
Satu hari sebelum pengumuman artikel ilmiah…
"Seon Wooil! Apa-apaan ini? Ayah sudah melihat hasil ujianmu. Ada yang mau kamu katakan pada ayah?”
Seon Wooil yang baru saja pulang merasa kesal dengan omelan sang ayah, “Kalau Ayah sudah tahu, apa lagi yang harus ku katakan?” ucapnya.
“Bukannya kamu sudah berjanji untuk menjadi yang nomor satu?" desak Tuan Seon Kang Nam.
Seon Wooil melemparkan tasnya ke lantai, "Aku baru saja pulang. Bukannya menanyakan kabarku, tapi langsung menanyakan hal itu?" ucapnya kesal.
"Jangan mengalihkan pembicaraan. Kau mau jadi apa dengan hasil ujianmu yang seperti itu? Kau pikir universitas akan menerimamu hanya karena Ayah orang terpandang di kota ini?" ujar Tuan Seon Kang Nam.
“Ayah tidak mau kau gagal dalam Suneung dan menganggur satu tahun,” lanjut Tuan Seon.
“Kalau nggak lulus di Korea, aku kan bisa kuliah di luar negeri.”
“Kau pikir ujian masuk kuliah di luar negeri lebih mudah diandingkan suneung di Korea? Gak usah banyak alasan. Ayah hanya ingin kau juara satu di kelas dan juara umum di angkatanmu. Bukan permintaan yang sulit, kan?”
"Ayah, aku hanya peringkat dua di sekolah... Bukan peringkat dua di kelas," balas Seon Wooil.
"Nah, itu maksud Ayah. Kalau anak yatim piatu saja bisa menjadi juara umum satu, kenapa kamu yang semuanya serba terpenuhi hanya bisa juara dua?”
“Ayah juga tidak pernah mendengar prestasimu, selain membaca namamu di daftar tukang bully sekolah,” omel Tuan Seon.
“Anak yatim piatu? Maksud Ayah Bitna? Bagaimana Ayah bisa mengenalnya?” tanya Seon Wooil curiga.
“Ayah kan punya banyak mata dan telinga di sekolahmu itu. Permintaan Ayah kan bukan yang aneh-aneh. Kau hanya perlu menjadi peringkat satu.”
"Dan Ayah harap, kamu tidak terlalu sering bergaul dengan Putri keluarga Ahn dan keluarga Kim," ujar Tuan Seon.
“Hhhh… Andai saja Ibu masih hidup, dia pasti tidak akan menuntutku sebanyak ini,” keluh Wooil.
“Pilihan ada di tanganmu. Kalau kau gagal mendapat juara satu di semester ini, maka semua fasilitasmu akan Ayah cabut,” ancam Tuan Seon menutup pembicaraan.
“Ayah!”
🍎🍎🍎
Hari pengumuman artikel ilmiah...
"Selamat pagi Bu Guru Aram."
"Selamat pagi, Wooil. Ada apa pagi-pagi sekali menemui Ibu?" sahut Bu Aram dengan ramah.
"Apakah Ibu sudah melihat video ini?"
Seon Wooil menunjukkan sepasang kekasih yang memasuki gedung bioskop pada Bu Aram.
Tidak ada sesuatu yang aneh. Mereka hanya menghabiskan waktu di malam sabtu dengan menonton bersama. Setelah itu dilanjutkan dengan makan malam di sebuah tempat sederhana di tepi Sungai Han.
Akan tetapi, video itu ternyata membuat ekspresi Bu Aram berubah seketika.
Mata Bu Aram membesar melihat video tersebut. Tangan kanannya mengepal, "Dari mana kamu mendapat video ini?" ucapnya.
"Ibu nggak tahu? Pria dalam video ini adalah kakak saya. Artinya, anak dari salah satu komite elit sekolah," ucap Seon Wooil.
Bu Aram merebut smartphone milik siswanya dan menghapus video tersebut.
"Percuma, Bu. Video itu sudah saya unggah ke forum komunitas sekolah.”
“Apa kamu bilang?” Bu Aram buru-buru mengecek HPnya.
“Ah, saya lupa bilang. Video itu baru bisa dilihat mulai jam sepuluh nanti, karena saya menggunakan timer saat mengunggahnya."
Seon Wooil tersenyum tipis, melihat Bu Aram merapatkan barisan giginya yang putih.
“Gimana saya bisa percaya kalau itu saudaramu? Tuan Seon tidak pernah menceritakan apa pun tentangnya,” ucap Bu Aram.
Wooil menyodorkan smartphonenya dan menunjukkan kartu keluarga. Setelah itu ia juga menunjukkan beberapa foto keluarga bersama sang kakak, Seon Min Jung.
Bu Aram tidak bisa berkata apa-apa melihat bukti-bukti tersebut. Kedua tangannya terlihat gemetar. Wajahnya pun bagaikan manekin, sangat pucat.
“Ta-tapi, kalau kamu menyebarkan video tersebut, bukannya membuka aib keluargamu juga?” kata Bu Aram beberapa saat kemudian.
“Sayangnya kakak laki-lakiku yang polos itu tidak mengetahui, kalau pacarnya telah memiliki suami,” jawab Wooil.
Lagi-lagi remaja cowok itu menunjukkan bukti percakapannya dengan sang kakak. Bahkan, pria yang kini berstatus mahasiswa magister ekonomi di Boston - Amerika itu, siap memutuskan sang pacar jika terbukti sudah menikah.
"Gimana ya, reaksi para siswa dan guru lainnya, melihat guru teladan yang telah menikah, kencan dengan pria lain?" bisik Seon Wooil.
“Ah, saya pernah dengar. Jika dipecat dari sekolah ini, maka akan sangat sulit mencari pekerjaan baru di seluruh negeri ini,” lanjut Wooil.
Grttt! Bu Aram menggeretakkan giginya. Kedua alisnya bertaut, "Apa yang kamu inginkan dariku?" ucapnya.
Wooil tersenyum melihat sang guru yang masuk ke dalam perangkapnya.
"Beberapa minggu lalu saya pernah melakukan riset ilmiah dengan seseorang. Tetapi ku dengar, dia mengajukan karya tulis hanya atas namanya. Kenapa begitu, ya?" ucap Wooil.
"Ap-apa mak-sudmu?" tanya Bu Aram terbata-bata. Pikirannya sudah sangat kalut.
"Yah... Pengumuman karya ilmiah yang lolos terbit itu kan tinggal beberapa jam lagi. Sama dengan jadwal video tersebut diunggah secara luas,” ujar Wooil mulai melancarkan aksinya.
“Saya berharap hanya ada satu nama dalam karya tulis tersebut, tetapi bukan nama gadis culun itu,” lanjut Wooil.
“Tapi, kamu kan tidak mengikuti riset itu hingga selesai? Kamu juga tidak membuat laporannya? Bagaimana bisa namamu tercantum dalam karya ilmiah tersebut?”
"Yah, saya hanya mengingatkan saja. Masa depan Ibu tergantung pada tindakan Ibu saat ini," ucap Wooil sebelum meninggalkan ruang guru yang mulai ramai.
...🍎🍎🍎...
Satu hari setelah pengumuman karya ilmiah…
“Hahh… Kenapa nggak mau hilang, sih? aku udah kayak zombie, nih. Gimana nanti di sekolah?”
Bitna mengoleskan bedak dengan tebal di bawah area mata. Sayangnya ia tidak memiliki make up maupun skin care, layaknya para remaja seusianya.
Dua menit telah berlalu, akan tetapi lingkar matanya yang menghitam tidak juga memudar. Kabar sang ayah, kasus bully, diskriminasi oleh oknum guru, hingga ketidak adilan dari paman dan bibinya, membuatnya terjaga semalaman.
“Hhh… Rasanya aku ingin menghilang saja dari negara ini,” pikir Bita putus asa.
Sebenarnya Bitna sudah mengambil keputusan, dan ia bertekad memberi tahu paman dan bibi pagi ini.
“Bitna, ayo keluar. Saatnya sarapan,” seru bibi.
“Baik, Bi.”
Bitna memasukkan bibimbap dan Miyeol Guk ke dalam mangkuk sarapannya. Hatinya berdebar kencang hendak menyampaikan sesuatu.
“Paman, Bibi… Aku…” Bitna menghentikan kalimatnya di tengah-tengah.
“Ya?” gumam paman.
“A-aku… Ingin mengikuti pertukaran pelajar.” Bitna ahirnya mengugkapkan keinginanya.
"Oh, ya? Ke mana? Jepang? China?" tanya paman antusias.
"In-do-ne-si-a," ucap Bitna terbata-bata.
"Indonesia? Maksudmu Asia Tenggara?" seru bibi. Bitna mengangguk.
“Tidak boleh!” larang bibi dengan tegas.
(Bersambung)