Metamorphosis

Metamorphosis
S.2 Bab 42 - Berbelok Arah



"A-ayah," ucap Bitna dengan suara tercekat.


"I-ini beneran Ayah?" ulangnya lagi.


Dabum!!! Tanpa sengaja Bitna tersandung kabel ketika akan melangkah lebih dekat. Gadis itu pun berusaha untuk bangkit.


Tetapi? Semuanya telah berubah. Ayahnya tidak ada.


"Hei, Bitna. Seo Bitna..." Seseorang berulang kali memanggil dirinya.


Seo Bitna menatap sekeliling. Dirinya tidak lagi berada di ruang tamu kepala sekolah. Hanya langit-langit kosong berwarna putih yang ia lihat saat ini.


"Bitna..." kali ini seseorang mengguncang tubuhnya.


"Eh, Tika." Kesadaran Bitna telah kembali.


"Kamu mimpi apa, sih? Sampai mengigau dan jatuh dari tempat tidur gitu?" kata Tika. Siswi cantik asal Sumatera itu sudah rapi dengan seragamnya.


"Jadi itu cuma mimpi?" sesal Bitna.


"Ayo cepetan siap-siap. Ini udah hampir jam setengah tujuh, lo. Nanti nggak kebagian sarapan," kata Tika mengingatkan.


"Iya... Ugh, rasanya aku malas sekali masuk kelas hari ini," ucap Bitna. Tapi lima belas menit kemudian, gadis itu sudah rapi dengan seragamnya dan buru-buru sarapan.


...🍎🍎🍎...


"Bitna, ada pesan dari guru kimia. Katanya nanti jam pelajaran ketiga, kita berdua izin untuk pergi keluar sekolah," ucap Alva menyampaikan pesan dari Miss Ivanka.


"Loh, mau ke mana?" tanya Bitna.


"Nggak tahu. Katanya sih masalah KI* gitu?" ucap Alva.


*KI: karya ilmiah


"Ooh.. Oke," sahut Bitna. "Tapi kenapa kamu senyum-senyum gitu? Kamu nggak nipu aku, kan?"


"Ya ampun. Ngapain aku bohong? Lihat aja jam ketiga nanti. Emangnya aku nggak boleh seneng keluar sama gebetan?" kata Alva.


"Gebetan?"


"Iya. Kamu kan gebetan aku? Kalau nggak mau jadi gebetan, jadi pacar juga boleh, kok," ucap Alva.


"Ohok! Kode terossss... Jadiannya kapan?" celetuk Zay yang baru aja nongol di kelas.


Alva langsung memutar tubuhnya ke belakang, dan menatap Zay dengan tajam.


"Apaan, si? Orang lagi ngomongin drakor, juga. Ada yang terpelatuk, ya?" kata Zay dengan muka tak bersalah.


"Gaes ayo duduk yang rapi. Pak Reyhan dah datang tuh," seru Talita yang duduk di dekat pintu."


Para siswa langsung kembali ke kursinya masing-masing. Pak Reyhan adalah guru sosiologi yang dikenal dengan kedisiplinannya yang tinggi. Satu orang saja nggak pakai ikat pinggang atau terlambat masuk, satu kelas bakal kena hukum.


...🍎🍎🍎...


Jam istirahat telah berakhir. Sesuai rencana tadi pagi, Alva Arkanza dan Seo Bitna pun berkemas untuk pergi bersama Miss Ivanka, guru kimia mereka.


"Kita akan ke mana, Miss?" tanya Alva.


"Kita mau ke Department of Chemistry Bogor Agricultural University, IPB. Nanti akan kolaborasi penelitian untuk karya ilmiah kita," jawab Miss Ivanka, wanita cantik asli Rusia.


"IPB merupakan salah satu universitas favorit di Indonesia. Tempatnya juga adem banget untuk nongkrong baren," kata Alva.


Sepanjang jalan, Miss Ivanka beberapa kali menerima telepon dari seseorang. Ekspresi wajahnya juga berubah-ubah. Lalu, beberapa saat kemudian wanita bermata biru dan rambut pirang tersebut berbisik pada sang pengemudi.


"Ini kan bukan jalan menuju ke IPB? Sebenarnya mau ke mana kami pergi?" pikir Alva.


Sementara Seo Bitna terlihat tidak curiga, dan asyik memandang panorama di tepi jalanan yang mereka lalui.


"Loh, RSUD Kota Bogor?" pikir Alva semakin curiga.


Kendaraan roda empat tersebut memasuki halaman rumah sakit milik pemerintah kota tersebut. Tetapi remaja yang satu kelas dengan Bitna ini, menahan diri untuk bertanya.


"Bitna, temani Miss ke atas, yuk. Ada seseorang yang mendadak harus Miss kunjungi," kata Miss Ivanka.


"Alva dan Pak George di sini dulu, ya. Maaf, setelah ini baru kita ke IPB," ujar wanita cantik tersebut.


"Baik, Miss," jawab Alva patuh.


Seo Bitna mengikuti Miss Ivanka yang berjalan menaiki lift dan menuju ke ruangan tertentu. Langkahnya begitu cepat dan terburu-buru.


"Siapa yang membuat Miss Ivanka terburu-buru datang ke sini?" pikir Bitna penasaran.


"Apakah Beliau ada di sini," tanya Miss Ivanka kepada beberapa orang pria yang berseragam medis.


"Iya, beliau ada di dalam. Silakan langsung masuk saja."


"Ayo, Bitna," ajak Miss Ivanka seraya membuka pintu.


Bruk!!!


Bitna terjatuh ke lantai, tepat sesaat sang guru membuka pintu. Darahnya seakan berhenti mengalir. Tubuhnya membatu. Rasanya waktu berhenti berjalan di saat itu.


"μ„œλΉ›λ‚˜, λ‚΄ μž‘μ€ 곡주..."


Seorang pria dengan tubuh sangat ringkih, pipi cekung dan rambut memutih, bergumam dengan Bahasa Korea.


"Hiks... Hiks..."


Tak sepatah kata pun keluar dari bibir mungil Bitna. Bibirnya kelu. Hatinya perih melihat pria yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit tersebut.


"Bitna, jangan menangis. Ayo temui beliau," bisik Miss Ivanka sembari membantu Bitna berdiri.


"Ini bukan mimpi, kan?" gumam gadis kecil itu.


Sementara di parkiran rumah sakit yang panas terik, Alva tersenyum tipis, namun hatinya menangis haru. Ia teringat akan kalimat Miss Ivanka sebelum pergi.


"Kamu pasti penasaran, kan? Kenapa kita berbelok ke sini? Seo Bitna akan bertemu Kapten Seo Ilsang. Kita harus bikin perayaan nanti. Pergi ke IPB hanyalah sebuah pengalihan," bisik gurunya sesaat setelah mereka turun dari mobil.


(Bersambung)


Halo semua.. Maaf banget episode ini sangat-sangat telat dan sangat pendek. Maaf kalau mengecewakan teman-teman semua.


Author nulis ini dalam keadaan terbaring sakit, setelah kehilangan calon dede baby. 😭😭😭


Selamat membaca, ya. Semua dukungan like dan komentar dari kalian, membuat Author tetap semangat untuk menyelesaikan cerita ini.


Luv U all... ❀❀❀