
“Gawat, Anak-anak! Cuaca memburuk. Kabarnya akan ada gelombang tinggi menuju ke sini. Kita harus segera kembali ke pulau utama,” ujar sang tourguide.
“Apa? Padahal baru saja kita akan bermain,” ucap mereka kecewa.
“Sialan!” gerutu Lim Chan. Ia merasa de javu.
Tanpa menunggu lebih lama, kapal bermuatan delapan orang itu pun segera kembali berlayar menuju pulau utama di kecamatan Pulau Aru-Aru.
Syuuu… Tiupan angin membuat ombak semakin tinggi. Kapal kecil itu teromang-ambing di tengah lautan. Dari kejauhan, terlihat kerlap-kerlip kapal nelayan yang juga berbondong-bondong menuju ke daratan.
“Hujan mulai turun. Pindahkan semua barang ke tengah geladak. Jangan ada yang berada di tepi,” ucap pria berdarah Ambon itu.
“Huek!” salah seorang di antara mereka mulai mabuk laut, karena terombang-ambing di tengah lautan yang sedang labil.
“Will! Kau nggak apa-apa?” seru teman-teman.
William yang tengah mabuk itu hanya menggelengkan kepala. Pandangannya mulai kabur. Seluruh isi perutnya tumpah semua ke dalam sebuah plastic yang diberikan Lim Chan.
Bruaakkk!!! Tiba-tiba kapal itu menabrak suatu benda asing, dan pecah di bagian lambung. Kapal kecil tersebut mulai oleng ke kanan.
“Cepat pasang baju pelampung dan naik ke atas sekoci!” ujar sang tourguide dengan lantang.
Brakkk!!! kapal kembali menabrak sesuatu. Separuh bagianya telah masuk ke dalam air.
“Ayo, cepat. Siapa lagi yang belum naik ke sini?” teriak pria local yang bertindak sebagai ketua tim.
Byurr! Naas, Dave yang hendak melompat ke dalam sekoci, justru terpeleset dan masuk ke dalam air.
“Dave! Pengang tanganku,” seru Lim Chan panik.
“Tarik tali ini!” seru yang lain.
Sayangnya, keadaan di laut saat itu tidak memihak kepada mereka. Gelombang yang datang bergulung, hujan yang turun semakin deras, membuat mereka semua terpisah dengan Dave yang terbawa arus bersama kapal karam tersebut.
...🍎🍎🍎...
Pagi hari, cuaca di Kepulauan Aru kembali normal. Seakan tidak terjadi apa-apa tadi malam. Enam unit kapal tim SAR telah bekerja sejak matahari belum terbit. Mencari salah seorang wisatawan yang menghilang.
“Ckk! Gawat, harusnya aku nggak usah menyetujui nginap di pulau itu,” pikir Lim Chan menyesal. “Nggak! Seharusnya memang nggak usah pergi ke sana.”
“Chan, sarapan dulu. kamu harus punya tenaga untuk mencari Dave,” ajak William.
“Ugh, aku nggak selera.”
“Jangan berpikir bodoh! Dave nggak akan ketemu kalau kamu cuma menyesali hari kemarin. Ayo cepat makan dan kita pergi mencarinya,” paksa William.
Lim Chan tidak punya pilihan lain selain menurut. Apa yang dibilang William itu benar.
Beberapa jam kemudian.
“Tim Buaya, apa kalian sudah ada kabar terbaru?”
“Cek, Tim Kadal. Kami sudah menyisir pulau-pulau dan wilayah selatan, tapi belum ada hasilnya.”
“Tim Tokek hadir. Kami menemukan puing kapal Mandala Enam, di sekitar Pulau Wahangula-ngula.”
“Seluruh Tim SAR, segera menyisir wilayah Pulau Wahangula-ngula dan juga pulau-pulau lain di Aru Utara.”
“Oh, Tuhan. Sekali ini saja, tolong aku. Jangan sampai aku menyesal telah membawa mereka ke sini,” gumam Lim Chan yang berada di salah satu kapal Tim SAR. Pria muda itu sejak tadi memasang penglihatannya baik-baik, untuk menemukan Dave.
Matahari semakin naik menuju ke titik tertinggi. Peluh membasahi seluruh punggung para sukarelawan yang turut mencari. Tetapi mereka hanya menemukan bangkai kapal yang telah pecah berkeping-keping.
Sisa-sisa kegiatan camping singkat mereka kemarin, masih dapat dilihat di salah satu pulau tak berpenghuni tersebut. Menjadi saksi terakhir sebelum Dave menghilang.
“Ayo kita menepi dulu,” ujar beberapa orang pria.
“Pak, jangan hentikan dulu. Teman saya belum ketemu,” cegah Lim Chan.
“Pencarian masih terus berlanjut. Tapi untuk siang ini menggunakan sift. Karena harus isi perut dulu. Dan beberapa juga ibadah sholat,” kata para anggota Tim SAR tersebut.
“Kalau kau masih mau lanjut, pindah ke kapal Tim Hiu saja. Mereka masih berlanjut,” saran beberapa orang.
“Baiklah.”
...🍎🍎🍎...
“Ohok! Ohok!”
Seorang pria berambut pirang terdampar di sebuah pulau kecil dipenuhi pohon perdu dan semak belukar.
“Gawat! Aku di mana sekarang? Apakah aku akan menjadi tarzan modern?” pikir pria itu sambil membersihkan pasir yang menempel di sekujur tubuhnya. Dadanya terasa sangat perih, karena terlalu banyak menelan air laut.
Suasana di tempat itu begitu sunyi. Tidak ada tanda-tnda kehidupan manusia di sana. Deburan ombak yang terpecah ke pantai. Serta cuitan burung-burng yang sibuk mencari ikan, menemani Dave dalam heningnya.
Bruk! Pria itu kembali ambruk ke pasir. Ia hampir tidak bertenaga. Sepanjang malam ia berenang di lautan sambil memegang sebuah puing kapal. Life jacket yang ia gunakan membuatnya tetap berada di permukaan, meski beberapa kali tergulung oleh ombak.
Dinginnya air laut dan guyuran air hujan yang sangat lebat, membuat tubuh pria itu terasa kaku. Ia berenang tanpa arah di kegelapan malam. Beruntung, seekor lumba-lumba menyeretnya ke tepi daratan. Entah bagaimana akhirnya, Dave tak sadarkan diri hingga matahari bersinar dengan sangat terik.
Dengan langkah tertatih, pria itu melangkah semakin jauh ke tengah daratan. Pikirannya masih mengulang-ulang apa yang dilihatnya tadi malam ketika cahaya kilat menerangi lautan. Beberapa kali ia melihat sesuatu yang menyeramkan di bawah air.
“Gila! Apa laut ini tempat pembantaian? Kenapa ada banyak tengkorak manusia bertumpuk di bawah sana?” pikir Dave sambil bergidik ngeri.
Beberapa wilayah perairan tersebut ada yang cukup dangkal., dengan kedalaman hanya sekitar tujuh hingga lima belas meter. Ketika Dave tergulung ombak dan petir menyambar, dasar lautan yang dipenuhi padang lamun tersebut memperlihatkan sisi lainnya yang menyeramkan.
“Ah, apa aku terlalu banyak berhalusinasi karena ketakutan?” ujar Dave membuang pikiran buruknya jauh-jauh.
Srak! Srak! Srak!
Pria bule itu terus berjalan diantara semak. Mencari sesuatu yang dapat mengganjal perutnya. Beberapa kali ia harus berhadapan dengan binatang liar yang datang dari arah hutan.
Nguk! Nguk!
Dave melihat puluhan monyet liar berkerumun di sebuah pohon, yang memiliki buah berwarna hijau kekuningan.
“Menyebalkan! Aku benci monyet. Terutama monyet liar!”
Dave menghindar dari kerumunan penghuni pulau tersebut. Tapi baru beberapa langkah, ia kembali menghentikan langkahnya dan berbalik badan.
“Itu dia makanan siangku,” gumam pria bertubuh tinggi tersebut.
Dddrrrr…
Dari kejauhan terdengar deru kapal yang berlayar mendekati pulau. Riak gelombangnya terhempas ke pantai pasir di tepi pulau.
Dave yang sedang berperang dengan segerombolan monyet liar tersebut, segera berlari mendekati pantai. Dia membuka bajunya dan mengibarkannya menggunakan sebuah ranting kayu.
“Heeeiiii… Ada orang di sini?” teriak Dave berkali kali.
Sebuah kapal berwarna kuning tersebut memperlambat kecepatannya. Beberapa orang melihat ke arah pantai dengan menggunakan teropong.
“Di sini… Dave Di sini…” Dave terus berteriak hingga menarik perhatian orang-orang di dalam kapal.
“Hei, Nak. Apakah itu temanmu yang hilang?” tanya seorang anggota Tim SAR.
Lim Chan menggunakan teropong tersebut, “Iya, itu temanku. Syukurlah, dia masih hidup!” seru Lim Chan bernapas lega.
Kapal pun merapat ke pantai dan menyelamatkan Dave. Pertolongan pertama segera diberikan pada pria berdarah Amerika-Italia tersebut.
“Pak, apakah di sini tempat pembantaian atau pembuangan mayat?” tanya Dave dengan suara bergetar.
“Apa maksudmu?”
“Aku melihat belasan tengkorak manusia bertumpuk di dasar laut,” ungkap Dave yang membuat semuanya bergidik ngeri.
(Bersambung)