Metamorphosis

Metamorphosis
Bab 21 - Jangan Ganggu Dia!



"Aku pulang."


"Kakak! Syukurlah kakak pulang. Aku takut sekali. Tadi di depan rumah kita ada penguntit lagi," seru Ara dengan wajah pucat pasi.


"Kakak juga lihat tadi. Kamu sendirian di rumah?" ucap Bitna.


"Iya. Ayah dan ibu masih bekerja. Barusan aku telepon oppa, katanya dia sedang dalam bus," lapor Ara.


"Aku udah foto penguntit itu. Tapi wajahnya nggak jelas. Kamu mengenalnya, nggak?" tanya Bitna sambil menunjukkan foto yang tadi diambilnya.


"Hmmm... Gak kelihatan jelas, sih. Tapi merk jaket sama sepatunya masih bisa dilihat, sih. Tapi gimana ngenalinnya, ya?" gumam Ara.


"Kamu sering lihat?" tanya Bitna.


Ara hanya menggeleng.


"Aku pernah melihatnya di mana, ya? Apa di minimarket depan?" gumam Bitna.


"Eh, kakak pernah lihat orang itu?"


"Nggak, sih. Aku cuma ingat jaketnya aja," ucap Bitna.


"Yah... Kalau cuma jaket sih bisa aja banyak yang punya. Gak bisa jadi patokan," ucap Ara.


"Iya juga, sih. Huhh.. Kita harus lapor sama paman. Ini udah kelewatan," ucap Bitna.


...🍎🍎🍎...


Keesokan paginya di sekolah...


"Hei, lihat. Itu Park Jun Hyeon, kan?" bisik para siswi.


"Omo! Ngapain dia ke kelas kita? cari apa?" bisik yang lain pula.


"Wow! Dilihat dari dekat ternyata cakep banget," ucap yang lainnya pula.


Jun Hyeon terus melangkah ke dalam kelas I B tanpa mempedulikan semua bisik-bisik itu. Langkah kakinya baru terhenti, ketika ia sampai di sebuah meja.


Semua mata menatapnya dengan penuh tanda tanya.


"Ini untukmu. Kamu nanti ada pelajaran olahraga, kan?" ucap Jun Hyeon.


Cowok tampan itu meletakkan sebuah apel san sekotak susu vanila di meja Bitna.


"Apa-apaan ini?" ucap Bitna tak kalah kaget.


"Identitasku sudah ketahuan, jadi aku nggak perlu sembunyi-sembunyi, kan?" sahut Park Jun Hyeon dengan percaya diri.


Semua mata para siswi memandang Bitna dengan tatapan iri.


"Kau gila? Aku ini korban bully di kelas. Anak populer sepertimu ngapain mendekatiku?" bisik Bitna.


"Sudah kubilang kan, aku menyukaimu. Nggak penting bagiku, seperti apa statusmu di kelas," jawab Jun Hyeon dengan sangat yakin.


Bisik-bisik para siswi semakin mengganggu telinga. Bitna yakin, kalau Jun Hyeon juga mendengarnya.


"Jam istirahat nanti kita ketemuan di perpustakaan. Ada yang mau aku bicarakan," ucap Bitna.


"Ok," jawab Jun Hyeon sambil mengedipkan mata.


Setelah siswa populer itu pergi, para siswi langsunh mengerubungi meja Bitna.


"Apa hubunganmu dengannya?" tanya Chae Rin.


"Aku tidak ada hubungan apa pun sama dia," jawab Bitna.


"Terus kenapa dia bisa datang ke sini dan memberikanmu ini?" Chae Rin menunjuk apel merah di meja.


"Hahh..." Bitna menghela napas. "Bener-bener deh, cewek-cewek ini," batin Bitna.


"Wah, berani kali kau menghela napas di depanku!!" Marah Chae Rin.


"Ya aku kan masih hidup. Masih perlu bernapas. Gitu saja kok kau ributkan? Lagian kenapa sih kau peduli banget hubunganku dengan Jun Hyeon?" seru Bitna nggak mau kalah.


"Jawab saja pertanyaanku? Jangan memutar-mutar masalah," balas Chae Rin semakin murka.


"Kau suka padanya? Ya katakan padanya, dong. Jangan protes denganku. Aku juga nggak tahu kenapa dia begitu padaku. Mungkin aku pernah punya hutang dengannya," kata Bitna.


Wajah Chae Rin merah padam mendengar Bitna berani melawannya. Rasa malunya tak tertahankan, saat para siswa mulai menyoraki dirinya.


"Beberapa hari yang lalu, Jun Hyeon juga datang ke sini bertemu Bitna. Sebenarnya hubungan mereka itu apa, sih?"


Sementara itu di luar kelas...


"Hei, berhenti kau!" seru Wooil.


"Kau memanggilku? Ada apa?" jawab Jun Hyeon santai.


"Apa yang kau lakukan pada Bitna?" tanya Wooil.


"Loh, mesti aku jelasin lagi? Kan tadi kau sudah melihatnya langsung," jawab Jun Hyeon santai.


"Jawab saja, bod*h! Kau menembak gadis itu?" seru Wooil.


"Kalau iya kenapa? Ada masalah?" balas Jun Hyeon santai.


"Sebaiknya kau jangan ganggu dia," larang Wooil.


"Kenapa kau melarangku? Memangnya dia pacarmu? Nggak, kan?" balas Jun Hyeon.


"Pokoknya kau jangan ganggu dia belajar. Jangan ajak dia pacaran," amuk Wooil.


"Kau kenapa, sih? Aneh banget. Terserah aku, dong Mau ngajak pacaran siapa?" gerutu Jun Hyeon.


"Tinggal jauhi dia aja apa susahnya, sih? Masih banyak cewek cantik dan pintar lainnya yang bisa kau jadikan pacar," balas Wooil masih tak mau mengalah.


"Kalau kau suka ya bilang suka dengannya, jangan protes denganku," kata Jun Hyeon kesal. "Aku nggak akan berhenti hanya kau melarangnya," lanjutnya lagi.


Cowok peringkat tiga di sekolah itu secara terang-terangan melawan Wooil. Cowok itu kemudian berlalu pergi, meninggalkam Wooil yang terus menggerutu.


"Ah, kenapa banyak banget sih kecoak pengganggu di sekitar Bitna? Nggak boleh ada yang mengganggu belajarnya sampai dia pergi pertukaran pelajar itu," gerutu Wooil.


...🍎🍎🍎...


"Omo... Omo..., apa yang terjadi? Kudengar Ju Hyeon datang ke sini mencarimu?" bisik Eunjo.


"Kemarin aku udah ngomong sama dia, kalau aku udah tahu siapa pengirim hadiah-hadiah itu," bisik Bitna pula.


"Daebak! Terus apa katanya?" tanya Eunjo penasaran.


"Anak-anak, ayo kembali ke kursi masing-masing. Kita akan mulai pelajaran. Hari ini jadwal presentasi hasil riset kalian, kan?"


Guru Bahasa Korea masuk ke dalam kelas. Pagi ini, para siswa wajib mempresentasikan tugas Sastra Korea yang sudah diberikan beberapa minggu yang lalu.


"Kelompok satu siapa? Ayo segera maju," perintah Bu Guru.


Kim Min Ji dan kelompoknya segera maju ke depan. Ia lalu memasang sebuah USB, dan dihubungkan ke projector.


"Jadi project riset kami kali ini membahas tentang Benteng Hwaseong. Benteng ini masuk ke dalam situs UNESCO," ucap Min Ji sambil membaca sebuah catatan.


"Astaga! Itu beneran?"


"Gila! Kok ada murid kayak gitu sama guru?"


Terdengar bisik-bisik para siswa ketika Min Ji presentasi. Min Ji bingung. Mereka membicarakan apa?


"Benteng Hwaseong menjadi tempat perhelatan sejumlah acara dan pertunjukan budaya, termasuk di antaranya Festival Budaya Suwon Hwaseong yang diadakan setiap musim semi," lanjut Min Ji kembali membaca catatan hasil riset kelompoknya.


"Min Ji, tolong hentikan," perintah Bu Guru.


"Y-ya?" ucap Min Ji bingung.


"Sssst... Min Ji. Kau salah memutar video," bisik salah seorang teman kelompoknya.


"Hah? Apa?"


Min Ji pun melihat ke layar video. Wajahnya langsung pucat pasi. Tubuhnya gemetar. Rasanya ia ingin kabur saja dari kelas.


"K-kok gini?" ucap Min Ji.


Remaja cantik itu tidak menyangka, jika skandalnya dengan Pak Song terbongkar begitu cepat.


Video presentasi yang seharusnya ia putar, malah tertukar dengan video mesranya dengan Pak Song.


Min Ji malah tak habis pikir, dari mana datangnya video itu? Siapa yang merekam dan menukarnya dengan video presentasi kelompoknya?"


(Bersambung)