Metamorphosis

Metamorphosis
Bab 14 - Tertangkap Basah, Pak Guru!



Keesokan paginya di sekolah. Eunjo datang cukup pagi untuk melihat tangkapan kameranya.


"Gimana?" tanya Bitna yang juga baru datang.


Lagi-lagi Bitna menemukan bingkisan di laci meja. Rasa penasaran pun memuncak.


Kedua remaja itu lalu sama-sama mengecek isi rekaman kamera. Beberapa menit awal masih tidak ada apa-apa. Kosong. Tapi kemudian...


"Omo! Omo! Ini Pak Guru Song, kan?"


Tayangan pertama yang mereka lihat ternyata adalah kejadian tak disangka-sangka.


Guru matematika mereka, Song Gae Nam, tertangkap kamera sedang berkencan di kelas bersama siswi paling cantik yang mereka kenal. Siapa lagi kalau bukan Kim Min Ji.


"Hmmm... Pantas saja nilai matematikanya selalu bagus. Padahal di pelajaran lain ia tak pernah mendapatkan nilai bagus," ucap Eunjo.


Murid lain mulai berdatangan. Eunjo pun mengajak Bitna ke tempat yang lebih sepi.


Setelah beberapa kali skip fordward video kosong, akhirnya membuahkan hasil. Di penghujung video, mereka melihat seorang siswa masuk ke kelas I B, pukul 06.50 pagi.


Sudah bisa ditebak, dia lah yang meletakkan hadiah di laci meja Bitna.


"Daebak! Kamu lihat itu, Bitna. Ternyata dia yang selama ini menjadi pengagum rahasiamu."


Bitna hanya melongo melihat sosok pria yang tak disangka-sangka itu.


"Jadi selama ini J.H itu Ju Hyeon?" gumam Eunjo takjub. "Bitna, kamu hebat banget disukai sama dia," kata Eunjo.


"Hmmm..." gumam Bitna tak semangat.


"Loh, kenapa? Kok nggak semangat gitu? Dia itu ulzzang di sekolah kita, loh. Bahkan lebih populer dari Seon Wooil," kata Eunjo.


ulzzang: remaja cantik/tampan, serta populer di Korea.


Park Ju Hyeon adalah anak dari pasangan Park Hyun Jun dan In Dae Young, pengacara dan aktris terkenal di Korea.


"Justru karena dia populer dan dari kalangan atas, makanya aku semakin curiga. Kenapa dia memilihku di antara sekian banyak siswi cantik dan pintar di sekolah ini?" kata Bitna.


"Ah... Bitna... Kamu kenapa, sih? Nikmati saja dong musim semi mu itu. Kamu terlalu banyak belajar di usiamu yang masih muda itu," protes Eunjo.


"Tetap saja aneh. Lagi pula, di mana dia mengenalku? Aku saja tidak begitu mengenalinya."


"Ckk... Kamu nggak asik, ah," ucap Eunjo pura-pura ngambek. "Eh, beneran kamu nggak kenal dengannya?" bisik Eunjo.


"Yah, wajahnya aku tahu. Karena dia salah satu siswa yang berpidato di upacara sekolah bulan lalu. Tapi selebihnya aku tidak mengenalnya," kata Bitna tidak tertarik.


Bel masuk pun menghentikan obrolan 'penting' mereka.


...🍎🍎🍎...


"Apa-apaan ini? Kenapa mereka semua menatapku?" ucap Bitna dalam hati.


Remaja berambut cokelat itu merasa semua pasang mata di kelas menatapnya dengan tajam.


"Apa aku buat kesalahan lagi?" pikir Bitna gelisah.


Namun semua pertanyaan itu belum terjawab, hingga is duduk di kursinya.


"Gyaaaa!"


Sebotol saus meju dan kuah chueotang tumpah dan mengotori buku-buku Bitna di dalam laci. Bau tidak sedap pun menyebar ke seluruh kelas.


"Siapa yang berbuat seperti ini pada Bitna?" marah Eunjo.


"Hei, Eunjo. Memangnya kamu pacarnya Bitna? Kenapa membelanya terus? Orang bisa salah paham melihat kalian berdua," ucap Min Ji.


"Min Ji, hati-hati deh bicaramu. Mau kena skors lagi?" balas Eunjo.


"Duh, sayangnya gak ada lagi tuh yang bakalan berani skors kami. Kemarin itu hanya formalitas saja." Min Ji mengibaskan rambut panjangnya dengan angkuh.


"Duh, sial. Harusnya aku tidak mengambil kamera itu tadi," sesal Eunjo sambil mengambil kain pel dan beberapa serbet di lemari kelas.


"Ada apa ini ribut-ribut?" Pak Song yang mengajar pelajaran pertama memasuki kelas.


"Meju? Mengapa kamu membawa meju ke sekolah?" tanya Pak Song diiringi tawa para siswa.


"Bukan saya yang membawanya, Pak," kata Bitna.


"Kalau bukan kamu lalu siapa lagi? Kamu pikir kami yang sudah cantik ini mau bawa makanan itu ke sekolah?" sindir Chae Rin.


"Tapi beneran bukan saya," Bitna membela dirinya.


"Sudahlah. Hal kecil seperti ini jangan dijadikan keributan besar. Dan buku-buku yang basah itu ya salah kamu sendiri karena sudah lalai," kata Pak Kang.


"Pak, saya mengajukan permintaan untuk mengecek CCTV kelas," ucap Bitna lantang.


"CCTV?" ulang Pak Kang dengan terbata-bata. "Mau apa kamu dengan CCTV?"


"Saya mau mencari pelaku yang telah menganggu saya di kelas. Ini bukan pertama kalinya terjadi," kata Bitna.


"Itu tidak perlu. Hanya membuang-buang waktu saja. Lebih baik kamu juga harus membersihkan kelas ini sampai wangi. Saya tidak bisa mengajar kalau masih bau," tolak Pak Song.


"Jika Bapak tidak mengizinkan, maka saya akan memintanya langsung kepada pihak keamanan sekolah," ancam Bitna.


"Sudah saya katakan itu tidak perlu, Bitna. Itu hanya akan mempermalukan dirimu sendiri nanti. Bisa saja ada yang tidak sengaja menumpahkannya," tolak Pak Song lagi.


Tentu saja guru muda itu tidak mengizinkannya. Karena hal itu sama saja dengan membuka aibnya sendiri.


"Untuk sementara kelas pagi ini dikosongkan, sampai ruangan bersih dan wangi kembali. Kalian boleh melakukan apa pun asal tidak mengganggu kelas lain," lanjut Pak Kang sebelum meninggalkan kelas.


...🍎🍎🍎...


Setelah Pak Song pergi, para siswa pun berhamburan keluar kelas. Rata-rata dari mereka menuju ke ruang klub masing-masing.


Hanya tinggal Bitna dan Eunjo saja yang berada di dalam kelas.


Oh, tidak. Ternyata ada satu siswa lagi.


"Bitna, kudengar aroma jahe dan cengkeh bisa mengurangi bau tak sedap dari meju dan chueotang," kata Kim Yura, siswi paling pendiam di kelas.


"Eh?" Bitna tidak menyangka dengan sikap Yura.


"Bu-bukan aku kok yang meletakkan makanan itu di sana. Aku kebetulan membawanya untuk praktek masak hari ini, " kata Yura takut.


"Tenanglah Yura, aku tahu kamu siswi yang baik. Bukan kamu pelaku semua ini," kata Bitna sambil mengukir senyum di bibirnya.


"Aku cuma heran, kenapa kamu tidak ikut keluar bersama mereka? Bukankah ruangan ini sangat bau?" lanjut Bitna.


"Aku sudah biasa mencium aroma seperti ini. Nenekku di kampung adalah pemilik rumah makan tradisional. Karena itu juga aku tertarik untuk mengikuti klub memasak," kata Yura.


Bitna tertawa kecil. Ternyata Yura bukanlah gadis pendiam seperti yang mereka kenal selama ini.


"Tapi Bitna, apakah kalian bisa memenuhi permintaanku?" ucap Yura.


"Permintaan seperti apa?" kata Eunjo dengan nada agak tinggi.


"Eunjo, jangan marah-marah dulu. Yura jadi takut, nih," sela Bitna.


"Ah, maaf. Katakanlah permintaanmu," kata Eunjo.


"Anu... Jangan kasih tahu siapa-siapa kalau aku membantumu," ucap Yura.


"Tentu saja. Kami akan menjaga rahasiamu," kata Bitna dengan tegas.


"Sebenarnya aku juga tahu, siapa pelakunya. Tapi aku takut nanti mereka..."


"Kalau kamu takut ya tidak usah dikatakan. Yang penting dirimu aman."


"Betul itu yang dikatakan Eunjo. Yang penting adalah keselamatanmu," ujar Bitna. "Terima kasih ya, Yura," lanjutnya.


"Ah, i-itu hanya hal kecil saja. Aku berharap semoga mereka segera mendapatkan balasannya," bisik Yura.


"Yah, mereka memang akan mendapatkan balasan. Karena aku akan membalasnya secara langsung," ucap Bitna dalam hati.


(Bersambung)