Metamorphosis

Metamorphosis
S.2 Bab 8 - Wanita Penggoda



SMA Seodaemu-Gu, Korea Selatan, pukul 5 sore.


"Hiks... Ini gak adil. Oppa meninggalkanku ke Eropa demi wanita miskin itu. Padahal aku sudah memberikan semua untuknya."


Kim Min Ji mengurung diri di dalam toilet sekolah paling ujung. Lantai itu jarang dilalui oleh para siswa, kecuali untuk kegiatan klub dan kelas malam bagi anak kelas tiga.


Hati gadis manja itu kian hancur. Baru saja ia masuk sekolah lagi, citranya sebagai siswi paling cantik di kelas satu luntur seketika. Tidak ada lagi yang takut padanya.


"Wanita Penggoda", begitulah julukannya sekarang. Semua orang mengucilkannya, bahkan mengejekknya dengan julukan yang tak pantas. Dengan kata lain, Kim Min Ji dibully.


Fotonya tersebar di semua media massa, dan menyeret nama kedua orang tuanya yang merupakan publik figur di Korea Selatan bahkan negara Asia Timur lainnya.


Tidak hanya itu, salah satu mata-mata artis terkenal di Korea "Despach" bisa menemukan video mesranya dan foto-fotonya ketika berjalan bersama Song Gae Nam, sosok guru tampan yang mendadak jadi idola para pelajar.


Tetapi anehnya, tidak ada satu pun berita yang menyudutkan atau menyalahkan pria itu. Semua kesalahan ditimpakan kepada Kim Min Ji.


Ttuuuttt....


"Halo?"


"Hei, Jun Hyeon. Ini aku Kim Min Ji."


"Kau gila? Ini kan masih jam belajar? Kenapa bisa menelepon? Kau di mana?" tanya Jun Hyeon panik.


"Kau sendiri kok bisa mengangkat telepon?" balas Min Ji.


"Ah, bukan itu topik utamanya. Aku mau bilang, kau nggak suka sama Bitna, kan? Apalagi sekarang dia ke luar negeri," kata Min Ji kemudian.


"Iya, terus kenapa?" jawab Jun Hyeon setengah berbisik.


"Aku mau menawarkan sesuatu yang menarik untukmu, agar bisa melenyapkan bocah sialan itu," kata Min Ji.


"Aku nggak tertarik," jawab Jun Hyeon dengan cepat.


"Hei, dengarkan dulu. Jadi..."


"Maaf aku nggak tertarik. Kalau harus menghancurkan gadis itu, aku akan bekerja sendirian. Bersekongkol dengan orang lain cuma membuat diriku dalam bahaya," kata Jun Hyeon lalu memutuskan telepon.


"Bangs*t! Dia menganggap remeh aku, ya? Dia pikir bisa menyelesaikan masalah ini sendirian?" Min Ji mengamuk di dalam toilet.


"Ah, masih ada yang bisa ku telepon." Min Ji kembali menyambungkan telepon dengan seseorang.


"Halo?"


"Ma, aku masih bisa ke luar negeri, kan?" tanya Min Ji tanpa basa basi.


"Nggak! Visa dan passport mu sudah dibekukan karena ulahmu sendiri."


"Aaaahhh.. Mama dan Papa kan juga mau pergi ke luar negeri. Kenapa cuma aku sendiri yang gak bisa?" protes Min Ji.


"Itu karena kau berurusan langsung sama orang penting dalam hidup Tuan Seon Kang Nam," ujar Kim Dayoung.


"Maksud Mama anak haram itu? Aku jauh lebih penting dan berharga dari anak itu. Mama juga tahu, kan?" kata Min Ji.


"Hhhh... Jangan sembarangan bicara." Aktris cantik itu menghela napas panjang. "Kau urus sendiri lah urusanmu. Mama sibuk," ujarnya.


Tut! Telepon pun terputus.


"Gila! Apa sih hebatnya anak miskin yang sombong itu? Ke mana-mana juga lebih cantik aku..." omel Min Ji.


Min Ji masih tak ikhlas semua orang mengucilkannya. Ia merasa, apa yang dilakukannya adalah hal yang wajar. Dia juga tak rela jika Song Gae Nam meninggalkannya begitu saja. Menurutnya, ia adalah wanita paling cantik.


Jemari Min Ji berselancar di layar HP. Ia membuk media sosial sang mantan kekasih yang masih ia cintai. Guru muda itu ternyata memasang fotonya dengan kekasih baru di storynya. Hati Min Ji semakin memanas.


"Nomor yang anda tuju..."


Prang!!!


Min Ji melemparkan HPnya hingga pecah berkeping-keping. Berkali-kali Min Ji menelepon Song Gae Nam. Tapi berkali-kali pula dihubungkan ke kotak suara.


"Sialan! Kenapa aku harus mengalami semua inu? Padahal seharusnya cewek kampung itu yang menerima penghinaan seperti ini." Kim Min Ji meracau sendirian.


"Hikss... Hiksss... Hiks..."


"Aku nggak mau hidup kayak gini. Aku tahu, dengan cara begini mereka pasti akan kembali padaku. Gak ada yang bisa mereka lakukan tanpaku."


Prang!


Min Ji memecahkan botol parfum mahal yang selalu ia bawa. Lalu... Czassssshhh...


Menggunakan sekeping pecahan kaca yang berserakan di lantai, Min Ji membelah lengannya.


"I-ini, kan... ? Aaaa... Darahhh...!"


Para siswa kelas tiga yang sedang melintas, menjerit ketakutan melihat darah segar mengalir dari dalam toilet perempuan.


...🍎🍎🍎...


"Yeoboseo..." Eunjo mengangkat telepon dari nomor asing di HPnya.


"Hei, Eunjo. Ini aku, Bitna."


"Wah, bocah kunyuk ini akhirnya menelepon juga rupanya," kata Eunjo.


"Hei, sopan dikit kalau bicara. Aku ini kakak kelasmu sekarang. Panggil aku Kakak," kata Bitna sambil terkikik.


"Apa? Bocah sialan ini ngibulin, ya?" oceh Eunjo tak terima.


"Di sini aku sudah kelas XI alias kelas dua SMA. Jadi kau adik kelasku," jelas Bitna.


"Wah, nggak asik banget. Di sini masih dua bulan lagi ujian kenaikan kelas. Pokoknya aku nggak mau memangilmu kakak," gerutu Eunjo tak terima.


"Tapi kenapa kau baru meneleponku sekarang? Ada banyak yang ingin aku ceritakan padamu," lanjut Eunjo.


"Di sini aku cuma boleh memegang ponsel satu minggu sekali. Dan itu cuma dua jam," kata Bitna.


"Gila! Aku bisa mati kalau hidup tanpa HP kayak gitu," ujar Eunjo. "Terus sekarang kau menelepon pakai nomor siapa?"


"Punya sekolah. Tadi aku habis menelepon untuk keperluan tertentu. Jadi sekalian aja, deh. Kamu mau cerita apa?" kata Bitna.


"Kim Min Ji udah sekolah," kata Eunjo.


"Ohh.."


"Eh, tunggu dulu. Aku belum selesai ngomong," kata Eunjo. "Dia dicampakkan Pak Song, lalu dibulky dan dikucilkan," lanjutnya.


"Hah? Dia dibully? Sama siapa?" tanya Bitna jadi semakin penarasan.


"Kyaaa... Ada yang bunuh diri." Beberapa anak perempuan terdengar berteriak ketakutan.


"Bunuh diri? Siapa? Kau masih di sekolah?" tanya Bitna pada Eunjo.


"Nggak tahu juga. Heboh banget. Katanya dari lantai anak kelas tiga," ucap Eunjo samar-samar. Suara keributan di belakangnya semakin jelas.


"Gila! Kim Min Ji bunuh diri."


"Apaa? Min Ji?" teriak Eunjo dan Bitna penasaran.


(Bersambung)