
“Hei, kucing.”
“Kucing kampung!”
“Wah, lihatlah. Kucing kampung ini pura-pura tidak mendengar kita.”
“Biarkan saja. Mungkin dia malu, karena sudah ketahuan bohong.”
Bitna terus berjalan tanpa menoleh. Pandangannya hanya fokus menatap lantai yang akan ia langkahi.
“Hei, kucing! Anak pengupas kentang! Kau benar-benar tidak mendengarku?”
Bitna merapatkan bibirnya menahan amarah, “Namaku bukan Bitna, bukan kucing. Dan memangnya kenapa kalau ibuku hanya pengupas kentang?”
Hati Bitna ingin sekali mengucapkan kalimat itu dengan lantang. Tetapi keberaniannya belum terkumpul seluruhnya.
Kadang Bitna membenci dirinya sendiri yang pengecut.
“Hahaha… Kasihan. Dia dipanggil kucing lagi,” bisik beberapa orang siswa.
“Loh, memangnya kenapa? Kucing kan hewan imut?” bela siswa lainnya.
“Duh, nggak semua kucing itu imut. Kalau kucing liar yang tidak ada pemiliknya, memangnya kamu mau pegang dia?”
“Ih, nggak deh. Pasti banyak kutunya.”
“Hahaha… Maka dari itu, jangan membela kucing kampung seperti dia."
Bitna mempercepat langkahnya menuju kelas. Tidak ada gunanya ia berlama-lama di koridor sekolah. Hatinya pasti akan semakin sakit.
“Dahulu jika ada yang menggangguku, pasti ayah akan datang membela,” gumam Bitna.
Tangisnya mulai pecah. Dirinya benar-benar sangat merindukan sosok seorang ayah yang dapat melindunginya.
Bitna masih ingat, dulu ketika SD, ia juga pernah dibully. Teman-teman sekelas mengejek Ibu Bitna, yang hanya lulusan SMP dan menjadi ibu rumah tangga.
Ada apa dengan ibu rumah tangga?
Tentu tidak ada yang salah. Namun sayangnya, mindset anak-anak Korea pada saat itu, memiliki orang tua dengan karir cemerlang adalah kebanggaan tersendiri.
"Anak Ayah jangan menangis, dong. Nanti Ayah dan Ibu juga akan sedih. Kamu harusnya bangga, punya ibu yang selalu ada untukmu. Selalu menemanimu di setiap saat," ucap ayah kala itu.
Sayang sekali, sekarang Bitna hanya bisa mengingat semua kenangan itu di dalam hati. Tidak ada lagi sosok ayah yang selalu memberi kekuatan padanya. Tidak ada lagi sosok ibu yang memberikan kehangatan setiap ia membutuhkannya.
"Seekor kucing kampung, jika ia sedang terdesak juga bisa menggigit dan mencakar, bukan?" gumam Bitna dalam hati.
Yah, Bitna mungkin tidak akan langsung mencakar orang-orang yang menyakitinya. Tetapi ia akan menggigit mereka dengan caranya sendiri. Bahkan mungkin, Bitna akan mengaum seperti induk singa di tengah savana.
Pada intinya, Bitna memiliki rencana besar untuk membalas semua kejahatan mereka. Bitna ingin bermetamorfosis menjadi kupu-kupu indah yang siap terbang ke seluruh negeri.
...🍎🍎🍎...
"Selamat pagi, Bu Guru."
"Selamat pagi, Bitna. Ada apa menemui Ibu pagi-pagi sekali?" balas Bu Hana.
"Emm.. Itu... Kemarin saya melihat pengumuman pertukaran pelajar ke luar negeri. Apa pendaftaran masih di buka?" tanya Bitna.
"Oh, kamu berminat untuk ikut? Pendaftaran masih dibuka, kok. Kamu mau ke mana? Untuk pertukaran pelajar ke China sepertinya sudah penuh," ucap Bu Hana antusias.
Bitna menggeleng, "Saya memilih Indonesia, Bu."
"Indonesia?" Bu Hana mengulang kalimat Bitna.
"Iya."
"Kamu yakin?" tanya Bu Guru lagi.
Bitna adalah satu-satunya siswa yang memilih Indonesia.
Alasan para siswa lainnya menolak untuk ke Indonesia adalah karena mereka tidak begitu mengenal nama negara tersebut. Yang mereka tahu adalah, Indonesia adalah negara yang panas, karena disinari matahari sepanjang tahun.
"Iya, saya yakin," balas Bitna.
Bukan tanpa alasan ia mantap memilih Indonesia. Sepanjang malam, remaja itu menghabiskan waktu tidurnya untuk searching di internet, mencari tahu segala hal tentang Indonesia.
"Kenapa kamu memilih Indonesia?" kata Bu Hana.
"Menurut saya, Indonesia itu negara yang indah dan ramah. Indonesia juga memiliki beragam budaya untuk dikenal."
"Kamu benar, Bitna. Indonesia adalah negara yang sangat indah untuk dikunjungi. Dan sistem pendidikannya juga bagus," kata Bu Hana.
Bitna lega setelah mendapat dukungan dari wali kelasnya,
"Ini formulir untukmu. Bisa dikumpulkan jika sudah mendapat persetujuan dari paman dan bibimu. Setelah itu, baru didaftarkan secara online untuk mengikuti proses seleksi." kata Bu Hana sambil memberikan sebuah berkas.
"Tetapi sayangnya, kamu adalah orang pertama yang mendaftar ke Indonesia. Para siswa takut memilih, karena nama negara itu memang tidak begitu familiar di telinga orang Korea," lanjut Bu Hana.
"Bukankah lebih sedikit persaingan, itu lebih bagus, Bu? Berarti peluang saya untuk lulus sangat besar," jawab Bitna.
Bu Hana tersenyum, "Kamu benar. Nah, mulai sekarang persiapkanlah dirimu. Kalau kamu lulus tes tahap pertama, maka kamu wajib mengikuti les Bahasa Indonesia."
"Baik, Bu. Terima kasih dukungannya," jawab Bitna.
...🍎🍎🍎...
"Bitna, kamu dari mana saja? Ku pikir hari ini tidak masuk?" ucap Eunjo ketika Bitna memasuki kelas.
"Aku ada urusan sebentar tadi di ruang guru," sahut Bitna.
"Kamu dihukum lagi?" tanya Eunjo.
Bitna menggeleng, "Nanti aku pasti cerita sama kamu," kata Bitna sambil tersenyum penuh rahasia.
Pluk! Sebuah bingkisan terjatuh dari laci meja, saat Bitna akan meletakkan buku-buku pelajarannya.
"Kali ini cokelat super mewah dan lipgloss buah, ya?" Celetuk Eunjo yang turut melihat isi bingkisan tersebut.
Bitna hanya diam tanpa ekspresi.
"Kamu masih nggak penasaran sama pengirimnya?" kata Eunjo.
"Nggak, ah. Kalau ternyata dia stalker aneh gimana?" kata Bitna bergidik ngeri.
"Kalau dia ternyata cowok tampan yang tulus menyukaimu gimana?" balas Eunjo.
Bitna hanya mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu harus menjawab apa.
"Bitna, kamu kan juga berhak merasakan masa remaja yang indah. Sekali saja, aku ingin lihat kamu punya pacar. Biar kamu punya cerita masa SMA yang indah," kata Eunjo.
"Emangnya kamu sendiri punya pacar?" ucap Bitna sambil menjulurkan lidahnya.
"Yeee... Kok gitu, sih? Setidaknya zaman SMP kan aku pernah nembak cowok," kata Eunjo.
"Walau pun ditolak?" kata Bitna.
"Y-ya.. Namanya juga usaha. Tapi ini tentang kamu, bukan aku. Jangan mengalihkan cerita, deh."
Bitna tertawa melihat Eunjo yang mulai kesal.
"Bitna, gini deh. Kamu nggak pernah merasa bersalah sama pengirim itu?" tanya Eunjo.
"Maksudmu?"
Setiap hari kamu terima kado dari dia. Makanan yang dia berikan selalu kamu makan, tetapi kamu malah tidak ingin tahu tentang dirinya," kata Eunjo.
"Dan lagi, kalau itu hanya stalker penggangu, artinya kamu terus memberinya harapan," lanjut Eunjo.
Bitna melebarkan matanya, "Kenapa aku nggak kepikiran hal itu dari dulu, ya?" pikir Bitna.
Kali ini, remaja itu membenarkan ucapan sahabatnya.
Seusai jam sekolah, Bitna tidak langsung pulang. Hari ini adalah jadwal piketnya.
Sama seperti sebelumnya, meski anggota piket ada empat orang, Bitna tetap bekerja sendirian.
"Eunjo, kamu ngapain?"
Bitna yang tengah piket mendapati Go Eunjo sang ketua kelas memasang kamera tersembunyi di balik papan tulis.
"Ssssttt... Sini.. Sini.. Aku sengaja memasang micro camera untuk menangkap basah si pengagum rahasiamu itu," ucap Eunjo antusias.
"Ya ampun Eunjo. Kurang kerjaan banget, sih? Kalau ketahuan gimana? Terus kamu nggak pergi les?" kata Bitna.
(Bersambung)