Metamorphosis

Metamorphosis
S.2 Bab 54 - Aku Nggak Bisa



Tiga minggu kemudian...


"Gya... Cukkae, Seo Bitna. Akhirnya nilai-nilaimu bagus semua," ucap Flora bahagia.


"Iya... Makasih ya. Ini semua berkat bantuan kalian," kata Bitna senang.


"Tapi tetap aja kalah. Kau nggak bisa menggeaerku sebagai posisi pertama," celetuk Alva dengan wajah sombongnya.


"Tapi posisi ketiga itu udah hebat, tahu. Aku yang dapat nilai item semua aja udah bangga," bela Zay.


"Iya, nih. Rasanya kepalaku udah terbakar, gara-gara mikirin ujian mulu. Tapi tetap aja nggak bisa ngalahin kamu sana Tika," kata Bitna.


Tika yang masih tetap memegang peringkat dua di kelas dan sekolah, hanya tersenyum manis tanpa banyak bicara.


"Berarti sebentar lagi Bitna balik ke Korea, dong," kata teman-teman.


"Iya, nih. Kalau teman-teman masih bareng-bareng di sini setahun lagi, ya? Aku malah berpisah duluan," ucap Bitna dengan wajah sedikit mendung. Matanya melirik ke arah Alva.


"Sssttt... Al, katanya kamu mau traktir aku tiga puluh kali? Tapi kamu baru ngajak aku lima kali, loh. Boleh kuambil sekarang traktiranya?" bisik Bitna pada Alva.


"Hhmm... Lihat nanti, ya. Aku agak sibuk hari ini," kata Alva.


Kening Bitna berkerut, melihat sikap Alva yang tidak seperti biasanya.


"Al, aku ada salah ya sama kamu?" tanya Bitna ketika jam makan siang.


"Nggak, kok. Memangnya kenapa?" tanya Alva setelah menelan ikan bakar dan lalapan.


"Eh, nggak. Itu... kamu agak beda aja dari biasanya," kata Bitna.


"Aku? Apanya yang beda? Tambah cakep, ya?"


Astaga... Bitna mengelus dada. Ia tidak tahu, harus marah atau senang melihat pria super pede di hadapannya.


"Kamu sedih ya, karena aku mau pulang?" selidik Bitna.


Alva meletakkan sendoknya, "Hmm? Iya mungkin," ujarnya.


"Kalau aku yang mentraktirmu, kau mau keluar, kan? Aku dapat uang jajan banyak dari UNICEF waktu ke Brazil kemarin," bujuk Bitna.


"Maaf, tapi aku tetap nggak bisa," ucap Alva sambil menyudahi makan siangnya.


"Gimana?" tanya Tika dan kawan-kawan dari meja sebelah, menggunakan bahasa isyarat. Bitna hanya menggelengkan kepala.


Siang hari, saat mendekati jam pulang.


"Sebagai perpisahan Bitna mau pulang ke Korea, kita ada tour kelas selama satu malam," ucap Bu Elya ketika kelas udah tenang.


Kelas kembali riuh. Anak-anak sibuk menebak-nebak, ke mana mereka akan pergi.


"Tenang semuanya. Kita nggak pergi jauh-jauh, kok. Mengingat anggaran dan waktu yang terbatas. Jadi, kita akan tour ke Bukit Alas Bandawasa. Gimana? Ada yang keberatan?"


"Nggak, Buu... Kami udah nggak sabar untuk pergi," jawab anak-anak dengan kompak.


"Baiklah. Kita pergi dua hari lagi."


...🌺🌺🌺...


"Hmmm... Udaranya segar banget." Bitna menghirup napas dalam-dalam.


Bener banget, nggak salah emang Bu Elya mengajak kita camping di sini," sahut Tika sambil menancapkan tiang untuk tenda.


"Hai cewek-cewek, biarkan kami yang memasang tenda. Kalian siapkan saja api dan membakar jagung," ucap para siswa lelaki.


"Oke. Awas ya, jangan pasang asal-asalan," ujar Flora.


"Iya, bawel," ucap Zaenuddin alias Zay.


"Widih! Berantem mulu kalian. Aku doakan Nanti kalian berjodoh, ya," ucap Tika.


"Dih, amit-amit!" ucap Zay dan Flora yang bersamaan.


Seo Bitna tertawa terpingkal-pingkal melihat ulah kedua temannya tersebut. Tetapi hati kecilnya menangis. Di Lubuk hatinya yang terdalam, ia sangat tidak ingin pergi dari Indonesia, yang telah menjadi kampung halaman yang kedua.


"Bitna, kamu bagian mengupas jagung, ya. Bareng aku," ucap Sri Devi.


"..."


"Bitna? Hei." Perempuan asal Bali tersebut menepuk punggung Bitna dengan pelan. "Lagi mikirin apa, sih? Alva, ya?"


"Hah? Nggak, kok. Kamu tadi bilang apa?" sahut Bitna selang beberapa detik kemudian. Matanya melanglang buana ke segala penjuru, seakan mencari seseorang.


"Dasar anak ini! Ngomongin Alva aja dengar, giliran di suruh kupas jagung malah nggak dengar," kata Devi.


"Eh, iya juga. Si Alva ke mana, ya? Dari tadi nggak ada kelihatan," kata anak-anak lain.


(Bersambung)