Metamorphosis

Metamorphosis
Bab 8 - Terus Mencari



“Nak, ada apa kemarin tidak datang?” tanya Pak Hwan ketika Bitna datang ke kantor imigrasi sore ini.


“Saya kemarin pulang sekolah terlalu larut, Paman. Saya takut mengganggu jika singgah ke sini,” jawab Bitna.


“Tentu saja tidak menganggu sama sekali. Aku malah khawatir padamu, Nak. Tidak terjadi sesuatu padamu, kan? Wajahmu terlihat sangat pucat dan tidak bersemangat,” selidik Pak Hwan.


Bitna hanya menggeleng sambil mengukir senyum di bibirnya. Paman Hwan tahu, jika ekspresi itu hanyalah sebuah paksaan.


“Apakah ada kabar terbaru tentang kapal ayahku, Paman?” tanya Bitna sangat penasaran.


“Nak, sepertinya kamu harus siap mendengar hal ini. Sayangnya bukan berita yang baik, tapi tidak buruk juga,” kata Pak Hwan sangat hati-hati.


Bitna tidak bisa mengendalikan ekspresi wajahnya. Rasa penasaran pun memuncak hingga ke ubun-ubun.


“Kabar terakhir yang kami terima, kalau gelombang radio dari kapal itu menghilang lagi, tidak bisa dilacak dari posisi sebelumnya. Dan pemerintah Korea tidak berniat untuk melanjutkan pencarian,” kata Pak Hwan hati-hati.


“Ke-kenapa begitu, Paman?” tanya Bitna.


“Kau tahu, kan? Kapal itu sudah hilang lama sekali. Dan anggaran yang diperlukan untuk mencari kapal itu juga tidak sedikit. Makanya pemerintah sepakat untuk tidak melanjutkan pencarian lagi,” jelas Pak Hwan.


“Ta-tapi, kenapa?” Pelupuk mata Bitna mulai basah.


“Kamu pasti merasa hal ini tidak adil. Tetapi kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi kalau pemerintah sudah memustuskan,” sahut Pak Hwan.


“Tetapi jangan putus harapan, karena pemerintah Indonesia masih tetap melanjutkan pencarian. Tentara Angkatan laut mereka masih terus melacak gelombang radio tersebut, dan cara lainnya juga,” sambung Pak Hwan.


Wajah Bitna yang tadinya mendung, kini sedikit bercahaya. Tapi bagaimana caranya ia tahu perkembangan tentang informasi ayahnya?


“Ini alamat website yang bisa kamu kunjungi.” Pak Hwan memberikan secarik kertas pada Bitna. “Kamu bisa mendapat informasi terbaru di sana,” lanjut pria itu.


“Ini…?” Bitna menyodorkan kembali kertas bertuliskan alamat website resmi salah satu departemen pemerintahan Indonesia dan sebuah nomor telepon dengan kode Korea.


“Ah, ini nomor telepon Paman. Kamu boleh menghubungi kapan saja jika memerlukan bantuan,” jawab Pak Hwan.


“Bolehkah?” tanya Bitna meyakinkan.


“Tentu saja. Anggap aku sebagai Pamanmu sendiri,” kata Pak Hwan.


“Baiklah, Paman. Terima kasih atas semua bantuan Paman selama ini,” ujar Bitna seraya pamit.


“Sebentar, Nak. Ini untukmu,” ucap Pak Hwan. Tangannya mengulurkan dua bungkus roti sandwich tuna pada Bitna.


Bitna hanya menatap Pak Hwan dengan ragu.


“Ambil lah untukmu. Aku tak tahu apa yang terjadi padamu belakangan ini. Tetapi wajahmu terlihat sangat pucat. Paman harap ini dapat mengembalikan tenagamu.”


Duh, air mata Bitna tidak dapat dibendung lagi. Hatinya terharu melihat kebaikan pria tersebut.


“Terima kasih banyak, Paman.” Bitna membungkukkan tubuhnya dalam-dalam.


“Sudahlah, tidak perlu begini. Pokoknya kau harus kuat dan jangan menyerah untuk mencari ayahmu.”


...🍎🍎🍎...


Bitna berjalan kaki tanpa arah. Uangnya sudah tidak cukup lagi untuk ongkos bus. Hatinya pun begitu berat untuk pulang. Seo Bitna benar-benar merasa sendirian dan kesepian di dunia yang luas itu.


Ddrtttt…!


Sudah berulang kali ponsel Bitna berdering.


“Halo?”


“Bitna, kamu ada di mana? Kenapa belum pulang?” tanya Yeon Woo, sepupunya.


“I-ni aku sedang diperjalanan,” jawab Bitna.


“Kamu di mana? Apa perlu Oppa jemput? Sekarang banyak kejahatan wanita di malam hari,” ujar saudara lelaki Bitna tersebut. Nada bicaranya terdengar sangat cemas.


“Ti-tidak perlu. Aku sebentar lagi sampai,” kata Bitna.


Wanita itu merasa bersalah, karena telah membuat orang lain repot mencarinya.


Tiga puluh menit kemudian.


“Bitna, kamu dari mana saja? Katanya sebentar lagi sampai di rumah. Ayah dan ibu cemas mencarimu sejak tadi. Kamu tidak apa-apa,kan?” Chae Yeon Woo menyambut Bitna dengan sederet pertanyaan.


“Aku… Tidak apa-apa,” kata Bitna dengan suara lemah.


“Aku tidak apa-apa,” jawab Bitna lagi.


“Baiklah kalau begitu. Aku akan mengabari ayah dan ibu kalau kamu sudah pulang. Kau pergilah mandi, setelah itu kita makan malam,” kata Yeon Woo.


Srrr… Bitna mengguyur seluruh tubuhnya dengan air. Matanya yang sembab masih terus mengeluarkan air mata.


“Apa aku salah? Mungkin aku tidak benar-benar sendirian di muka bumi ini. Mungkin saja keluarga ini benar-benar menyayangiku. Tetapi, aku tetap merindukan ayah dan ibu,” bisik Bitna.


"Bitna, kamu mau ramyun, kan?" seru Yeon Woo ketika Bitna selesai mandi.


"Paman dan bibi mana?" tanya Bitna.


"Mereka pergi mengantar pesanan yang terunda karena mencarimu tadi,” jawab Yeonwoo sambil memasak Ramyun.


“Kamu mau ekstra telur, kan?" Yeon Woo memasukkan beberapa butir telur ayam ke dalam kuah ramyun.


"Hueeekkk...!"


"Bitna, kamu kenapa?" Yeon Woo segera menghampiri Bitna.


"Kakak sakit?" ucap Ara pula.


"Sepertinya aku kecapekan. Kalian makanlah duluan. Aku mau istirahat dulu," ucap Bitna.


Ara dan Yeon Woo saling berpandangan. Terlalu banyak keanehan pada sepupu mereka hari ini. Apalagi Bitna yang sangat menyukai telur ayam itu. Kenapa dia muntah? Gak mungkin kan kalau Bitna...


"Benar kamu nggak apa-apa?" tanya Yeon Woo lagi.


Bitna mengangguk.


“Ya sudah. Istirahatlah. Kamu mau makan apa untu malam ini?” ucap Yeon Woo.


“Entahlah. Sepertinya aku hanya butuh istirahat,” ucap Bitna.


"Kalau butuh apa-apa, jangan sungkan panggil Oppa atau Ara, ya."


Bitna mengangguk lemah.


"Duh, kenapa aku tiba-tiba mual ketika melihat telur, ya? Padahal laper banget," pikir Bitna di kamar.


Tiba-tiba dia teringat pada pemberian Pak Hwan tadi.


“Ah, untung saja aku masih menyimpan sandwich ini,” gumamnya lega.


...🍎🍎🍎...


Pagi harinya…


“Bibi, apakah aku boleh meminta uang jajan lebih bulan ini?” tanya Bitna hati-hati.


Kening bibi berkerut mendengar permintaan Bitna, “Bukankah ini masih awal bulan? Kenapa uangmu cepat sekali habis?” protes bibi.


Bitna menundukkan kepalanya. Ia takut untuk menjawab jujur.


“Ah, sepertinya model rambutmu berubah. Apa kamu menggunakan uang itu untuk mengubah penampilanmu? Seragammu juga terlihat baru,” sindir bibi.


Yang dikatakan bibi tidak salah.  Bitna memang menghabiskan sebagian besar uang jajannya untuk memperbaiki rambutnya. Tetapi bukan untuk mengubah penampilan menjadi cantik.


Bitna juga membeli seragam baru untuk cadangan, jika ia ihujani beragam sampah seperti biasanya.


Namun Bitna sulit menjelaskan itu semua pada bibi. Apa tanggapan bibi nanti? Apa bibi akan percaya?


“Hhh… Kenapa tak menjawab?” ucap bibi kesal lalu meninggalkan Bitna.


“Nih. Tapi jangan boros,” kata bibi sambil menyodorkan beberapa lembar uang pada Bitna.


“Terima kasih, Bi.” Bitna menerima uag tersebut.


“Ingat, jangan habiskan uang itu. sampai bulan depan. Uang asuransi yang ditinggalkan ibumu memang cukup banyak, tetapi itu adalah tabunganmu sampai kuliah nanti,” kata bibi.


“Baik, Bi. Aku mengerti.”


(Bersambung)