
Malam terus bergulir. Sang Dewi Lunar bersinar indah di langit, ditemani jutaan bintang yang berkelap kelip dengan indahnya.
Udara dingin mulai menyapa. Bitna merapatkan selimutnya ke tubuh. Hembusan angin di bawah suhu pendingin ruangan, menembus dinding rumah yang tidak tertutup rapat.
Sosok sang ayah pun berputar di kepala gadis manis itu.
"Ah, apa ayah sekarang bisa tidur di tempat yang enak? Apakah dia punya selimut tebal seperti aku?" gumam Bitna pada dirinya sendiri.
Bulir air mata mulai menggenang di pelupuk mata. Membasahi pipinya yang putih kemerahan, bak buah peach berselimut salju.
"Ibu pasti juga kedinginan, sendirian di sana. Kenapa Ibu pergi terlalu cepat?" bisik Bitna.
Jemari Bitna berselancar di layar HPnya. Ia kembali membuka laman internet Angkatan Laut Indonesia untuk memperoleh info terbaru tentang Kapten Seo Il Sang, ayahnya.
"Eh, ini beneran?"
Mata Bitna terbuka lebar. Berkali-kali matanya membaca headline berita yang sama.
"Setelah terlacak dua minggu yang lalu, sinyal radio kapal Seowol 13 asal Korea Selatan kembali tertangkap radar. Pasukan Hiu segera meluncur ke titik lokasi."
"Ayah..." gumam Bitna lirih.
Harapan baru telah tiba. Bitna kian bersemangat menemui sang ayah di Indonesia.
Cirp... Cirp... Cirp...
"Emh..."
Bitna membuka matanya perlahan. Sinar mentari menerobos masuk melalui celah dinding.
"Kak Bitna, nggak sekolah? Ini udah hampir jam tujuh." Ara nyelonong masuk ke dalam kamarnya menggunakan seragam lengkap.
"Apa? Kenapa nggak dibangunkan dari tadi?" keluh Bitna.
...🍎🍎🍎...
"Hhh... Ini pertama kalinya aku cuma cuci muka ke sekolah. Itu pun harus ketinggalan jam pertama," gumam Bitna sambil melangkahkan kaki dengan secepat kancil.
Tinggal beberapa meter lagi mendekati gerbang sekolah. Bitna mengatur napasnya agar bisa membuat alasan yang tepat pada satpam, agar diizinkan masuk.
setelah berdebat kecil dan memasang wajah menyedihkan, Bitna akhirnya diizinkan masuk. Tapi tentu saja nggak gratis. Gadis itu harus membayarnya dengan membersihkan ruang UKS setiap pulang sekolah, selama tiga hari.
"Nggak apa-apa, deh. Yang penting aku bisa sekolah," gumam Bitna sambil melangkahkan kaki menuju kelas.
Tampaknya kelas pertama baru saja usai. Para siswa berhamburan keluar kelas, sebelum memasuki pelajaran selanjutnya.
Deg! Jantung Bitna berdebar cepat kala melihat seseorang, melintas di depan kelasnya.
"Aduh, jantungku kenapa nggak bisa diam, sih? Kalau begini terus, orang lain juga bisa mendengar detak jantungku," gumam Bitna dalam hati.
Tanpa melepaskan pandangan dari siswa tersebut, Bitna terus melangkah maju ke depan.
Bayangan pria tampan yang kemarin sore selalu bersamanya itu, semakin jelas tergambar di kepalanya.
"Pagi Wooil," sapa Bitna ketika hanya berjarak kurang dari satu meter dari cowok tampan itu.
Wooil hanya menatap Bitna sekilas, lalu melangkah pergi.
"Eh, kenapa lagi dia? Bukannya kemarin suasana hatinya sedang baik?" pikir Bitna.
Tapi gadis itu nggak mau berpikir terlalu panjang. Ia pun segera masuk ke kelas.
"Bitna.. Kau kenapa terlambat?" sambut Eunjo, satu-satunya teman Bitna di kelas itu.
"Aku ketinggalan apa aja pagi ini?" tanyanya kemudian.
"Nggak ada yang terlalu penting. Guru Bahasa hanya mengulang presentasi yang kemarin terrunda," sahut Eunjo.
"Oh iya, tadi Bu Hana mencarimu. Dia memintamu datang ke kantor kalau sudah datang."
"Ok, tanks. Nanti aku menemuinya jam istirahat."
Pluk!
Beberapa buku diletakkan dengan kasar di meja Bitna.
"Heh, kucing kampung! Kenapa kau meminta Wooil untuk mengerjakan PRku? Kan kau yang dihukum untuk mengerjakannya?"
Ahn Chae Rin mengajukan protes pada Bitna. Siswi itu sudah cukup lama tidak mencari masalah dengan peringkat satu di kelas itu. Sepertinya pagi ini ia mulai rusuh lagi.
"Dasar Wooil. Kemarin pulang sekolah, dia yang memaksa untuk mengerjakan PR milik Chae Rin. Sekarang malah protes ke Chae Rin. Apa dia sengaja?" pikir Bitna.
"Hei, PR itu dikerjakan masing-masing. Jangan menyuruh orang lain." Eunjo membalas ucapan Chae Rin dengan sengit.
"Itu kan memang tugas dia. Karena sudah membuatku kena skors," sahut Chae Rin tak mau kalah.
"Loh, itu kan kesalahan kalian sendiri. Kalian membully Bitna, lalu videonya tersebar. Ya jangan salahkan Bitna, dong." Eunjo terus membela Bitna.
"Sudah seharusnya kalangan bawah itu patuh sama kalangan atas. Dan tugas dia di sini ya buat kami senang. Kalau kami bosan dia jadi hiburan dan kalai ada tugas dia yang mengerjakan," kata Chae Rin dengan angkuh.
"Penggolongan kalangan itu berasal dari mana, ya? Kalau berdasarkan harta, semua itu hanya milik ayahmu. Dan kalau berdasarkan prestasi..." Bidna menjeda kalimatnya sejenak.
Remaja mungil itu memperhatikan lawannya dari ujung kepala, hingga ke ujung kaki.
"Harusnya kamu yang patuh sama aturan kami. Kau kan peringkat terbawah di kelas," lanjut Bitna.
"Wah, mulai berani melawan kau sekarang, ya?" Chae Rin mengangkat tangan kanannya, hendak melayangkan pukulan ke tubuh Bitna yang ringkih.
"Hentikan! Kau mau di skors lagi seperti Min Ji?"
Wooil datang tepat waktu. Ia menghadang Chae Rin melayangkan pukulan itu.
"Kau kenapa membelanya, sih?" ujar Chae Rin kesal.
"Aku nggak membelanya. Tapi tanganmu terlalu halus untuk menyentuh kulit dekil seperti dia. Kau nggak mau ketularan bau miskinnya, kan?" kata Wooil.
"Apa kau bilang? Dekil?" seru Bitna.
"Ya, kau dekil dan bau sampah," ujar Wooil.
"Udahlah Chae Rin, kau nggak perlu mengemis padanya lagi. Biar aku yang mengerjakan PRmu. Kau bisa menjamin ucapanku," kata Wooil sebelu. kembali ke tempat duduknya.
"Dia kenapa lagi, sih?" gerutu Bitna. Ekor matanya mengikuti gerak tubuh cowok tinggi itu hingga duduk di kursinya.
"Aku bingung, Wooil itu sebenarnya mengejekmu apa membantumu, sih?" gumam Eunjo lirih.
"Hei Bitna, kenapa kau melamun? Lihat pipimu bersemu merah. Ada kejadian apa kemarin dengannya?" selidik Eunjo.
"Eh, apa? Kami kemarin nggak ngapa-ngapain, kok," celetuk Bitna. Kali ini seluruh wajahnya terlihat memerah.
"Kau... Apa? Jadi benar kemarin ada sesuatu? Ayo ceritakan. Jangan bikin aku penasaran," desak Eunjo.
(Bersambung)