
"Semua sudah selesai di urus. Minggu depan kamu tinggal ujian saja. Kalau lulu, maka pasport dan visa mu akan keluar."
"Terima kasih, Bu Guru. Saya akan berusaha sebaik mungkin, dan membawa nama baik sekolah kita," sahut Bitna.
Gadis itu membungkukkan tubuhnya sembilan puluh derajat di depan Bu Hana, sebagai bentuk terima kasih.
"Oh iya. Kemarin Seon Wooil merekomendasikan seorang guru privat untukmu, seorang mahasiswi asal Indonesia," ucap Bu Guru sambil membuka HPnya.
"Oh, ini pasti yang dikatakan Wooil kemarin," pikir Bitna.
"Sepertinya bagus juga kalau kamu belajar dengannya. Ini nomor HPnya. Kamu bisa menghubunginya nanti."
"Maaf, Bu. Bagaimana dengan biayanya. Saya..."
"Nggak usah khawatir tentang biaya. Anggap saja ini hubungan mutualisme. Kamu ingin belajar tentang Indonesia, dan dia sebaliknya. Kamu hanya perlu berterima kasih dengan Wooil," kata Bu Hana dengan senyumnya yang manis.
"Begitu, ya? Terima kasih Bu."
Setelah urusannya dengan Bu Hana selesai, Bitna pun beranjak dari kantor guru, hendak kembali ke kelas.
"Kau mau ke luar negeri, ya?"
"Omo! Jun Hyeon. Kau mengagetkanku.".
Hampir saja gadis itu menjerit ketakutan melihat cowok yang berdiri tegak persis di samping pinru ruang guru.
"Ke-kenapa kau di si-sini? Ah, pasti mau me-nemui guru, ya?" ucap Bitna terbata-bata. Ia menghindari bertatapan langsung dengan cowok itu.
"Nggak, kok. Aku di sini menunggumu."
"Eh?"
Ucapan singkat dari Jun Hyeon, disertai senyuman manisnya, mampu membuat jantung Bitna berdetak dua kali lebih cepat.
Andai saja ini terjadi pada cewek lain, pasti hormon bahagia dalam tubuhnya akan meningkat cepat, dan background lorong sekolah itu seakan-akan berubah menjadi taman bunga sakura yang sedang bermekaran.
Tapi hal itu tidak terjadi pada Bitna. Senyuman manis dari cowok itu seakan menyiratkan maksud lain yang tersembunyi. Jantungnya berdetak cepat, mengajak anggota tubuhnya untuk segera bergerak dari sana.
Bitna menyembunyikan tangannya yang mulai berkeringat dingin di balik berkas yang sedang ia bawa.
"Kenapa kamu menghindariku?" tanya Jun Hyeon setengah berbisik.
"Menghindarimu? Kapan?"
"Sekarang pun kau berusaha menghindar, kan?" Jun Hyeon maju satu langkah, mendekati Bitna yang terpojok ke dinding.
Bitna berusaha mengatur ritme napasnya, agar tidak ketahuan kalau ia sedang takut.
"Aku nggak menghindarimu, Jun. Aku cuma nggak terbiasa didekati cowok sebelumnya. Ini pertama kalinya bagiku," kata Bitna dengan lancar. Dia nggak bohong, kan?
"Bukan karena kau lagi dekat sama Seon Wooil? Kemarin kau juga diantar pulang sama dia, kan?" ujar Jun Hyeon sambil tersenyum tipis.
"K-kau tahu dari mana?"
Bitna sudah tak bisa mundur lagi. Punggungnya sudah merapat ke dinding. Sedangkan maju sedikit saja, dia akan menyentuh dada pria itu. Wangi parfum lembut tertangkap oleh indra penciuman Bitna.
Jun Hyeon tidak mempedulikan beberapa siswa yang berlalu lalang di sekitar mereka. Ia bergeming di tempatnya untuk menjawab pertanyaan dari Bitna.
"Aku melihat kalian keluar dari gerbang sekolah bersama sambil mengobrol. Anak-anak lain juga melihatnya."
"Apa dia nggak bohong? Kemarin kan sekolah sudah sepi waktu kami pulang," pikir Bitna.
"Ah, aku keterlaluan, ya? Aku hanya ingin mengajakmu mengobrol. Jangan takut begitu..."
Jun Hyeon melangkah mundur, menjauhkan tubuhnya dari Bitna.
"Ayo ke kelas. Sebentar lagi bel berbunyi," ucap Jun Hyeon seakan tidak ada apa-apa.
Sesampainya di kelas...
"Hei, apa kata Bu Hana? Kenapa lama sekali?" Eunjo segera menghampiri Bitna yang baru masuk kelas.
"Aku nggak apa-apa, kok."
"Tapi kenapa kau pucat gini? Ah, tadi aku lihat kau berjalan sama Jun Hyeon. Terjadi sesuatu ya di antara kalian?"
"Sebenarnya nggak ada apa-apa. Tapi aku aja yang ketakutan sendiri. Aku masih terbayang penguntit yang mirip dengannya," jawab Bitna.
"Duh, aku kenapa begini, sih?" keluh Bitna pada dirinya sendiri.
...πππ...
Sesuai hukumannya, usai sekolah Bitna pun membersihkan ruang UKS.
Suasana sekolah masih cukup ramai. Tetapi ruangan UKS ini sangat sepi, bagai kuburan. Bitna membersihkan ruangan itu seorang diri.
"Duh serem juga ya sendirian di sini. Dokter jaga udah pulang juga..." gumam Bitna seraya mengayunkan tangkai sapu.
"Eh, siapa itu? Gila! Kenapa mereka berciuman di sini, sih?"
Spontan Bitna menundukkan kepalanya. Di ruang siaran, seberang UKS, ia melihat sepasang murid sedang bermesraan.
Gerak gerik mereka cukup jelas, karena lampu ruangan yang masih menyala. Bitna yang penasaran kembali menongolkan kepalanya di balik kain gorden. Tak lupa ia mematikan lampu.
"Hah.. Itu, kan?"
Terlihat serang siswi kelas dua sedang berciuman mesra dengan pria yang sangat dikenal Bitna.
"Jun... Sudah kuduga, pernyataan cintanya padaku cuma main-main."
Alih-alih cemburu, Bitna malah merasa lega karena merasa sudah membuka salah satu kedok dari pria itu.
"Tapi alasannya dia mendekatiku apa, ya?" pikir Bitna.
Kedua pasangan itu sudah selesai bercumbu. Kini mereka tampak mengobrol. Siswi kelas dua yang tidak diketahui namanya itu bergelayut manja di lengan Jun Hyeon.
"Dasar laki-laki buaya. Untung aku nggak masuk ke dalam perangkapnya," pikir Bitna.
Selang beberapa menit kemudian, pasangan remaja itu terlihat berjalan menuju lorong. Bitna buru-buru bersembunyi di balik dinding.
"Jadi kapan kau akan bereskan perempuan itu?" terdengar pertanyaan manja dari sang wanita.
"Sabar, dong. Aku lagi menyusun strategi baru," jawab Jun.
"Kau nggak bohong, kan? Aku lihat kalian malah semakin dekat."
"Hei Nuna Yeoppo, aku nggak akan berpaling dari wanita sempurna sepertimu. Aku mendekatinya biar dia dibully. Jadi aku nggak perlu lagi menghancurkan dia dengan tanganku sendiri," ucap Jun lagi.
"Duh, kamu pinter banget, sih? Harusnya kamu tuh buman peringkat tiga di sekolah."
Langkah kaki mereka terdengar semakin mendekat. Jantung Bitna berdetak tidak beraturan. Napasnya tersengal, tak sabar menunggu pasangan itu pergi menjauh.
Jemarinya menekan tombol "recorder" di HPnya.
"Apa kita perlu merekam dan menyebarkan video lagi? Kasian banget sih gadis itu. Udah video bullynya tersebar, eh malah semakin dibully," tawa siswi tersebut.
"Nggak usah. Itu udah cukup. Jangan mengotori tangan cantikmu lagi, Nuna," larang Jun Hyeon.
"Ah~~ Jangan panggil aku Nuna, dong. Kan kita lagi berdua." Cewek remaja berparas cantik itu kembali berbicara dengan nada manja pada Jun Hyeon.
"Siapa bilang kita lagi berdua. Aku merasa ada tikus kecil yang sedang memperhatikan kita," ucap Jun.
Deg!
Jantung Bitna berhenti, ketika mendengar kalimat Jun Hyeon yang terakhir.
(Bersambung)
Halo teman-teman. Maaf updatenya telat. Authornim lagi (sok) sibuk di dunia nyata. Hehehe.
Oke... Selamat membaca. Sarangheyooβ€β€