Metamorphosis

Metamorphosis
S.2 Bab 15 - Beneran Meninggal?



"Guys, kalian udah dengar berita baru belum? Katanya anak artis terkenal korea tewas bunuh diri di sekolah."


"Udah biasa itu! Artis Korea kan emang banyak bunuh diri gara-gara mulut pedas netizen," celetuk yang lain.


"Eh, yang ini beda. Katanya tuh... bla... bla... bla..."


Para murid perempuan dari kelas lain heboh ngomongin berita artis Korea.


Deg! Crang!


Jantung Bitna seakan berhenti berdegup. Ia bahkan menjatuhkan sendok yang di pegangnya.


"Bitna, kamu kenapa?" seru Alva, Tika, Devi dan Flo.


"A-aku nggak apa-apa. Cuma kaget aja dengar mereka nyebut Korea," kata Bitna.


"Oh... Kirain kenapa...?" ujar Flo.


"Mereka juga kenapa heboh banget sih bahas artis Korea? Emangnya mereka lihat berita di mana?" kata Alva. "Nih, sendok baru untukmu."


"Cieee.. Alva perhatian mulu nih, sama Bitna. Gercep banget ambilkan sendok baru," sela Tika.


"Bitna pasti segan mengambil sendok baru. Kalian juga lebih fokus nguping gosip itu," bantah Alva. "Lagian mereka dapat berita gitu dari mana, sih?" Alva mengulangi pertanyaannya.


"Palingan juga dari lab komputer. Anak kelas teknik informatika kan sering pakai lab," kata Flo. "Kalau komputer di kamar asrama kan dibatasi banget ya akses internetnya," lanjut gadis itu.


"Jadi kita bisa browsing berita di lab komputer?" tanya Bitna dengan mata berbinar.


"Bisa, kalau nggak ketahuan," jawab Devi dan Tika.


"Memangnya kamu mau lihat berita apa?" tanya Alva.


"Ah... Ada sesuatu yang harus aku pastikan," kata Bitna.


"Apa Min Ji beneran meninggal? Kalau aku menunggu HP dan menelepon Eunjo, masih lama. Ini baru hari kamis," pikir Bitna.


"Hayooo.. kok melamun lagi? Ayo cepat makan. Sebentar lagi jam makan malam habis," kata Alva.


Crang!


"Alva, sendok aku jatuh, nih," kata Flo cari perhatian.


"Ya ambil dong yang baru. Kamu kan punya kaki bisa jalan," jawab Alva sambil mengunyah sosis.


"Uh, gak adil banget. Giliran cewek cantik aja di bantuin," gerutu Flora.


"Pfffttt... Capernya gagal ya, Flo," tawa Tika dan Devi.


...🍎🍎🍎...


"Eonnie, sudah dengar kabar belum? Katanya anak dari Aktris senior Kim Dayoung meninggal bunuh diri. Kakak kenal, nggak?" tanya Yumna.


Jedug!


"Adawww! Kak Julia apaan, sih? Maen tonjok aja," seru Yumna.


"Malam-malam tuh belajar. Jangan menggosip. Lagian kalian dengar berita itu di mana, sih? Ada yang pegang HP, ya?" ujar Julia.


"Emm... Nggak tahu juga, sih," kata Bitna gugup. "Apa dia beneran meninggal?"


"Kakak nggak tahu, ya? Padahal seragamnya mirip sekolah kakak," gumam Bitna.


"Loh, katanya tadi cuma dengar dari anak kelas tiga? Kok tahu kalau seragamnya mirip?" tanya Tika.


"Eh, itu... Tadi ada lihat sebentar sih di HPnya kakak kantin," kata Yumna mengaku.


"Tapi persis banget loh seragamnya," lanjut gadis Korean Lovers itu.


"Seragam di Korea kan emang mirip-mirip. Dan tingkat bunuh di sana juga cukup tinggi. Miris, ya," kata Bitna sambil mengepalkan kedua tanganya.


"Udah, ah. Ngapain kita ngurusin orang bunuh diri. Serem tahu. Mending belajar aja," ajak Julia.


Beberapa saat kemudian di kamar Tika.


"Bitna, maaf kalau aku menanyakan hal ini. Tapi kamu emang berkaitan dengan berita tadi, kan?" tanya Tika.


Bitna meletakkan pulpen yang sedang di pegangnya. Punggungnya bersandar di tepi tempat tidur.


"Intuisimu cukup tajam ya, Tika," ujar Bitna.


"Hah, jadi beneran kamu kenal sama korban?" Julia terperanjat mendengarnya. Gadis yang menumpang belajar di kamar Tika dan Bitna itu melipat kedua kakinya. Bulu kuduknya terasa berdiri.


"Ya, aku mengenalnya. Bahkan kami satu kelas," kata Bitna. Matanya memandang kosong ke depan.


"Tapi dari mana kamu bisa menebaknya?" tanya Bitna pada Tika.


"Aku melihatnya dari wajahmu. Sejak kamu mendengar kabar itu, sepertinya kamu tak terlihat tenang," kata Tika.


"Gimana hubungan kalian? Apa dia teman dekatmu?" tanya Julia.


"Dia musuhku. Aku adalah korban bullynya. Salah satu alasanku untuk pindah sekolah ke Indonesia adalah dia. Karena aku ingin menikmati hidup tenang tanpa gangguan."


Rahang Bitna mengeras. Giginya bergemeretak. Julia dan Tika bisa merasakan emosi yang terpancar dari sorot mata Bitna.


"Bitna, mudah-mudahan kau aman di sini. Kami akan selalu melindungimu," kata Tika disertai anggukan kepala Julia.


Tok! Tok! Tok!


Pintu asrama mereka kembali di ketuk.


"Siapa?" seru Julia. "Ini sudah jam sembilan malam. Apa mungkin guru pengawas lagi patroli?" pikirnya.


Tok! Tok! Tok!


Terdengar kembali suara ketukan pintu. Akhirnya Julia pun membukanya.


"Hai..."


"Kamu lagi? Ngapain di sini? Mau cari masalah lagi?" Tika mengomeli cowok yang tengah berdiri di depan pintu. Ia hanya menggunakan celana pendek dan kaus oblong.


(Bersambung)