Metamorphosis

Metamorphosis
S.2 Bab 16 - 잘생겼어



"Hai..."


"Kamu lagi? Ngapain di sini? Mau cari masalah lagi?" Tika mengomeli cowok yang tengah berdiri di depan pintu.


Remaja cowok itu hanya menggunakan celana pendek sepanjang lutut dan kaus oblong putih polos. Bitna memandangnya cukup lama, tanpa berkedip.


"Nggak, kok. Kali ini aku sudah izin dengan pengawas," jawab Alva santai.


"Nih, obat untuk Bitna. Kamu lagi demam, kan?" Alva mengulurkan tangannya, menyerahkan sekantong plastik putih berisi obat dari klinik sekolah.


"Oh, ma-makasih," kata Bitna dengan nada sangat rendah.


Pipi gadis itu memerah bak tomat masak. Seluruh wajahnya terasa hangat. "Ah, sepertinya demamku tambah parah," gumam Bitna.


"Sama-sama. Ini ada sekoteng juga. Tadi kau bilang menyukainya, kan?" kata Alva lagi.


"Iya, aku suka. Trims, Alva," kata Bitna.


"Enak ya, lagi sakit ada yang dateng jenguk bawain obat. Kalo kita mah boro-boro," kata Citra yang baru aja muncul. "Aku juga mau dong, diperhatiin," lanjut gadis pecinta musik barat itu.


"Maksudmu Babang Jamet di kelas IPS itu?" celetuk Julia.


"Ih... Sembarangan! Namanya tuh Jhafar Melvin Tanoedjaja," bantah Citra.


"Iya tetep aja, singkatannya Jamet," balas Julia. "Btw Al, mana sogokan untuk kami? Masa Bitna doang yang dapat?"


"Kalian kan nggak sakit? Ngapain minta juga?" protes Alva. Pria itu mengangkat dagunya dan melipat kedua tangannya di dada. Ia bersikap sok arogan.


"Ehem! Ini sudah lima menit. Tadi janjinya cuma tiga menit." Bu Ingrid, pengawas seluruh asrama putri tiba-tiba muncul.


"I-iya, Bu. Ini udah mau pergi. Udah ya gaes, sampai ketemu besok," kata Alva. "Oh iya, di dalamnya ada martabak asin untuk kalian semua."


"Enam menit," kata Bu Ingrid.


"Iya, Bu. Saya pergi, nih. ," kata Alva buru-buru pergi. "Ya ampun, pelit waktu banget, sih?" kata Alva sambil berlari kencang.


"Apa kamu bilang? Besok-besok nggak Ibu izinkan lagi, lho," seru perawan usia empat puluh tahun itu.


"Kalian juga lanjutkan belajarnya. Jangan pacaran mulu," kata Bu Ingrid pada anggota asrama mawar.


"Baik, Bu," ujar anak-anak serempak.


Setelah pintu tertutup. Anak-anak pun pada mengerubungi Bitna.


"Cieeee... Yang abis didatangi ayang... Bagi dong, martabak asinnya," goda Citra.


"Hush, itu punya Bitna." Julia menepuk punggung tangan Citra yang hampir menyentuh kantong plastik itu.


Bitna masih terpaku di tempatnya. Kedua bola matanya memandang ke arah pintu asrama mawar yang kini tertutup rapat. Bibirnya yang kecil dan ranum, bergerak pelan seakan mengucapkan sesuatu.


"Bitna? Ayo, ngapain melamun di situ? Kamu mau minum obat, kan?" kata Tika.


"잘생겼어" gumam Bitna.


"Hah, apa?" seru Tika dan Julia bersamaan.


"Kak Bitna nggak kesurupan kuyang jablay, kan? Kok tiba-tiba diem gini?" ujar Citra bergidik ngeri.


"Hush! Sembarangan kamu. Tapi Bitna kenapa, sih? Badannya tambah anget," kata Julia yang baru saja menyentuh jidat teman Koreanya itu.


"Gwencanayo. Sepertinya aku hanya demam dan harus minum obat," kata Bitna setelah kesadarannya kembali.


"Martabaknya gimana?" tanya Citra. Remaja kelas satu SMA itu sepertinya udah kepingin banget mencoba makanan yang mengeluarkan bau harum itu.


...🍎🍎🍎...


Udara sejuk mulai menyapa, melalui sela-sela pintu dan jendela yang sedikit renggang. Langit malam itu tampak sangat kelam, tak berbintang. Bulan yang biasanya datang menerangi pun, tampak malu-malu memunculkan cahayanya.


Sruk! Sruk! Seo Bitna membolak-balik badannya. Tubuhnya semakin hangat. Detak jantungnya tidak beraturan. Napasnya sesekali terasa berat.


Bola matanya melirik jam weker milik Tika yang terletak di meja, "Duh, sudah pukul sebelas. Gimana, nih?" pikirnya.


Bola mata Bitna lalu beralih ke tempat tidur sebelah. Teman sekamar Bitna itu tampak sudah tertidur pulas. Selimut tebal menutupi tubuhnya hingga ke bahu.


Bitna memegang dadanya. Dug! Dug! Dug! Detak jantungnya masih tidak beraturan. Pikirannya dipenuhi dengan bayangan cowok tampan yang mengenakan baju kaos putih tadi.


"Kenapa dia terlihat lebih tampan, kalau hanya mengenakan pakaian santai, ya?" pikir Bitna.


Remaja cantik asal Kota Seoul itu sudah dua kali melihat Alva mengenakan pakaian informal. Sikapnya yang sangat ramah dan selalu ceria, membuatnya lebih menonjol di antara cowok lain di kelasnya.


"Senyumnya sangat manis. Ia juga terlihat sangat tampan, ketika rambutnya basah," gumam Bitna sambil tersenyum simpul.


"Astaga! Sudah gila aku! Apa sih yang kupikirkan? Dia pasti seperti itu juga karena ketua kelas. Jangan berpikir yang aneh-aneh."


Bitna menepuk-nepuk wajahnya, untuk mengembalikan kesadarannya. Sekujur badannya juga semakin menghangat. Feromon dalam tubuhnya meningkat drastis.


"Ingat Bitna, kamu ke sini demi ayahmu, demi pendidikanmu," gumamnya. "Dan keadaan Min Ji sebenarnya gimana, ya? Apa dia sudah meninggal?"


...🍎🍎🍎...


Sore itu di SMA Seodaemu-Gu, Seoul. Suasana cukup mencekam. Para siswa kelas tiga melihat ceceran darah yang mengalir dari toilet perempuan paling ujung.


Petugas keamanan beserta beberapa guru pun datang. Mereka menemukan Kim Min Ji, siswi cantik yang kini menjadi perbincangan di seluruh sekolah, bahkan seluruh Korea.


Tubuhnya mulai kaku. Bibirnya membiru. Kulitnya sedingin salju. Seragam sekolahnya yang putih dan bermotif navy kotak-kotak, kini berubah menjadi merah darah. Siswi cantik itu kini hanya diam membeku, bagaikan manekin yang memamerkan pakaian indah.


Para siswa pun heboh, saling menyalahkan dan beberapa diantaranya menjerit ketakutan. Guru-guru pun terpaksa memulangkan para siswa lebih cepat.


Berita tersebar cepat. Guru-guru tak mampu mencegah penyebaran instarstory dari smartphone milik para siswa. Reporter pun mulai berdatangan, untuk meliput berita terhangat sore itu.


"Apa saja sih pekerjaanmu? Bagaimana kau mendidiknya, sampai anakmu bunuh diri seperti itu?" tanya Tuan Kim pada istrinya.


"Dia kan anakmu juga? Kenapa hanya aku yang disalahkan? Memangnya mendidik anak cuma tugas perempuan?" kata Kim Dayoung gak mau kalah.


"Siapa kemarin yang sok bersikap keras padanya? Siapa yang memutuskan uang jajan dan mencabut visanya? Kau kan? Ayahnya yang lebih pro memikirkan harga dirinya dari pada anak sendiri?" Kim Dayoung terus mengomel.


"Kau tak lihat gimana reaksi publik, waktu aku ketahuan menekan anak bernama Seo Bitna itu? Kalau publik tahu aku melakukan bullyng pada anak itu, bisa-bisa semua subsidi pada kita akan dicabut. Kita jatuh miskin."


Tuan Kim terus menerus membentak Kim Dayoung dengan suara menggelegar. Matanya memancarkan emosi yang tak bisa dibendung lagi.


"Memangnya kamu siap tinggal di apartemen kecil seperti dulu?" tanya Tuan Kim pada istrinya.


"Kalau Min Ji meninggal, siapa yang akan bertanggung jawab? Balas Dayoung dengan nada tak kalah tinggi.


" Ckk... Padahal aku berencana menghentikan semuanya dalam waktu dua bulan. Dasar gadis itu tidak sabaran. Mirip sekali dengan ibunya," gumam Tuan Kim.


"Apa kau bilang?"


"Ehem! Kita sudah sampai," kata supir pribadi mereka.


(Bersambung)


Haloha... Author mau tanya, dong. Ada yang tahu nggak judul dan bahasa Korea yang dibilang Bitna artinya apa? Komen di bawah, ya?