
"Nih, rambutan dan matoa."
Alva meletakkan serenteng buah rambutan dan matoa yang baru saja dipetik, lengkap dengan tangkai dan daunnya yang hijau.
"Woah... Kamu panen dari kebun belakang?" ujar Flora dan Sundari.
"Iya, kemarin kan katanya ada yang ngidam matoa." Alva melirik ke arah Bitna. Tapi remaja perempuan itu mengalihkan pandangannya.
"Eh, guys. Aku baru ingat, nih. Kalian pada tahu nggak? Ternyata Alva jago Bahasa Korea, lho?" Bitna memberikan serangan telak pada pemuda tersebut.
"Hah, masa? Aku kok nggak pernah dengar?" kata Ipung dan Zay.
Mata Alva membesar mendengarnya. Ia merapatkan gerahamnya dan berbicara dengan isyarat mata dengan gadis itu. Tetapi lagi-lagi, Bitna pura-pura tidak melihat.
"Aku juga kaget pas dengarnya." Bitna melirik tipis ke arah Alva sambil tersenyum jahil. "Eh, tapi kalian tahu nggak kenapa dia jago banget. Ternyata..."
"Guys ada yang mau pesan pizza, nggak? Aku traktir sepuasnya deh, untuk merayakan pertemuan Bitna dengan Ayahnya." Alva memotong ucapan Bitna demi keamanan privasinya. Bitna tertawa dalam hati melihatnya.
"Duh, apaan sih? Lagi asyik dengerin Bitna cerita juga," kata Flora.
"Iya, nih. Lagian jatah uang jajan kita setiap minggu kan dibatasi? Emangnya kamu belum ada pake sama sekali?" kata Sri Devi.
"Aku ada simpen duit cash, kok. Pokoknya kalian makan aja sepuasnya."
"Wah, asyik. Ditraktir mana ada yang nolak?" kata Zay girang.
Alva menaikkan sebelah alisnya sambil menatap ke arah Bitna, "Ini kan maunya kamu?" kata Alva dengan isyarat mata.
"Gitu, dong. Jangan pizza diganti martabak," balas Bitna dengan isyarat mata juga. "Awas kalo berulah lagi. Rahasiamu bakal tersebar," kata Bitna dengan isyarat jari.
Tika melempar pandangannya ke arah Alva, lalu beralih ke Bitna. Remaja bertubuh mungil itu senyum-senyum sendiri, melihat tingkah keduanya.
"Aaa... Gemes banget sih, mereka berdua? Kapan mereka bakal jadian?" pikir Tika gemas.
"Seo Bitna, kamu di panggil ke ruang administrasi. Katanya ada telepon dari Korea," kata seorang didwi dari kelas sebelah.
"Oke. Thanks, Sarah," balas Bitna sambil beranjak dari keluar kelas.
"Halo?"
"Hei, kucing kampung."
"Ah, sialan! Kau rupanya," umpat Seo Bitna. Dia sangat mengenali suara pria tersebut.
"Kenapa kau kecewa? Kau pikir aku pengagum misteriusmu itu?" ucap Seon Wooil.
"Maksudmu Jun Hyeon? Nggak lah, bodoh. Aku pikir paman bibiku yang menelepon," kata Bitna. Sepertinya mood gadis itu benar-benar rusak hari itu.
"Hei, jangan panggil aku bodoh. Aku jadi peringkat satu sekolah sejak kau pergi. Hidupku datar saja karena tidak ada saingan."
"Maksudnya kau kangen denganku?" kata Bitna sambil terkikik.
"Bukan begitu, bangsat. Aku jadi nggak punya saingan lagi. Nggak ada yang seru," sahut Wooil.
"Loh,Jun Hyeon kan ada? memangnya dia bukan tandinganmu?" tanya Bitna.
"Hah? Dia mungkin sedang sibuk mengurus kelahiran calon bayinya sekarang. Kacau sekali anak itu," jawab Wooil.
"Bayi? Jadi dia beneran sama kakak kelas itu? Apa mereka di keluarkan dari sekolah?"
Bitna benar-benar terkejut mendengar kabar tersebut. Tidak disangka, Park Jun Hyeon yang sangat menjaga imagenya sebagai pelajar teladan, justru mempunyai skandal luar biasa.
Bitna tercengang mendengarnya, "Gila! Ini gila! Maksudku... Dia bersama Bu Guru Aram?" tanya Bitna masih tidak percaya.
"Yah, begitulah. Luar biasa, kan?" kata Seon Wooil.
Bitna terdiam.
"Halo? Bitna? Apa kau sedih mendengar kabar itu?" tanya Wooil di telepon.
"Hah? Nggak. Aku justru senang. Ia telah mendapatkan hukuman yang pantas untuknya."
"Terus kau nggak tanya kabarku? Aku meneleponmu bukan cuma untuk ngobrolin si brengsek itu," rengek Wooil.
"Ah, benar juga. Aku baru ingat kau juga brengsek," kata Bitna.
"Kau bilang apa?" protes Wooil.
"Kau bilang ibuku berselingkuh dengan ayahmu, dan kita bersaudara. Ternyata ayahmu adalah penanggung jawab dari semua masalah ayahku. Ibuku nggak selingkuh. Kau sengaja mengatakan itu untuk mengancamku, ya?"
"Iya, aku sengaja," kata Seon Wooil dengan nada sangat rendah.
"Bukan, Bitna. Aku pun baru tahu tentang masalah ini. Selama ini ayahku menyimpannya sendirian. Maafkan aku dan ayahku. Kau boleh marah sepuasnya," ucap Wooil dalam hati.
"Seon Wooil..."
"Ya?" ucap Wooil menyiapkan diri menerima kemarahan Bitna.
"Terima kasih, ya."
"Hah?" Apa yang dikhawatirkan pria tersebut, ternyata tidak terjadi. Bitna malah mengatakan sebaliknya, dari yang ia pikirkan.
"Terima kasih. Aku sudah mendengar semuanya dan oppa. Ayahmu telah berjuang cukup lama. Dan kau juga sangat banyak membantu," kata Bitna.
"Hei, siapa yang kau panggil oppa?" protes Wooil.
"Hyeong-mu, Seon Lim Chan. Terima kasih banyak untuk kalian semua. Aku banyak berhutang budi."
"Dasar gadis bodoh. Harusnya kau marah. Ayahmu begitu karena ayahku," bentak Wooil. "Tapi... Cukkae, kau akhirnya berkumpul kembali dengannya."
...πΊπΊπΊ...
"Bitna, nih pizza untukmu. Sengaja aku sisihkan sebelum dihabiskan para binatang buas di kelas," ucap Alva sambil menyodorkan sekotak pizza yang masih utuh.
Bitna hanya diam.
"Kau boleh membawanya ke asrama, untuk teman-temanmu. Maafkan aku soal martabak kemarin."
"Pffttt... Kau ini rupanya polos banget, ya? Aku kemarin memang kesal. Tapi hari ini aku cuma mengerjaimu," kata Bitna.
"Aku tahu, kok. Tapi ini memang hadiah untukmu." Alva melangkah maju mendekati Bitna.
"Sekalian aku mau memintamu melepaskan kalung itu, ayahmu kan sudah ketemu. Bintang ini bisa kau simpan dulu," pinta Alva.
"Kau ada masalah apa, sih? Aku menyukainya." Bitna menolak permintaan Alva.
"Aku cemburu, kau terus memandangi pemberian pria brengsek itu. Aku siap menjadi bintangmu, di posisi kedua setelah Kapten Seo. Ayo kita pacaran," ucap Alva.
"Haaah???"
(Bersambung)