“Aku nggak menyangka ada dunia yang begitu indah dan tenang seperti ini. Rasanya ingin menghabiskan sisa umurku di sini saja,” lanjut pria pemilik mata sipit itu.


“Hoooiii… Lim Chan. Jangan terlalu banyak melamun. Ayo bantu pasang tenda,” panggil Dave.


“Iya. Aku segera ke sana.”


Tidak lama kemudian tenda pun selesai di pasang. Api unggun juga sudah menyala sebagai penghangat udara. Beberapa ekor ikan hasil pancing pun menjadi santapan makan malam yang memanjakan lidah.


Gluduk! Gluduk!


Terdengar suara petir menyambar di kejauhan. Cuaca mulai berubah. Langit yang semula dipenuhi bintang-bintang, kini mulai hilang tertutup gumpalan cumulonimbus.


“Anak-anak. Cuaca memburuk. Kabarnya akan ada gelombang tinggi menuju ke sini. Kita harus segera kembali ke pulau utama,” ujar sang tourguide.


“Sialan!” gerutu Lim Chan. Ia merasa de javu.


Kapal bermuatan delapan orang itu pun segera kembali berlayar menuju pulau utama di kecamatan Pulau Aru-Aru.


Bruaakkk!!! Tiba-tiba kapal itu menabrak suatu benda asing, dan pecah di bagian lambung.


(Bersambung)