Metamorphosis

Metamorphosis
S.2 Bab 25 - Rencana Dua Sekte



Setelah makan malam, di asrama kamboja. Asrama paling ujung di lantai lima.


Sebagian siswa mengatakannya sebagai tempat jin buang anak, karena suasananya yang suram, dan berdampingan dengan pohon beringin tua, yang telah tumbuh puluhan tahun sebelum sekolah ini di bangun. Di malam-malam tertentu, area kamar ini diliputi wangi semerbak bunga melati dan kamboja, yang entah dari mana asalnya.


Beberapa urban legend sekolah juga mengatakan, jika di pohon beringin itu ada wanita cantik yang telah berbeda dunia dengan manusia. Ia adalah korban kekejaman para tentara Jepang yang tidak bisa meredam keinginan berkembang biak mereka.


Di sinilah Bitna sekarang. Ia bersama Yumna dan Tika berjalan menyusuri lorong-lorong yang diterangi cahaya lampu. Suasananya sudah cukup sepi, padahal belum saatnya jam malam. Hanya terlihat beberapa siswa kelas tiga dan kelas dua bercengkerama bersama, sambil melepas penat.


“Yakin eonnie mau ke sana?” tanya Yumna dengan tatapan ragu.


“Iya, dong. Kita udah jauh-jauh sampai di sini, masa mau balik lagi?” kata Bitna dengan sangat percaya diri.


“Tapi seram banget, lho. Lihat tuh, gelap dan ada bau-bau bunga gitu,” ucap Yumna sambil berlindung di belakang Tika.


“Ngapain takut? Kita kan bertiga. Udah bawa-bawa senjata lengkap gini juga?” kata Bitna santai.


“Hei kalian, udah selesai belum debatnya? Ngantuk, nih.” Tika mengucek matanya yang mulai memerah karena ngantuk.


“Tapi aku beneran takut, Kak. Kalau kita nggak bisa balik lagi, gimana?” tanya Yumna.


“Jangan ngomong gitu, Yumna. Ntar para pembaca mikir yang aneh-aneh. Padahal kita kan bukan mau uji nyali?” kata Tika lagi.


“Hehehe… Maaf, Kak. Abis aku grogi banget sih karena baru pertama kali ke sini. Auranya beda sama asrama kita,” kata Yumna.


“Yuk ah, buruan. Ntar lagi jam malam, lho,” kata Tika sambil berjalan mendahului Yumna dan Bitna.


Tok! Tok! Tok!


“Permisi…” seru Tika dan Bitna.


“Siapa?”


Terdengar suara jawaban dari dalam kamar. Bitna sangat mengenali suara itu. Suara berat dan terdengar kuat itu, adalah orang yang telah merisaknya di depan lab bahasa kemarin sore.


“Ini aku, Yumna. Cepat bukakan pintunya,” kata Yumna dengan Bahasa Korea.


Ggrrrkk… Ceklek.


Pintu pun terbuka. Aroma bunga melati yang sangat kuat, langsung menyerang indera penciuman ketiga remaja dari asrama mawar itu. Suasana remang-remang dan beberapa tempelan foto-foto pria tampan di dinding, mewarnai area asrama paling ujung ini.


“Seo Bitna? Ada apa kau kemari?” tanya Nurma Harisa, alias Risa.


“Aku ingin membuat perhitungan denganmu soal kejadian beberapa waktu yang lalu,” kata Bitna dengan Bahasa Korea.


“Kau bilang apa? Aku tak mengerti,” sahut Risa dengan kening dan alis bertaut. Ia tidak mengerti apa yang Bitna bicarakan.


“Aku mau membuat sebuah penawaran yang sangat bagus denganmu. Aku jamin kau pasti akan suka.” Lagi-lagi Bitna berbicara dengan Bahasa Korea.


“Ha?” Kepala Risa semakin pusing mendengarnya.


“Seenggaknya persilakan kami untuk masuk dulu, kek. Masa tamu dibiarkan berdiri di luar,” kata Tika.


“Oh iya… Silakan masuk.” Risa membuka pintu lebih lebar lagi, dan menyalakan lampu.


Aroma melati yang mereka cium tadi ternyata berasal dari pewangi ruangan yang terletak di ruangan tersebut. Harumnya yang semakin terasa lembut, terasa cukup menenangkan pikiran.


Yumna dan Risa saling bertatapan. Kedua sekte yang berbeda telah bertemu. Yumna adalah ketua sekte fanboy para idol boyband unyu-unyu, dengan beragam lagu romantic mereka.


Sedangkan Risa adalah pentolan sekte fans para sugar dady actor tampan dari Korea. Salah satu foto yang terpajang di sana adalah Kim Hyun Seung, actor senior di Korea yang langganan mendapatkan penghargaan di kancah internasional.


Oh, tidak. Ternyata anggota sekte penggemar sugar daddy ada dua di sini. Nelvi Ratna Putri juga penghuni asrama kamboja.


Tetapi sayangnya kedua sekte itu masih kalah dengan Seo Bitna, gadis sederhana yang satu sekolah dengan para idol boyband, dan bahkan sudah berani berebat dengan actor kawakan di Negeri Ginseng tersebut.


“Jadi, mau apa kalian ke sini?” kata Risa.


“Pertama sekali aku cuma mau bilang, jangan sok-sok membela Korea, kalau bahasanya aja kamu nggak ngerti.” Kali ini Bitna menjawab dengan Bahasa Indonesia. Risa hanya menundukkan kepala dengan malu.


“Lalu yang kedua, aku ingin menawarkan sesuatu yang menarik dengan kalian berdua.” Bitna menatap Risa dan Nelvi sebelum melanjutkan kalimatnya. “Kalian berdua bisa ku kenalkan dengan temanku, seorang superstar dari Korea,” lanjutnya.


“Superstar? Siapa?” kali ini Nelvi yang angkat bicara.


“Selama sepuluh hari ke depan, sekolah kita terpilih menjadi salah satu tempat karantina bagi peserta olimpiade fisika internasional. Dan salah satu pesertanya adalah teman sekolahku dulu…”


“Tunggu!” Risa memotong ucapan Bitna. “Maksudmu anak sekolah? Seumuran kita? Tapi kami nggak menyukai remaja labil kayak dia,” ujar Risa kemudian.


“Kalian yakin nggak mau menerima tawaranku ini? Dia bukan sembarang remaja. Koneksinya sangat luas. Wajah dan otaknya juga sangat oke,” bujuk Bitna.


“Kau nggak ngibul, kan?” tanya Nelvi ragu.


“Kalau nggak percaya, coba lihat dulu besok. Kalian pasti menyesal kalau menolak tawaranku. Kapan lagi bisa berteman dengan ulzang Korea, kan? Dengan satu orang itu, akan membuka semua pintu untuk kalian, termasuk bertemu dengan pria itu,” kata Bitna sangat meyakinkan.


Risa dan Nelvi saling bertatapan cukup lama, “Oke, deh. Kalau begitu, apa rencanamu?” ucap Risa dan Nelvi bersamaan.


“Jadi gini…”


Bitna lalu menceritakan hadiah-hadiah misterius yang selalu diberikan oleh Jun Hyeon. Ia juga menunjukkan beberapa bukti foto dari HPnya. Beruntung, Mbak Sheza mengizinkan memegang HP lebih lama hari ini. Tak lupa, Bitna juga membisikkan rencana yang telah ia susun. Tika juga membantu menjelaskan beberapa bagian.


“Wah, luar biasa. Tak kusangka ada orang setampan dan sebucin ini di Korea. Ku pikir hanya berlaku dalam drama saja,” ucap Nelvi.


“Kalian sudah mengerti, kan? Kalau begitu kami pamit dulu.” Ketiga penghuni asrama mawar itu lalu kembali pulang.


“Eonnie, kenap nggak sekalian diceritakan kalau dia itu pengntit dan pernah selingkuh sama kakak kelas,” tanya Yumna ketika mereka telah kembali.


“Itu berbahaya. Kita tidak tahu bagaimana Risa dan Nelvi sebenarnya. Nanti takutnya mereka malah bersekongkol pada Jun Hyeon untuk menjatuhkanku,” kata Bitna.


Keesokan harinya…


Semua yang dikatakan Park Jun Hyeon ternyata benar. Terdapat puluhan siswa dari berbagai negara menjalani aktivitas karantina di sekolah itu.


Gedung asrama dan belajar mereka berbeda dengan siswa regular di SMA Astana Nagara. Para peserta lomba itu menempati asrama yang biasa digunakan oleh para guru dan tamu-tamu khusus.


“Selamat datang, Park Jun Hyeon. Sebentar lagi pembalasan manis dariku akan segera kamu terima,” gumam Bitna.


(Bersambung)