Metamorphosis

Metamorphosis
S.2 Bab 1 - Sudah Pergi



Tap! Tap! Tap!


Suara langkah kaki mengenakan sepatu berhak tinggi, menggema di seluruh lorong kelas satu SMA Seodaemu-Gu.


Seorang siswi cantik berjalan dengan angkuhnya, di antara para siswa yang sedang berkerumun.


Tampilannya begitu mencolok dibandingkan murid perempuan lainnya. Seragam yang sedikit ketat, potongan rok di atas lutut dan rambut yang dibentuk sedikit bergelombang. Bibirnya yang mungil juga dipoles lipstik berwarna ringan.


"Hei, lihat. Gadis itu kembali lagi," bisik beberapa orang murid perempuan.


"Wah, nggak tahu malu. Dia masih berani datang ke sekolah ini setelah kejadian itu," ucap siswa lainnya.


"Lihat gayanya, sekarang dia berani tampil sexy secara terang-terangan. Dia mau menggoda siapa lagi kali ini?" kata beberapa murid laki-laki.


"Sepatu model apa, tuh? Emangnya dia mau jadi sales asuransi di sini?" Beberapa siswa tertawa kecil.


"Harusnya dia sudah dikeluarkan, tapi kenapa malah masih ada di sekolah ini? Memangnya sekolah ini punya ayahnya?" sindir beberapa siswi lainnya.


Siswa cantik dengan rambut indah sebahu itu, hanya tertawa kecil mendengar ocehan para siswa itu di belakangnya.


Tanpa mempedulikan semua omongan miring tersebut, gadis itu tetap melangkah maju dengan percaya diri.


"Dasar orang-orang bodoh! Memangnya aku bakal takut cuma dengan omongan kayak gitu?" ujarnya sambil tersenyum sinis.


Tep! Remaja sexy itu menghentikan langkah kakinya di depan pintu.


"Hah? Min Ji?" seru Ahn Chae Rin.


"Kau siapa? Aku nggak mengingatmu lagi," ucap gadis itu sambil berlalu.


"Ckk...!" Chae Rin berdecak kesal. "Kau pikir, kau bisa hidup sendirian di sekolah ini?" ujarnya.


"Memangnya kemarin siapa yang duluan meninggalkanku saat tertimpa masalah?"


Min Ji menoleh ke arah mantan sahabatnya. Ia menunjukkan senyum sinis pada siswi peringkat terendah di kelas itu.


"K-kau? Aku nggak meninggalkanmu. Kau sendiri yang membuat masalah itu diluar kendali kita?" Chae Rin membela diri.


"Lalu sekarang? Kau mau apa kembali mengajakku berteman? Mau melindungiku? Atau demi kepentinganku sendiri?" tanya Min Ji.


Beberapa teman sekelas mulai menjauh dari kedua siswa tersebut. Mereka tidak pernah melihat pertengkaran para gadis yang terkenal sangat akrab itu. Menjauh adalah pilihan yang terbaik.


"Kau menuduhku? Semua murid sudah menjauhimu karena skandal itu. Apa kau mau sendirian di sekolah ini?" tanya Ahn Chae Rin meyakinkan.


"Aku nggak peduli. Yang jelas, aku akan membalas perbuatan cewek miskin, yang hampir menghancurkan hidupku," ucap Min Ji tegas.


"Huh? Siapa?" Chae Rin kembali tertawa. "Maksudmu Bitna? Dia udah pergi jauh dari sini. Gimana caramu membalas dendam?"


"Dia sudah apa kau bilang?"


"Dia sudah di Indonesia. Apa kau mau menyusulnya ke sana?" ujar Seon Wooil yang baru saja tiba.


...🍎🍎🍎...


Satu minggu sebelum Kim Min Ji kembali ke sekolah.


"Bitna, jangan lupa bawa ini."


Bibi meletakkan setumpuk kotak makanan di atas meja.


"Apa ini, Bi?" tanya Bitna sambil berberes barang-barangnya.


"Ini baechu kimchi, ini chonggak kimchi kesukaanmu, lalu ini meju dan gochujang," jelas bibi sambil menunjuk ke kotak makanan itu satu per satu.


Bitna mendekati Seo Dami lalu memeluknya, "Bi, aku pasti akan merindukan masakan Bibi. Tapi aku nggak bisa membawa ini semua," kata Bitna.


"Apa tas kopermu sudah penuh?" ucap bibi dengan raut wajah kecewa.


"Bu, di pesawat itu nggak bisa membawa sembarang benda. Apalagi yang punya aroma kuat seperti meju," jelas Yeon Woo.


"Apa kamu mau Bitna diusir dari pesawat cuma gara-gara bau makanan?" kata paman pula.


"Begitu, ya? Sedikit juga nggak boleh?" tanya bibi penuh harap.


"Nggak bisa, Bu. Nanti malah koper Bitna dibongkar petugas keamanan," ucap Yeon Woo lagi.


"Makanan Indonesia kan enak-enak, Bu. Beberapa juga mirip dengan makanan Korea," timpal Ara.


"Tapi nggak akan bisa beradaptasi dengan makanan di sana. Pasti butuh waktu," kata bibi tidak menyerah.


"Bu, coba lihat ini," kata Yeon Woo menunjukkan sesuatu di layar HPnya.


"Sekarang makanan Korea sudah banyak dijual di luar negeri, termasuk Indonesia," ujar cowok itu.


"Oh, gitu ya? Tapi Bitna kan nanti tinggal di asrama. Pasti nggak bebas untuk belanja di luar."


"Bi, menu makanan di sana sudah disesuaikan dengan negara masing-masing, kok. Bibi jangan khawatir, ya," ucap Bitna menenangkan sang bibi.


"Oh, tapi mungkin aku bisa membawa gochujangnya," lanjut Bitna.


"Makanan yang udah Bibi buat ini untuk kita sama-sama aja, ya. Aku kan berangkatnya masih nanti siang."


"Bu, apa ibu akan membuatkan bekal sebanyak ini juga, kalau aku pergi wamil* nanti?" tanya Yeon Woo.


*Wamil: wajib militer


"Nggak, kau harus hidup mandiri. Kalau perlu kau memakan akar alang-alang dan menangkap belalang ketika kelaparan dan kehausan nanti," ucap bibi pada putranya.


"Ibu kenapa tega banget sih sama aku?" seru Yeon Woo tidak terima.


Ara dan Bitna tertawa melihat ulah kakak laki-laki mereka.


...🍎🍎🍎...


Bandara Internasional Incheon, Korea Selatan.


"Janji, ya. Kau harus menghubungiku satu minggu sekali," ucap Eunjo.


"Aku nggak bisa janji. Karena masih belum tahu gimana peraturan di Asrama nanti. Tapi kalau ada kesempatan, aku pasti akan menghubungi kalian semua," kata Bitna.


Gadis itu berusaha mengukir senyum di wajahnya. Ia tidak ingin semua orang yang mengantarnya, melihat air matanya mengalir.


Beberapa orang siswa pertukaran pelajar, juga masih berpamitan dengan keluarga mereka masing-masing. Sayangnya, mereka semua tidak ditempatkan di sekolah yang sama nantinya.


"Ini untukmu, Nak. Maaf bibi baru memberikannya sekarang." Bibi menyerahkan sebuah amplop pada keponakannya.


"Apa ini, Bi?"


"Buku rekening. Paman dan bibi sudah berkonsultasi ke bank. Katanya bank ini ada juga si Indonesia. Jadi kau bisa mengambilnya kapan saja," kata paman.


"Apa aku boleh menerimanya?" tanya Bitna ragu, setelah melihat jumlah angka yang tertulis di buku itu.


"Itu milikmu, Nak. Uang asuransi dari mendiang ibumu."


"Ayo, anak-anak. Sudah waktunya," seru seorang pimpinan rombongan pertukaran pelajar dari Korea Selatan itu.


"Hati-hati, Nak. Kau harus kembali ke Korea."


Paman dan bibi memeluk Bitna bergantian.


"Tenang, Pak. Aku akan menjaga anak-anak ini dengan baik, sampai pulang ke Korea lagi," kata Yujeong Park, pendamping Bitna dan beberapa siswa lainnya.


"Sampai jumpa lagi semuanya," ucap Bitna menggunakan Bahasa Indonesia.


"Bu, aku pergi sebentar. Aku akan pulang membawa ayah menemui ibu nanti," doa Bitna dalam hati.


Gadis mungil itu lalu melangkahkan kakinya dengan mantap bersama teman-teman lainnya.


"Maaf, paspor Anda palsu, Dik," tolak petugas imigrasi bandara, ketika melakukan pemeriksaan administrasi.


"Palsu? Nggak mungkin, Pak. Dia ini kan siswa pertukaran pelajar. Kami satu rombongan," bantah Yujeong Park.


"Untuk siswa lainnya memang bermasalah. Tapi khusus yang bernama Seo Bitna, datanya tidak terbaca di sistem kami. Dan ini merupakan paspor tembak, tidak resmi," kata petugas itu.


"Masa, sih? Lalu sekarang gimana?" ucap Yujeong Park bingung.


(Bersambung)