
"Hei, kok melamun?" Alva menghampiri Bitna yang tampak termemung di tepi balkkon lantai dua.
"Nggak ada apa-apa, kok," kata Bitna. "Langitnya bagus, ya?"
Alva mengerutkan keningnya, "Memangnya langit di Korea dengan Indonesia beda, ya?" tanya siswa yang peraih juara umum tahun lalu.
Bitna membalikkan badannya, menghadap ke arah Alva. Kini ia bisa melihat tatapan tajam dari pemuda itu. Sorot matanya hangat. Memancarkan rasa bahagia bagi siapa pun yang melihatnya.
"Kenapa?" tanya Alva. Ia merasa malu, Bitna memandangnya cukup lama.
"Alis matamu bagus, ya," ucap Bitna.
"Hah?" Alva semakin salah tingkah. Pipi hingga telinganya memerah. Tubuhnya terasa hangat.
"Kau belum menjawab pertanyanku tadi," kata Alva mengalihkan pembicaraan.
"Pfffttt.. Kamu salting, ya?" tawa Bitna.
"Salting? Dari mana kamu dapat istilah itu? Jarang sekali orang luar negeri mengetahui istilah itu. Terlebih baru beberapa hari di Indonesia," kata Alva.
"Ada, deh. Pokoknya tahu aja," sahut Bitna. Ia tertawa begitu kuat, sampai Alva bisa melihat barisan gigi depannya yang rapi.
"Oh iya, tentang pertanyaanmu tadi, menurutku langit di Korea dengan di sini memang berbeda," kata Bitna kemudian.
"Perbedaannya?" tanya Alva.
"Di sini aku bisa melihat langit dengan bebas, tanpa ada halangan gedung-gedung tinggi," sahut Bitna.
"Warna birunya juga lebih cerah. Indah sekali. Mungkin karena matahari bersinar terang sepanjang tahun di sini," lanjut gadis bermata cokelat itu.
"Bukannya di Korea banyak tempat terbuka untuk melihat bintang, ya? Dan di kota besar Indonesia juga banyak gedung tinggi," komentar Alva.
"Memang benar. Tapi aku bukanlah orang yang tinggal di tempat seperti itu di Korea," kata Bitna. Gadis itu melemparkan pandangannya, memandang jauh ke bentangan langit yang terhampar tanpa batas.
"Aku hanyalah penghuni permukinan sederhana, di belakang gedung tinggi yang menjulang ke langit. Aku jadi jarang sekali, melihat keindahan di atasnya," lanjut Bitna lagi.
Untuk beberapa detik kemudian, Alva dan Bitna sama-sama terpaku dalam diamnya. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"Kamu tahu, nggak? Kadang matahari tetap bersinar terang, meski seluruh bagiannya terhalang oleh bulan. Bahkan karena keindahannya yang sangat langka, semua orang jadi menantikannya," kata Alva sambil melempar senyum termanisnya pada Bitna.
"Maksudku?" kening Bitna berkerut. Kedua alisnya bertaut. Gadis mungil itu tidak paham apa maksud temannya.
"Jika seseorang sudah ditakdirkan untuk bersinar, maka ia akan tetap bersinar pada waktunya, meski penghalangnya cukup banyak," kata Alva.
"Seperti dirimu. Arti dari namamu bersinar, kan? Kau akan tetap bersinar meski wajahmu selalu mendung," lanjut Alva.
"Pfffttt... Apa, sih? Kau mau balas menggombaliku? Gak mempan tahu," kata Bitna sambil terbahak-bahak.
Alva hanya tersenyum melihat Bitna tertawa lebar. Entah mengapa, ia menyukai ekspresi itu.
"Hei, Alva. Ngomong-ngomong kau suka melihat bintang di malam hari, nggak? Kata ayahku, gugusan bintang di langit selatan itu bagus, lho," tanya Bitna setelah tawanya mereda.
"Hhmm... Dulu waktu kecil aku suka bermain di bawah bintang, terutama di kampung halaman ayahku. Tapi aku nggak tahu, kalau bintang di langit selatan lebih indah?" ujar Alva.
"Yah.. Aku juga nggak tahu," kata Bitna. Garis bibirnya melengkung ke bawah. Wajahnya kembali diliputi mendung.
"Dulu sebelum ayahku pergi untuk terakhir kalinya, ia selalu mengatakan padaku. 'Lihatlah langit selatan di malam hari, carilah bintang yang paling terang, itulah ayah'. Kekanakan banget, ya?" kata Bitna malu-malu.
Menurutku itu nggak kekanakan, kok. Malah itu sebuah kenangan paling indah, yang tak bisa digantikan dengan hadiah paling mahal sekali pun."
Kali ini Alva menjawabnya dengan serius. Sorot matanya yang tajam, membuat Bitna salah tingkah ketika bertemu pandang.
"Al, menurutmu apa ayahku masih hidup?" tanya Bitna. Mendung yang menaungi wajahnya, hampir berubah menjadi hujan.
"Semoga saja beliau masih hidup dan kalian bisa berkumpul lagi. Jika Tuhan berkehendak, semua akan mungkin terjadi," jawab Alva.
Bitna tertawa kecil, membuat Alva terheran.
"Jawabanmu sama persis kayak Tika, apa kalian udah latihan?" kata Bitna.
"Cieee... Alva.. Tumben bijak banget ngomongmya," terdengar sorak sorai dari belakang.
Alva dan Bitna langsung memutar badan mereka. Ternyata Tika, Zay, Ipung, dan beberapa teman lainnya berkumpul tak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Sejak kapan kalian ada di sini?" tanya Alva dengan muka merah padam.
"Ya... Mungkin kira-kira sepulu menit yang lalu," kata Tika tak bisa menyembunyikan senyumnya.
"Se-sepuluh menit?" kata Alva. "Jadi...?"
"Bitna, wajahmu bersinar bagai bintang..." kata Zay menirukan ucapan Alva tadi.
"Jangan putus asa.. selama nyawa masih ada," lanjut Ipung pula.
"Aseeek... Tareek Mang..." balas Flora pula.
Puk! Alva menepuk jidatnya, "Dasar temen-temen freak. Ganggu aja, deh," gumam Alva.
Sementara Bitna terpaku di tempatnya. Jujur, ia sangat terhibur dengan tingkah aneh teman-temannya itu.
"Btw Bitna, tadi kau mendapat telepon dari Korea. Katanya sih cowok," ujar Tika.
"Dari Korea? Cowok?" ulang Bitna.
"Iya, datang aja ke ruang administrasi," sahut Tika.
Tanpa aba-aba, Bitna pun berlari menuju ke ruang yang ditunjuk Tika. Napasnya memburu, pikirannya berputar. Siapa kiranya cowok yang meneleponnya?
"Duh, Alva patah hati, nih," kata Zay.
"Apaan sih, Zaenuddin...? Kami nggak ada apa-apa, kok. Jangan bikin Bitna nggak nyaman," kata remaja cowok itu.
Sementara Bitna...
"Yeoboseo...?"
"Hei, kucing kampung! Ini aku!" seru seseorang di seberang sana.
"Seon Wooil? Ini kau, kan?" ujar Bitna.
"Kenapa jawabanmu begitu? Kecewa ya, karena aku yang meneleponmu? Memangnya kau menunggu telepon dari siapa? Jun Hyeon?" ledek Seon Wooil.
"Hei, bukan gitu. Memangnya kita cukup dekat untuk saling telepon?" tanya Bitna.
"Memangnya harus dekat untuk bisa menelepon?" Wooil balik bertanya.
"Sudahlah, ada apa kau meneleponku? Apa kau masih belum puas membullyku?" ujar Bitna.
"Aku mau minta maaf," ucap Wooil tanpa basa-basi.
"Ha? Minta maaf? Soal apa?" tanya Bitna.
"Jangan banyak bertanya. Pokoknya aku mau minta maaf padamu!"
"Ish, sebenarnya kau mau minta maaf atau marah-marah, sih?" kata Bitna. "Tapi karena kau sudah banyak membantuku, jadi ku maafkan, deh."
"Haaaa... Syukurlah. Ku pikir kau akan memarahiku," kata Seon Wooil lega.
"Memangnya aku ini orang yang seperti apa? Yang suka mengomel itu kan kau," ucap Bitna. "Oh iya, gimana kabar Min Ji? Apa benar dia tewas bunuh diri?" tanya Bitna kemudian.
"Kau tega sekali, sih? Aku yang meneleponmu, tapi kau malah menanyakan kabar Min Ji..." ucap Seon Wooil pura-pura ngambek.
"Untuk apa aku menanyakan kabarmu? Kau saja masih bisa meneleponku sambil marah-marah," kata Bitna.
"Woah... Mentang-mentang kau jauh, kau berani memarahiku, ya? Tapi sebenarnya Min Ji itu..."
(Bersambung)