Metamorphosis

Metamorphosis
Bab 6 – Video itu...



Bitna menyandarkan punggungnya ke kursi. Beruntung, ia masih sempat mengejar bus sebelum jam tujuh, dan mendapat tempat duduk di belakang.


Kemarahan bibi padanya hampir saja membuat gadis itu terlambat ke sekolah. Jika siswa lain mungkin tidak masalah. Tetapi untuk siswa yang benar-benar hanya mengandalkan integritas dan otak seperti Bitna, terlambat sekali saja akan menjadi masalah. Bisa saja beasiswanya dicabut.


“Huft… Sepertinya mulai besok aku harus jalan kaki ke sekolah,” gumam Bitna ketika melihat isi dompetnya.


Biaya merapikan potongan rambutnya yang hampir digunduli oleh Chae Rin dan kelompoknya, ternyata benar-benar menguras isi dompetnya.


“Yah… Aku gak mungkin minta pada bibi. Perubahan rambutku saja tidak ditanya sama sekali,” keluh Bitna.


Bukan hanya tubuhnya, tetapi hati dan pikiran gadis itu juga sangat lelah. Di negara yang keras ini, ia hanya seorang diri menghadapi semua badai yang datang.


Meski puk Seo Dami adalah adik kandung ayahnya, tapi Bitna tidak bisa berharap banyak dari bibinya tersebut. Sudah diziizinkan tinggal di sana saja, Bitna sudah sangat bersyukur.


“Rasanya aku ingin pergi sejauh mungkin dari tempat ini,” gumam Bitna lagi.


Tapi ke mana? Bibinya adalah satu-satunya keluarga Bitna saat ini.


Ibu Bitna, Shin Mi Sun, adalah anak satu-satunya. Kakek neneknya dari pihak ibu sudah tiada sejak Bitna belum lahir.


“Gimana kabar ayah, ya? Apa kapalnya sudah ditemukan?” pikir Bitna sedih.


...🍎🍎🍎...


"Hei, Bitna. Kamu baik-baik saja semalam? Maafkan aku meninggalkanmu sendirian," ucap Eunjo di gerbang sekolah. Wajahnya terlihat sangat cemas.


"Y-ya. Aku nggak apa-apa,” jawab Bitna.


"Serius, kamu beneran nggak apa-apa? Aku udah lihat videonya, loh," kata Eunjo meyakinkan.


"Eh, video apa?" gumam Bitna bingung.


"Hei, Seo Bitna. Kamu di panggil ke ruang kepala sekolah, tuh," ujar Kim Youra, teman sekelas Bitna.


"Aku?"


"Ya, cepatlah. Ditunggu sekarang,” ujar Youra.


"Duh, ada apa, ya?" pikir Bitna cemas. Remaja itu segera menuju ke ruang kepala sekolah yang terletak di lantai dua Gedung utama.


"Permisi, Pak. Apakah Anda memanggil saya?" ucap Bitna di depan ruang kepala sekolah.


"Ah, benar. Masuklah. Ada yang ingin kami bicarakan padamu."


"Eh, kenapa ada Tuan Ahn Jo Pyo dan Tuan Kim Hyunseung?" Bitna semakin cemas.


Ahn Jo Pyo, ayah dari Ahn Chae Rin, adalah pemilik usaha property di wilayah Gangnam dan Itaewon.


Sementara Kim Hyun Seung adalah ayah dari Kim Min Ji yang juga actor dan model senior di Korea.


"Kamu pasti sudah lihat video ini, kan?" ucap Pak Kepala Sekolah.


Sebuah video ditampilkan melalui layar. Kedua bola matanya membesar, melihat tayangan sekelompok remaja membully teman sekolah mereka.


"Eh, i-itu kan aku kemarin sore?" batin Bitna.


Ya, video tersebut adalah tindakan Ahn Chae Rin, Kim Min Ji dan beberapa siswi lainnya yang sedang membully Bitna.


"Jadi kamu tidak menyangkalnya, ya? Nah, apa pendapatmu tentang video ini?" tanya Kepala Sekolah.


"S-saya, me-merasa tindakan itu sa-sangat..."


"Eh?" Bitna terkejut mendengarnya.


"Video ini diunggah oleh akun anonim ke komunitas elit sekolah tadi malam. Beruntung admin menghapusnya sebelum banyak yang melihat," jelas kepala sekolah.


Bitna hanya terdiam mendengarnya. Ia masih belum paham, ke mana arah pembicaraan ini. Komunitas elit sekolah, berarti para donatur kalangan atas?


"Kami akan meminta maaf atas tindakan tidak terpuji dari anak kami. Kami juga tidak akan mencari tahu siapa yang merekam dan menyebarkan videonya, jika kamu mau melakukan satu hal kecil."


Dada Bitna terasa nyeri mendengar kalimat itu, "Kenapa harus ada syarat jika ingin meminta maaf? Di sini kan saya yang menjadi korbannya" protes Bitna.


"Bukan seperti itu, Bitna," sela kepala sekolah. "Kamu pasti juga akan malu kan, jika video ini tersebar? Kamu pasti akan dikucilkan sebagai korban bully nanti,” kata kepala sekolah.


"Nah, hal ini juga akan sangat memalukan bagi keluarga Ahn dan keluarga Kim, jika banyak yang melihatnya," lanjut pria itu.


"Saya tidak malu," jawab Bitna tegas. Ia harus berani mempertahankan harga dirinya dan menegakkan keadilan.


"Bagaimana jika seseorang tahu, jika putri Kapten Seo Il Sang ternyata jadi korban bully? Pasti keluargamu akan malu."


"Kenapa harus malu? Korban bully kan tidak bersalah. Justru harusnya para pembully itu yang malu karena telah berbuat hal tidak terpuji," ucap Bitna.


“Saya tidak ingin menerima ucapan permintaan maaf yang tidak tulus itu,” lanjut Bitna.


Gadis itu tidak bisa menyembunyikan tubuhnya yang gemetar ketakutan. Bagaimana tidak? Yan dilawannya adalah orang-orang besar di negara ini.


“Bitna, sepertinya kamu salah paham. Seseorang tidak akan membullymu begitu saja. Jika mereka melakukannya, berarti ada kekurangan dalam dirimu. Apakah kamu ingin menunjukkan kekurangan putri Kapten Seo Il Sang ini ke hadapan public?” jelas kepala sekolah.


“Jadi Bapak membenarkan tindakan bully itu dan menyalahkan korbannya?” kata Bitna dengan suara bergetar. Hatinya benar-benar geram. Apakah tidak ada satu pun yang membelanya di sini?


“Nak, kamu masih sangat belia. Belum tahu kerasnya dunia. Sesuatu tidak mungkin terjadi tanpa ada penyebabnya,” ucap Tuan Kim Hyun Seung.


Bitna menghela napasnya dalam-dalam. Sepertinya percuma saja menjelaskannya pada orang-orang borjuis ini.


Mereka memiliki segalanya dan mampu mengatur segalanya hanya dengan uang, kedudukan dan jabatan yang mereka miliki.


“Kamu sudah terlalu banyak memakan waktu kami yang sangat berharga,” ucap Tuan Ahn Jo Pyo.


“Sudahlah, jika kamu ingin tetap bersekolah di sini, maka ikuti saja permintaan kami dengan baik. Jangan membantahnya.”


Tuan Ahn Jo Pyo lalu mengatakan sesuatu yang harus dilakukan Bitna.


“Tidak! Saya tidak akan melakukannya!” bantah Bitna dengan tegas.


“Apa kamu siap jika harus meninggalkan sekolah ini?” kata Tuan Kim Hyun Seung pula.


Bitna tertunduk lemas mendengar ancaman tersebut. Tetapi tidak ada cara lain. Ia harus berani memperjuangkan keadilan untuk dirinya sendiri.


"Jika saya terus diancam, maka saya akan mengungkapkan semua fakta tersebut. Dan mungkin, saya juga akan mencari tahu siapa yang merekam video tersebut untuk meminta salinannya," jawab Bitna lagi.


Ketiga pria paruh baya itu saling berpandangan, lalu tertawa terbahak-bahak.


“Kamu pikir siapa yang akan dipercaya orang? Kamu yang tidak terdidik dan tidak punya orang tua ini, atau kami?” kata Tuan Ahn Jo Pyo.


“Oh, satu lagi,” gumam Tuan Ahn. “Berikan HP Bututmu itu. Aku akan menghapus semua rekaman.”


Bitna terkejut. Ia tidak menyangka jika aksinya merekam pembicaraan tersebut diketahui oleh Tuan Ahn.


(Bersambung)