
Tap! Tap! Tap!
Seorang wanita bertubuh tinggi dan kulit sehalus sutera, berjalan di koridor sekolah. Sepatunya yang yang sedikit bertumit, berbunyi ketika ia melangkahkan kaki.
Aroma parfum tercium dari seragamnya yang terlihat baru. Rambutnya yang hitam dan panjang, ia biarkan terurai bebas. Senyuman manis terukir di bibirnya, yang disapu tipis oleh lipbalm berwarna pink coral.
Tidak banyak aksesoris yang ia gunakan. Hanya sebuah jepit manis yang ia selipkan di sisi kiri poni-nya. Sebuah tas kain dengan corak unik, ia sandang di bahu kanan.
Semua mata menuju padanya. Beberapa di antaranya berdecak kagum. Sementara yang lainnya
"Permisi, ruang kelas 2 B berada di sebelah mana, ya?" tanya wanita itu, dengan Bahasa Korea yang sangat lancar.
"Di ujung tangga lantai dua, nona," jawab beberapa orang siswa.
"Oh, terima kasih," ucapnya. Wanita cantik itu melangkahkan kaki ke tempat yang dimaksud.
Sesampainya di kelas 2 B...
Tok! Tok! Tok!
"Permisi..."
Ruang kelas yang ribut itu mendadak sepi. Semua mata tertuju pada wanita dengan dandanan minimalis, yang berdiri di depan kelas.
"Hoi, Seo Bitna. Cewek gilaaa... Kenapa kau nggak bilang-bilang sudah kembali ke Korea?" omel Go Eunjo menyambut kedatangan sahabatnya.
"Hah? Jadi itu Seo Bitna. Pantas aku seperti pernah melihatnya," bisik beberapa siswa.
"Dia cantik banget sekarang," ucap beberapa siswa lainnya pula.
"Halo, adik kelas," ucap Bitna diiringi senyuman manis. "Maaf aku nggak ngasih tahu kalau sudah di Korea. Aku ingin kasih kamu kejutan.
"Bangsat! Kau memanggilku apa?" umpat Go Eunjo.
"Adik, kelas," ulang Bitna dengan wajah tidak berdosa.
"Udaah... Jangan marah-marah. Nih, aku bawain oleh-oleh dari Indonesia." Bitna mengeluarkan beragam cemilan khas Indonesia dari dalam tasnya.
"Ah, ini bukan cuma untuk Go Eunjo. Tetapi untuk semua teman-teman sekelas," jelas Bitna.
"Terima kasih, Bitna."
"Tunggu, Yura! Kita nggak bisa disogok gitu aja dengan makanan. Dia udah bikin dua kesalahan." Go Eunjo menahan lengan Kim Yura yang hendak mengambil sebungkus makanan.
"Pertama, dia nggak bilang-bilang kalau mau pulang. Kedua, dia seenaknya memanggil adik kelas. Padahal beberapa bulan lagi grade kita sama," lanjut Eunjo dengan berapi-api.
"Ya udah, kalau kalian cewek-cewek nggak ada yang mau makan, biar kami yang mewakili," ujar Seon Wooil sambil menyambar sebungkus snack.
"Oh, Wooil. Apa kabar?" Seo Bitna merasa sedikit canggung bicara dengan Wooil secara langsung. Berbeda dengan telepon.
"Baik." Wooil tersenyum lebar. "Aku makan ini, ya? Do-dol Ga-rut," Wooil mengeja nama makanan tersebut.
"Ish, kalian semua nggak asik, deh," rajuk Eunjo.
"Gak usah ngambek. Nih, cobain. Kamu pasti suka, deh," ujar Bitna menyodorkan sebungkus makanan lagi.
"Spicy Chocolate? Maksudnya, ini cokelat tapi rasanya pedas?" gumam Eunjo bingung.
"Coba aja dulu," kata Bitna.
"Bitna hebat ya, sekarang? Kemarin aku lihat kamu di berita TV," ujar beberapa teman lainnya.
"Terima kasih," ujar Bitna.
"Jadi sekarang kamu udah kelas tiga? Kok bisa?" tanya Yura.
"Tahun ajaran baru di Korea dengan Indonesia itu berbeda. Selisih sekitar empat bulan. Jadi, sewaktu aku sampai di Indonesia, langsung kelas dua" jelas Bitna.
"Lalu sekarang? Kamu mau ikut kelas tiga yang hanya beberapa bulan lagi, atau menunggu kami sama-sama di kelas tiga?" tanya beberapa teman lainnya.
"Aku kelas tiga. Beberapa waktu lalu saat baru sampai di sini, aku langsung ikut ujian akselerasi. Jadi bisa mengikuti pelajaran kelas tiga, yang hanya tinggal beberapa bulan lagi," ujar Bitna.
"Woah... Keren. Maaf dulu aku membullymu," sesal beberapa siswa.
"Yah, sudah ku maafkan. Asalkan jangan kalian ulangi lagi perbuatan seperti itu pada orang lain," kata Bitna sambil tersenyum manis.
"Bitna, Indonesia itu kan panas. Tapi kenapa kulitmu semakin halus? Apa kau operasi plastik?" tuduh Wooil yang sedang mengunyah Bakpia Jogja.
"Sembarangan aja kalau ngomong," omel Bitna. "Aku di sana rajin makan buah. Setiap hari aku makan beragam buah di sana," lanjutnya.
"Wah, enak ya. Tinggal mandiri tanpa pengawasan orang tua, sekolah dibayarin, uang jajan dikasih tiap bulan..." gumam para gadis.
"Tapi kalian kan nggak lihat perjuangan dia sebelumnya." Eunjo angkat suara. "Susahnya mengurus persyaratan ke luar negeri, les sambil dibully, pelajaran yang sulit, peraturan asrama yang ketat."
"Memangnya kalian semua tahan, satu minggu nggak diizinkan pegang HP?" tambah Wooil.
"Nggak, sih..." gumam mereka.
"Terima kasih Wooil, Eunjo, Yura," semua ini berkat bantuan kalian juga," ucap Bitna.
"Dih, kau ngomong apa sih? Minta dibully lagi, ya?" balas Wooil salah tingkah. "Btw snack ini enak banget. Pey- ek Te-ri. Masih ada lagi, nggak?"
"Omo, Wooil. Kau menghabiskan semua snack sendirian?" amuk Eunjo.
"Nggak usah berantem, guys. Aku bisa kok bikin peyek teri," kata Bitna dengan Bahasa Indonesia.
Kelas mendadak hening. Semua mata memandang ke arah gadis itu.
"Ups! Mianhae!" Bitna lupa kalau ia sudah berada di Korea. Lidahnya sudah terbiasa dengan Indonesia.
Tuk! Tuk!
Seseorang mencolek bahu Bitna dari belakang.
"Ahn Chae Rin?" Bitna baru melihat wajah gadis itu.
"A-aku... Minta maaf," ucapnya lirih.
"Apa, aku nggak dengar," kata Bitna.
"Aku minta maaf!" teriak Chae Rin sangat kencang.
"Hoi, kau minta maaf atau mau marah-marah?" tanya Wooil.
"Aku beneran minta maaf. Aku menyesal, Bitna."
"Sudahlah, aku sudah maafkan. Tapi di mana Kim Min Ji?" tanya Bitna.
Para siswa saling berpandangan. Haruskah mereka menceritakan keadaan Min Ji yang sebenarnya?
(Bersambung)