Metamorphosis

Metamorphosis
S.2 Bab 21 - Kok Aku?



"Heh, bocah plastik! Berhenti kamu!"


Seorang wanita berseru di belakang Bitna. Suaranya terdengar sangat melengking, hingga bergema di seluruh lorong sepi itu. Siswi pertukaran pelajar itu terperanjat mendengarnya. Ia menolehkan kepala ke belakang.


"Hoi! Sialan! Kamu nggak dengar? Aku menyuruhmu berhenti! Jangan berlagak hebat, ya?" lagi-lagi wanita itu berteriak.


"Berhenti kau di sana, dasar plastik." Kali ini suaranya terdengar lebih tinggi dibandingkan tadi.


Bitna menatap sekeliling. Tidak ada seorang pun di depan laboratorium Fisika Elektronika itu selain dirinya dan dua wanita yang berseru tadi.


"Ka- kakak memanggil saya?" tanya Bitna. Wajah gadis itu terlihat kebingungan untuk mencerna yang sedang terjadi.


"Iya, kau! Sialan! Memangnya aku sudah tua sampai dipanggil kakak?" kata wanita dengan tubuh gempal, wajahnya sangat manis dan berkulit putih. Rambutnya yang panjang terlihat di bentuk bergelombang.


Bitna termenung. Dia kan emang belum mengenal seluruh siswa di sekolah itu? Wajar kalau ia tidak mengenalinya?


"Kenapa aku dipanggil plastik? Apa itu sebuah ungkapan?" pikirnya bingung.


"Kau anak pindahan dari Korea, kan?" tanya remaja perempuan yang mengenakan behel di barisan giginya. Sorot matanya jauh dari menyiratkan


"Bukan. Saya hanya pertukaran pelajar selama satu tahun," jawab Bitna.


"Ya sama ajalah. Pokoknya dari Korea," kata cewek gempal tadi.


"Jadi ada apa?" tanya Bitna kemudian. Ia masih tidak mengerti apa sebabnya dua siswi itu menemuinya.


"Kau! Gara-gara ulahmu Min Ji jadi mati bunuh diri!" ujar siswa yang tidak dikenali Bitna itu.


"Siapa? Min Ji? Siapa dia? Aku nggak mengenalnya," kata Bitna mengelak.


"Gak usah sok bego. Kau pasti sudah mendengar beritanya. Seluruh siswa membicarakannya. Kim Min Ji, putri dari Kim Dayoung tewas bunuh diri di sekolah," jelas mereka.


"Apa urusannya denganku?" ucap Bitna tak bisa menutupi rasa herannya.


Bitna menghela napasnya dalam-dalam. Ia sudah mengalami hal ini puluhan kali, bahkan ratusan kali selama di Korea. Cewek Seoul itu sudah tahu apa yang akan kedua siswi itu lakukan. Ya, apalagi kalau tidak membullynya.


Tapi kali ini berbeda. Bitna telah bermetamorfosis menjadi cewek yang berani dan percaya diri. Tak selamanya seekor ulat menjadi hewan yang menjijikkan, bukan? Ada saatnya mereka berubah menjadi kupu-kupu yang indah dan bebas.


"Gak usah sok polos. Kau satu sekolah dengannya, kan?" ujar wanita itu.


"Dari mana kalian tahu? Sekolah di Kota Seoul itu tidak bisa dihitung dengan jari. Apa lagi di Korea Selatan?" lawan Bitna dengan berani.


"Kami tahu, seragam sekolahmu sama persis dengan milik Min Ji. Dan beberapa berita menyebutkan, kalau Min Ji depresi berat karena dibully sebelum ia bunuh diri," ujar cewek dengan gigi behel.


"Kau cuma menebaknya, kan? Aku nggak ada hubungannya dengan Min Ji," jawab Bitna tegas. Remaja itu melangkahkan kakinya, dan bersiap meninggalkan kedua pengacau tersebut.


"Kami melihat fotomu bertebaran di berita Min Ji. Kau pasti ada hubungannya dengan kematiannya," kata cewek berkulit putih.


"Itu nggak bisa menjadi bukti. Aku sudah berada di sini waktu kejadian itu terjadi." Bitna terus membantah ucapan mereka dengan berani.


Kedua remaja perempuan itu membesarkan bola matanya. Salah seorang di antara mereka bahkan melayangkan tamparan ke arah Bitna. Remaja asal Korea itu berhasil mengelak, membuat kedua siswi itu semakin berang.


"Sudahlah! Akui saja kalau kau emang satu sekolah dengannya. Kami memiliki banyak bukti," seru kedua siswi itu terus memaksa Bitna untuk mengaku.


"Kalau aku memang satu sekolah dengannya terus kenapa?" balas Bitna tanpa rasa takut.


"Kau harus bertanggung jawab atas kematiannya," ujar cewek berkulit putih dan rambut panjang bergelombang itu.


"Hah, dasar cewek-cewek aneh." Bitna tertawa kecil. "Dia yang mati, kenapa aku yang dituntut untuk bertanggung jawab?"


"Karena kau yang membuatnya mati!" seru cewek dengan behel gigi.


"Percuma membela orang yang tidak pernah engkau temui. Kalau kalian mati karena membelanya, memangnya dia dan keluarganya mau datang membantu?" ucap Bitna lagi.


"Woah... Cewek kolot! Kau berani melawan rupanya, ya?"


Cewek bertubuh gempal dan cewek berambut panjang kompak menjambak rambut Bitna.


"Risa! Nelvi! Hentikan! Apa yang kalian lakukan? Memangnya masih zamannya membully?"


Seorang pria yang datang tiba-tiba, menyelamatkan Bitna.


"Zay, jangan ikut-ikutan! Ini urusan perempuan," seru cewek berambut panjang yang bernama Nelvi itu.


"Ini urusanku! Karena dia teman sekelasku," seru Zaenuddin alias Zay.


"Bitna, kau nggak apa-apa?" Zay berdiri di depan Seo Bitna sebagai tameng.


"Gumawo, Zay. Tapi aku nggak apa-apa, kok. Aku nggak takut sama mereka, karena aku nggak salah," kata Bitna dengan lantang.


"Cewek pinter," ucap Zay seraya tersenyum. "Terus kalian berdua ngapain masih di sini? Silakan pergi." Zay mengusir kedua wanita itu.


"Zay, Lu o'on apa gimana, sih? Ngapain ngebelain cewek Korea itu?" ujar Risa yang mengenakan behel di giginya.


"Loh, bukannya sama aja, ya? Kalian kan juga membullyku gara-gara cewek Korea yang cuma kalian kenal dari media online? Min Ji aja mungkin nggak tahu kalau kalian hidupndi bumi," balas Bitna.


Zay terkikik mendengar jawaban dari Seo Bitna. Hanya satu serangan, tapi ampuh membuat lawannya mati kutu.


"Lagian, Kim Min Ji juga sebenarnya masih hidup. Jadi percuma juga kalian membullyku," ujar Bitna.


"Hah? Apa kau bilang?" seru Risa dan Nelvi.


"Ah, aku nggak tahu, boleh ngomong soal ini atau nggak." Bitna berpura-pura keceplosan.


...🍎🍎🍎...


Malam harinya. Di asrama mawar.


"Eonnie, dari mana saja? Kenapa baru muncul?" seru Yumna menyambut Bitna yang berlumuran tanah dari kebun.


"Maaf, aku sering lupa diri kalau udah berkebun," jawab Bitna.


"Eonnie harus lihat berita ini," Yumna memberikan selembar kertas dengan print out sebuah portal berita Korea.


Bitna mengambil lembaran kertas itu, lalu membacanya. Ia melihat fotonya menggunakan seragam terpajang di sana, dan kutipan ucapan Tuan Kim Hyun Seung yang memojokkannya.


"Jadi ini penyebabnya?" gumam Bitna.


"Apa benar semua ini gara-gara Eonnie? Aku nggak yakin kalau orang sebaik Eonnie seorang pembully," ucap Yumna.


"Memang bukan! Justru dia yang membullyku, sampai aku harus pindah sekolah ke Indonesia," jawab Bitna santai.


"Yang benar?"


"Hu'um. Nanti Eeonni-mu ini akan menceritakan semuanya," ujar Bitna. "Tapi biarkan aku mandi dulu," lanjutnya lagi.


"Oh iya, jangan terlalu percaya sama berita seperti itu. Mungkin saja Kim Min Ji sekarang sedang asyik berlibur di kepulauan tropis, berada sangat dekat dengan kita," kata Bitna sebelum menghilang di balik pintu kamarnya.


(Bersambung)