
"Eunjo, kamu ngapain?"
Bitna yang tengah piket mendapati Go Eunjo sang ketua kelas memasang kamera tersembunyi di balik papan tulis.
"Ssssttt... Sini.. Sini.. Aku sengaja memasang micro camera untuk menangkap basah si pengagum rahasiamu itu," ucap Eunjo antusias.
"Ya ampun Eunjo. Kurang kerjaan banget, sih? Memangnya gak bisa di cek dari CCTV kelas aja?"
"Kamu pikir selama ini CCTV kelas fungsinya untuk apa? Kalau memang digunakan dengan baik, pasti semua kejahatan bully yang kamu terima sudah diusut tuntas oleh sekolah," kata Eunjo.
"Tapi kalau ini ketahuan gimana? Terus kamu nggak pergi les?" kata Bitna.
"Ya jangan sampai ketahuan, dong. Memangnya kamu nggak penasaran siapa pengirim hadiah itu? Lagian, hari ini lesku ditunda sampai jam empat sore," balas Eunjo.
Duh, Bitna nggak bisa membantahnya. Ia memang penasaran dan sedikit terganggu pada hadiah-hadiah misterius itu.
"Udah, deh. Percayakan saja padaku. Kalau pun ketahuan, aku bakal tanggung jawab," ucap Eunjo.
...🍎🍎🍎...
Ceklek!
"Aku pulang."
"Kakak! Huhuhu... Untung Kakak cepat pulang. Aku takut sekali."
Ara berlari menghampiri Bitna.
"Ada apa Ara? Aku tadi ke perpustakaan kota dulu. Mana paman dan Bibi?"
"Aku tadi melihat orang aneh di depan rumah," lapor Ara. "Ayah dan ibu masih bekerja. Yeon Woo Oppa ada acara dengan teman kampusnya," lanjutnya.
"Orang aneh? Aku tak melihat siapa pun di depan rumah," kata Bitna.
"Duh, Kakak beruntung deh. Sejak sore aku melihat seorang pria bertopi memperhatikan rumah kita."
"Pria bertopi?"
"Hu'um. Dia memakai pakaian bagus dan menutup wajahnya dengan masker. Duh, aku harus lapor pada ayah dan ibu nanti," kata Ara.
"Ya, kita harus..."
Grooowwlll...
Suara dari perut yang begitu nyaring menghentikan ucapan Bitna.
"Hahahaha... Kakak lapar, ya? Aku tadi sedang membuat bibimbap. Kakak mau, kan?" ucap Ara tanpa bisa menghentikan tawanya.
"Ya... Sepertinya itu enak. Aku ganti baju dulu," kata Bitna.
Ara pun kembali ke dapur menyelesaikan pekerjaannya. Ia menambahkan minyak wijen dan gochujang untuk memperkuat rasa. Terakhir, remaja cilik itu menaburkan biji wijen di atas hidangan tersebut.
"Hmm... Wangi banget," seru Bitna.
Bitna yang telah berganti pakaian pun menyusul ke dapur. Kakak beradik itu menyantap makan malam sambil menonton TV.
Tak lupa, mereka menutup semua jendela dan mengunci pintu, jaga-jaga kalau stalker aneh itu datang lagi.
"Ara, Apa saja yang kau tahu tentang Indonesia? Sepertinya kau tahu banyak," tanya Bitna.
"Hmm... Indonesia itu... Tempatnya batik dan songket, kan?" ujar Ara sambil mengingat-ingat.
"Apa itu yang kau sebut tadi? Ba-tik? Son -ket?"
"Bukan sonket. Tapi song-ket," Ara mengejanya agar Bitna paham.
"Apa itu?"
"Batik itu corak kain khas Indonesia. Setiap daerah memiliki corak yang berbeda. Sedangkan songket itu jenis kain yang ditenun dengan benang indah," jelas Ara dengan mata berbinar.
"Ah, sebenarnya masih banyak lagi sih jenis kain di sana. Ada ulos, kain lurik, tenun ikat, Sasirangan," jelas Ara.
"Wah, luar biasa. Kau betul-betul mempelajari dunia desain dengan baik, ya?" puji Bitna.
"Iya, dong. Aku kan ingin menjadi designer ternama di Korea. Ah, bukan. Di dunia. Nggak cuma Indonesia. Aku juga mempelajari kain tradisional negara lain juga," kawab Ara bangga.
"Kalau cita-cita kakak apa?" Ara balik bertanya.
"Hmmm apa, ya?"
Bitna merasa tertampar pada kenyataan itu. Ara yang dua tahun lebih muda darinya saja sudah punya impian masa depan.
Apa selama ini ia terlalu sibuk memikirkan ayahnya hingga lupa pada masa depannya sendiri?
"Ah... Kakak nggak usah tertekan pada pertanyaanku. Cita-cita seseorang kan bisa saja berubah. Kayak Yeon Wo Oppa, tuh. Dulu dia pengen banget jadi cosplayer, eh sekarang malah kuliah di jurusan teknik mesin."
"Emm.. Ara. Kayaknya antara hobi dan kuliah Yeon Woo Oppa itu berbeda, deh," ucap Bitna tertawa kecil.
Mungkin pertukaran pelajar ini akan membuka pintunya ke dunia yang lebih luas.
"Selain tentang kain-kain tradisionalnya, apalagi yang kamu tahu tentang Indonesia?" tanya Bitna penasaran.
"Hmm... Aku suka lihat makanannya yang beragam dan penuh bumbu. Kata mereka rendang dan sate itu salah satu menu daging terenak di sana," kata Ara.
Benar. Tadi malam saat berselancar di internet, Bitna juga melihat beragam menu Indonesia yang menggugah selera.
"Sepertinya salad kuah kacang mereka juga enak," ucap Bitna sang pecinta sayuran.
"Maksud Kakak pecel dan gado-gado? Ya. Aku yakin makanan itu rasanya sangat enak," ucap Ara sambil menyendokkan bibimbap terakhir ke dalam mulutnya.
"O-oh. Itu ya namanya?" kata Bitna diiringi tawa kecil.
"Aku lihat di salah satu chanel Utube, musim buah di sana sepanjang tahun, loh. Jenis buahnya juga sangat beragam," cerita Ara.
"Oh, ya?" Bola mata Bitna berbinar mendengarnya.
"Beneran. Dan katanya udara di Indonesia juga selalu lembab dan hangat. Terutama di daerah pegunungan. Tidak seperti Korea yang setiap saat selalu berubah-ubah," lanjut Bitna lagi.
Bitna tersenyum mendengar celoteh adik kecilnya. Ia merasa, pengetahuannya tentang negara itu hanya secuil, dari yang dimiliki sang adik.
Bagaimana tidak, ia baru mencari informasi tentang negara tropis tersebut kemarin malam.
"Woah... Ini kah Indonesia? Indah sekali?" Itulah ekspresi Bitna ketika pertama kali melihat foto-foto Indonesia dari Internet.
Mata remaja itu berbinar melihat pemandangan alam di Indonesia yang sangat Indah. Jenis pantai yang beragam, gunung-gunung indah bagai singgasana para Dewa, serta pakaian adat yang beragam.
Bitna juga baru tahu, jika Indonesia merupakan negara besar yang terdiri dari banyak pulau. Bahkan jauh lebih luas dari Jepang, yang juga negara kepulauan.
Tanpa disadari, sepanjang malam kemarin, Bitna menghabiskan mengunjungi Indonesia melalui internet.
"Eh, tapi..."
Tiba-tiba Bitna teringat sesuatu dan membuka peta Indonesia.
"Nah... Karena negara kepulauan, jadi sebagian besar negara ini adalah lautan. Dan ayahku berada di laut yang sebelah mana? Dan kalau aku berhasil ikut pertukaran pelajar itu, akan ditempatkan di pulau yang mana?" gumam Bitna bingung.
"Apa Kak Bitna benar-benar akan pergi ke Indonesia?" tanya Ara kemudian.
"Masih belum tahu. Karena harus melewati beberapa tes dan kursus dulu sebelum ke sana," sahut Bitna.
"Kakak pasti lolos semua tes itu. Duh, kadang aku benci punya Kakak yang pintar," kata Ara bersedih.
"Hei, aku di Indonesia hanya satu tahun. Dan sekarang aku masih di sini," kata Bitna sambil menahan tawa.
"Yah.. Tetap saja aku akan merindukanmu, Kak."
Bitna melihat bibir Ara maju dua sentimeter ke depan. Hal itu membuat wajahnya semakin lucu.
"Bukannya kamu membenciku?" tanya Bitna.
"Siapa bilang? Aku sayang sekali padamu, Kak. Bahkan kalau kakak ingin skincare baruku kemarin, pasti akan aku beri," kata Ara hampir menangis.
Kali ini Bitna benar-benar tidak bisa menahan tawanya lagi. Ia terbahak-bahak di depan Ara yang kebingungan.
Entah itu karena ia melihat wajah Ara yang lucu atau ucapan Ara yang terdengar tulus?
Entahlah. Apa pun itu hati Bitna sedikit riang malam ini.
"Kak, malam ini aku tidur denganmu, ya?" pinta Ara.
"Kamu yakin? Kamarku dingin banget, loh."
"Yakin," kata Ara.
"Apa kamu masih takut sama stalker tadi?" tsbak Bitna.
"Itu iya juga, sih..." gumam Ara polos.
...🍎🍎🍎...
Keesokan paginya di sekolah, Bitna dan Go Eunjo sudah sampai pagi-pagi sekali. Kedua remaja itu lalu sama-sama mengecek isi rekaman kamera. Beberapa menit awal masih tidak ada apa-apa. Kosong. Tapi kemudian...
"Omo! Omo! Ini, kan?"
Tayangan pertama yang mereka lihat ternyata adalah video yang tidak disangka. Salah satu guru mereka berkencan dengan siswa tercantik di sekolah?
(Bersambung)
Yuk, kenalan dengan jenia kain di Indonesia. Kalau ditempatmu apa nama kain tradisionalnya?