Metamorphosis

Metamorphosis
S.2 Bab 59 - Namja Chingu



Ceklek!


"Eonnie, aku mau tanya dong tentang pelajaran ini." Tiba-tiba Ara membuka pintu kamar dan menyelonong masuk.


"Oh, PR apa?" Bitna tersentak kaget.


"Bukan PR, aku cuma mau bertanya beberapa hal yang nggak mengerti," jawab Ara.


"Oh, itu foto siapa? Pacar kakak, ya?" Tanpa sengaja Ara melihat foto pria yang berdiri di samping sang kakak.


Tap! Bitna buru-buru menutup laptopnya yang masih menyala, "Dia bukan pacarku," ujarnya.


"Ah, masa? Terus kenapa aku nggak boleh lihat?" Ara tersenyum jahil.


"Kamu mau tanya apa tadi?" tanya Bitna mengalihkan cerita.


"Ah... Jangan tukar topik pembicaraan. Aku penasaran sama pria tampan tadi. Siapa namanya?" desak Ara.


"Alva Arkanza. Emangnya dia ganteng?" Seo Bitna balik bertanya.


"Mata kakak rusak karena kebanyakan baca buku, ya? Orang seperti itu jelas ganteng. Lihat hidungnya yang mancung, alis matanya yang rapi, bentuk dagunya lalu..."


"Sudah, sudah! Memangnya kau peramal yang membaca wajah orang?" ucap Bitna.


"Aha! Kakak malu, ya?" goda Ara dengan Bahasa Indonesia.


"K-kau bisa Bahasa Indonesia? Sejak kapan?" Bitna tersentak kaget mendengar sang adik sepupu lancar berbahasa Indonesia.


"Udah lama. Aku belajar otodidak aja dari yutub," kata Ara bangga.


"Nah, sekarang mana pelajaran yang nggak kau mengerti itu?" tanya Bitna.


"Oh, ini tentang sastra Korea. Eonnie mengerti, kan?" ujar Ara.


"Sejak kapan kamu jadi rajin belajar seperti ini? tanya Bitna sembari mengajari sang adik.


"Sejak Eonnie pergi, aku nggak punya teman dan kesepian. Jadi aku belajar saja. Aku juga ingin menjadi seperti kakak," jawab Ara.


"Oh, ya? Kamu mau ikut pertukaran pelajar juga? tanya Bitna.


"Nggak. Tapi aku nanti mau kuliah di Indonesia. Aku akan mengambil jurusan seni di salah satu universitas di Jogjakarta," kata Ara dengan sangat lancar. Bitna kagum mendengarnya.


"Aku nanti juga mau kuliah di Prancis, setelah lulus dari S-1," lanjut Ara. "Ngapain Eonnie senyum-senyum sendiri? Ada yang aneh?" tanya Ara.


"Bukan gitu. Aku cuma iri karena di usia seperti kamu, dulu aku masih belum memiliki cita-cita," kata Bitna. "Gimana ceritanya, Wooil jadi guru kamu?"


"Memangnya apa yang dilakukan sama anak buah Tuan Kim?" tanya Bitna penasaran.


"Mereka mengancam keluarga kita untuk pindah dari Seoul. Bahkan membuat ayah dan ibu tidak bisa bekerja di semua tempat selama beberapa bulan. Terutama setelah Paman Il Sang ditemukan," cerita Ara.


"Lalu Oppa datang dan bermain bersamaku dan Yeon Woo Oppa hampir setiap hari. Mereka tidak berani mengganggu, selama oppa berada di sini.


"Aku baru tahu, ternyata Wooil melakukan itu selama ini demi keluargaku," kata Bitna dalam hati.


"Kalau cowok tadi, pasti Namja Chingu kakak di Indonesia, kan?" tanya Ara sambil tersenyum.


"Iya, dia memang teman dekatku. Tapi kami nggak pacaran," ucap Bitna menegaskan.


"Kira-kira, dia sekarang ini lagi apa, ya?" pikir Bitna.


"Hayooo... Kepikiran lagi, kan?" ejek Ara.


Tuuut...


"Halo?"


"Nak, kamu sudah pulang kan dari tempat Paman Hwan?" tanya Seo Il Sang pada Sang Putri.


"Iya Ayah, aku sudah di rumah," ucap wanita itu.


"Maaf ya, kamu terpaksa tinggal di rumah bibi lagi," kata kapten Seo Il Sang, yang kini bekerja sebagai asisten kepala di kantor pelayaran domestik.


"Nggak apa-apa, aku suka kok disini. Ayah Yang Semangat ya kerjanya."


Sementara itu di Indonesia...


"Jadi Alva, kamu bakal tetap pergi ke korea walau pun gagal tes kuliah di sana?" tanya Ipung dan Zay.


"Aku sedang memikirkan rencana baru. Tapi sepertinya, Bitna tidak terlalu suka berada dekat denganku," kata Alva dengan wajah sendu.


"Apa maksudmu? Bukannya dia sangat menyukaimu?" protes Zay.


(Bersambung)



Jangan lupa mampir di novel author lainnya ya. Terima kasih.