
"Pak Song Gae Nam, kenapa jadi begini?" tanya Pak Gil Som Yung, Kepala Sekolah.
"Maafkan saya, Pak," jawab Pak Song tertunduk lesu.
"Apa kau serius mengencani gadis itu? Siapa yang menggoda duluan?" selidik Kepala Sekolah lagi.
Pak Song menutup rapat mulutnya. Ia diam seribu bahasa, bagaikan sandra perang dari luar negeri.
"Haaah... Kenapa belakangan ini banyak sekali masalah di sekolah," keluh Pak Som Yung.
"Pak Song, kamu masih beruntung karena lisensi mengajarmu nggak dicabut. Padahal video kalian sudah tersebar ke mana-mana," ucap Pak Som Yung.
Song Gae Nam, guru Matematika tampan itu masih mengatupkan kedua bibirnya.
"Kau itu seorang guru, harusnya memberi contoh yang baik di depan para siswa. Bukan malah mempermalukan nama baik sekolah," ceramah Kepala Sekolah.
"Kalau lisensimu sampai dicabut sama dinas pendidikan, aku nggak bisa berbuat apa-apa lagi untuk membantumu," ujar Pak Som Yung.
Grrrttt... Song Gae Nam mengepalkan kedua tangannya. Dadanya bergemuruh.
"Jangan terlalu banyak menasehati saya, kalau Bapak sendiri masih melakukan KKN. Setidaknya saya nggak munafik seperti Bapak," ucap Song Gae Nam.
*KKN\= Korupsi Kolusi Nepotisme
"Hei, kau!" seru Pak Som Yung. Matanya terbuka lebar, menunjukkan ia sangat marah.
Drrrtt...
HP Song Gae Nam bergetaSebuah pesan dari Min Ji diterima Song Gae Nam.
"Huh, belalang itu masih bergantung padaku rupanya," gumam Pak Song sambil tersenyum tipis.
"Huh, kena kau gadis manja?" batin Pak Song sambil menekan tombol send.
Pria itu tidak mempedulikan Kepala Sekolah yang sedari tadi memperhatikannya.
...🍎🍎🍎...
"Selamat pagi, Bu Guru."
"Pagi, Bitna. Ada apa kau pagi-pagi ke sini? Sebentar lagi bel masuk," sahut Bu Hana.
"Saya ingin memberikan formulir pendaftaran ini. Saya sudah mendapatkan tanda tangan persetujuan paman dan bibi.
Bitna menyerahkan lembaran kertas yang disusun rapi dalam map, ke atas meja wali kelasnya.
"Oh..."
Ekspresi wajah Bu Hana berubah seketika. Senyum menghilang dari wajah cantiknya. Kedua alisnya bertaut dan ujungnya melengkung ke bawah.
"Ada apa, Bu?" tanya Bitna hati-hati. Ia merasakan firasat buruk.
"Jadi gini, karena masalah video yang tersebar kemarin, untuk sementara sekolah menutup aksea pada beberapa siswa, termasuk dirimu," ucap Bu Hana.
"Kenapa?" tanya Bitna tidak terima.
"Ibu kurang tahu. Tetapi sepertinya mereka membatasi ruang gerak beberapa siswa sampai masalah ini selesai," kata Bu Hana.
"Itu nggak adil. Kenapa kami yang terkena dampaknya? Sementara mereka yang melakukan kesalahan nggak diberikan sanksi," kata Bitna.
"Ya gimana lag? Kita nggak bisa mengubah perintah itu," jawab Bu Hana.
"Apa nggak ada cara lain, Bu? Kegiatan apa saja yang dibatasi mereka?" tanya Bitna.
Gadis itu masih belum mau menyerah. Ia harus memperjuangkan harapan satu-satunya untuk bebas dari sekolah ini.
"Kamu hanya diizinkan mengikuti pelajaran di kelas saja. Tidak ada les dan kursus, tidak boleh ikut lomba dan menulis karya ilmiah, apalagi mengikuti kegiatan ke luar negeri," jelas Bu Hana.
"Apa itu hukuman itu masuk akal, Bu? Ini namanya eksploitasi. Terus mereka yang jelas-jelas bersalah diberi sanksi apa?" desak Bitna tak mau kalah.
"Bitna. Demi kebaikanmu sebaiknya kita ikuti saja aturan ini. Semoga saja masalahnya segera selesai," ucap Bu Hana.
"Bu Guru. Lanjutkan saja pendaftaran Bitna itu. Aku jamin tidak ada yang bisa menghalanginya."
Tiba-tiba Wooil berada di belakang Bitna.
"Aku udah menduga, kalau kau pasti nggak aman sejak video itu tersebar," sahut Wooil.
"Ini bukan masalah kecil, Wool," ucap Bu Hana.
"Apa Bu Guru lupa, aku ini siapa?" sahut Wooil dengan angkuh.
"Aku jamin Bitna tetap bisa kursus persiapan ke luar negeri seperti biasa. Aku juga menjamin Kepala Sekolah menandatangani surat izin. Kalau mau, aku bahkan bisa membuatkan paspor untuknya," kata Wooil.
"Wooil, terima kasih atas bantuanmu. Tetapi aku mau berhasil dengan usahaku sendiri," tolak Bitna dengan halus.
"Apa kau bisa menang melawan mereka sendirian? Nggak, kan?" tanya Wooil.
Bitna hanya bungkam sambil menghela napas.
"Dengarkan aku, kucing kampung! Aku hanya mengawal agar mereka nggak menghalangi langkah kakimu. Tetapi soal kau lulus atau tidak, itu tergantung dari usahamu sendiri," jelas Wooil.
"Apa nanti nggak menimbulkan masalah baru?" tanya Bu Hana.
"Bu Guru pasti belum lihat video viral pagi ini. Dengan video skandal mereka di kelas, dan juga video bully yang tersebar kemarin, mereka nggak bakal bisa apa-apa lagi," kata Wooil.
"Video bully?" ucap Bitna dan Bu Hana bersamaan.
...🍎🍎🍎...
"Hei, Wooil! Tunggu aku!" seru Bitna di lorong sekolah.
"Kenapa kau terus-terusan menolongku? Apa tujuanmu sebenarnya?" tanya Bitna sambil berlari tergopoh-gopoh.
"Tinggal bilang terima kasih kayak kemarin apa susahnya, sih? Kau masih curiga sama aku?" Wooil balik bertanya.
"Bukannya kau benci sama aku? Tapi kenapa malah menolongku? Kau juga pernah ikut membullyku, kan?" Bitna menghujani Wooil dengan pertanyaan.
Tap!
Wooil menghentikan langkahnya, lalu berbalik badan.
"Hei kucing kampung, kalau ditolong itu tinggal bilang terima kasih aja. Nggak usah banyak protes," kata Wooil.
Deg! Deg! Deg!
Detak jantung Bitna tidak beraturan. Wajah cowok itu terlalu dekat dengan dirinya.
Bitna bisa melihat mata cokelat yang indah. Bulu mata lentik, dan hidung mancung sempurna.
Harum parfum yang lembut membuat serotonin di dalam tubuh Bitna meningkat.
"Aih, aku ngapain, sih?" pikir Bitna dalam hati.
"Kenapa kau? Mau ungkit-ungkit kesalahanku lagi?" tanya Wooil.
"Ng-nggak, kok. Kau ngapain, sih? Ini terlalu dekat."
Bitna menghentakkan sepatunya dua langkah ke belakang.
"Huh? Kau berdebar melihat wajahku? Sayangnya aku nggak akan tertarik sama kucing kampung kayak kamu," balas Wooil sambil tersenyum tipis.
"S-siapa juga yang suka padamu? Jangan GR. Di kepalaku isinya cuma buku aja," balas Bitna pula.
"Oh, ya? Baguslah kalau gitu. Kau harus ingat kata-katamu itu selamanya," ucap Wooil.
"Lagian nih, aku sebenarnya bukan membantumu. Aku cuma ingin membuangmu jauh-jauh dari sekolah ini, biar aku bisa jadi nomor satu," lanjut Wooil sambil berkecak pinggang.
Bitna mengerutkan keningnya, "Kau nggak sadar? Yang kau bilang 'membuang' itu sebenarnya malah semakin membuatku jadi nomor satu," ujar Bitna.
"Nggak masalah. Asalkan kau lulus ke luar negeri dan meninggalkan sekolah ini," kata Wooil.
"Oke! Kalau gitu aku akan berjuang agar lulus pertukaran pelajar. Dan setelah aku balik lagi ke sekolah ini, kau harus siap-siap bersaing denganku," kata Bitna.
"Deal!" jawab Wooil tanpa pikir panjang.
(Bersambung)
Hai gaes, kalian penasaran sama nama Pak Guru di HP Min Ji?
Nih, aku kasih bonus isi chat versi Min Ji...