
"Alva, kenapa seragammu kotor?" tanya Ipung.
"Eh, masa?" ujar Alva. Ia baru teringat, tadi terjatuh bersama Seo Bitna.
"Emang Lu dari mana aja, sih? Jam makan siang tadi juga ngilang," kata Zay pula.
"Ada urusan," jawab Alva singkat.
"Nyolong mangga belakang kantor Pak Bot- ehem- maksudnyw Pak Hamid, ya?" tuduh Ipung.
"Sembarangan aja, kalian," bantah Alva.
"Loh, Alva waktu makan siang tadi juga nggak ada? Kok samaan kayak Bitna? Tadi rok Bitna juga kotor, kan?" pikir Tika yang menguping obrolan anak-anak cowok
Grek!
Tiba-tiba Seo Bitna datang dan menarik kursinya, lalu duduk. Wajahnya menghadap ke lantai. Bibirnya yang berwarna merah muda, terlihat saling merapat.
"Ada apa?" bisik Tika yang duduk di tempat Flora.
"Flora ke mana? Kok kamu yang duduk di sini?" ucap Bitna tanpa mengindahkan pertanyaan dari Tika.
"Ke koperasi sebentar beli pena. Kita siang ini ada tugas kelompok," jawab Tika. "Btw kamu kenapa? Ada kabar tentang Ayahmu?" tanya Tika lagi.
"Ah, nanti aku ceritakan di kamar," balas Bitna. Wajahnya sangat mendung, sampai-sampai air matanya tak terbendung lagi.
Tika tidak bertanya lagi. Ia melanjutkan aktivitasnya mengerjakan soal latihan fisika.
Malam hari di asrama mawar...
"Jadi sebenarnya ada apa?" tanya Tika ketika mereka selesai belajar.
"Pemerintah Korea sudah melihat nilaiku yang hancur. Jadi mereka memberiku surat teguran," kata Seo Bitna.
"Apa isi surat tegurannya?"
"Aku harus kembali ke Korea sebelum masa pertukaran pelajar selesai, dan membayar semua biaya yang sudah mereka keluarkan," ucap Bitna.
"Hah? Membayar semuanya? Apa mereka sudah gila? Berapa puluh juta yang harus dibayar?" omel Tika.
"Mungkin itu memang sudah pantas aku terima, karena telah menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku tidak belajar dengan baik, dan hanya menghamburkan uang pemerintah," jawab Bitna.
"Bitna, aku tahu sebenarnya kamu siswa yang rajin dan cerdas. Untuk bisa sampai ke Indonesia, kamu pasti harus melalui banyak tes yang sulit. Lalu kenapa bisa begini? Apa karena ayahmu?" Tika berbicara panjang lebar.
"Iya. Itu faktor utamanya. Aku seperti kehilanagn arah karena kedua orang tuaku pergi tanpa berpamitan," ucap Bitna.
"Bitna, lihat aku," kata Tika tegas. "Kamu tahu, kan? Aku punya julukan apa? Hantu belajar. Setiap saat aku selalu belajar untuk mengejar studiku. Semuanya demi ayahku."
"Aku dan kamu berbeda, Tika. Kamu masih mempunyai ibu dan seorang adik. Sedangkan aku? Sebatang kara."
Seo Bitna dan Atika mulai berdebat. Suara mereka terdengar hingga keluar dari kamar.
"Sebatang kara? Lalu paman dan bibimu kau anggap apa? Walau hanya sebentar, tetapi mereka pernah merawatmu, kan?" ucap Tika.
Bitna membungkam bibirnya rapat-rapat. Ia tidak pernah melihat rekan sekamarnya, marah seperti ini.
"Aku tahu rasanya kehilangan. Hampa!" kata Tika dengan suara tinggi. "Tapi jangan kecewakan mereka yang telah merawat dan menyayangimu sejak kecil. Kau percaya, kan, kalau ayah dan ibu melihatmu dari kejauhan?" lanjut Tika lagi.
Seo Bitna menarik napas panjang. Gadis itu tidak memiliki kata-kata yang pas, untuk membantah kalimat Tika. Beberapa detik kemudian, hanya suara denting jarum jam yang terdengar. Tika dan Bitna sama-sama bungkam.
"Hh... Maaf kalau aku sudah membentakmu tadi," kata Tika beberapa saat kemudian.
"Aku juga minta maaf," ujar Bitna.
"Lalu bagaimana selanjutnya? Apa kau bakalan pulang ke Korea?"
"Sebenarnya sekolah ini membelaku. Mereka memberiku kesempatan untuk memperbaiki nilai, sampai ujian semester," kata Bitna.
"Serius?" Kedua bola mata Tika terlihat bersinar.
"Iya. Tetapi sebagai hukumannya, aku wajib mengikuti kelas tambahan," kata Bitna. "
Aku juga wajib mengikuti kelas Bahasa Indonesia sama anak-anak dari Belanda dan Belgia, untuk memperbaiki kemampuan bahasaku," lanjut Bitna.
"Tadinya aku nggak bersemangat. Tetapi setelah mendengar omelanmu, aku jadi sadar di mana letak kesalahanku," jawab Bitna.
"Nah, gitu dong. Itu baru namanya temanku," ucap Tika merangkul sahabatnya. "Ada gunanya juga aku marah-marah, ya," lanjutnya.
"Hei, aku tadi takut sekali, tahu." Bitna pura-pura mengambek.
Tok! Tok! Tok!
"Tika, Bitna, sudah kelar berantemnya?" panggil Julia dari luar.
Ceklek! Bitna membuka pintu kamar, " Siapa yang berantem?" ujarnya.
"Kami semua bisa mendengar suara kalian, lho," kata Julia.
"Kak, ayo keluar. Ada yang spesial, nih," seru Afie, Citra dan Yuni yang tiba-tiba nongol di belakang Julia.
"Wah, Endomeh dan mi enak," seru Tika kegirangan. "Kalian dapat dari mana?"
"Biasa... Subsidi dari Mbak Sheza. Tapi hati-hati, ketahuan Pak Jamal," jawab Julia.
"Loh, emang kenapa? Kan cuma makan mi instan doang?" celetuk Bitna.
"Nah, iya kan? Masa makan mi doang dilarang?" ucap Julia. "Tapi itu peraturan baru dari Pak Hamid sejak awal tahun kemarin. Dia melarang para siswa memakan banyak micin, terutama mi instan."
"Ya ampun, rugi banget. Padahal kan rasanya enak banget," kata Bitna.
"Loh, kamu udah pernah makan mi?" tanya Tika dan Julia kebingungan. Di Kantin dan koperasi sekolah kan nggak ada jual mi instan?
"Udah, baru aja tadi siang. Sama Al..." Bitna menghentikan kalimatnya di tengah-tengah. Ia baru menyadari kalau baru aja ngomong keceplosan.
"Sama Alva? Pantesan kalian berdua hilang waktu makan siang? Seragam kalian juga sama-sama kotor, kan?" sergah Tika.
"Cieee... Yang pergi kencan..." ledek Citra.
"Tapi kok baju kalian kotor? Main di semak-semak, ya?" kata Julia pula.
"Ehem. Btw nggak jadi masak mi, nih?" kata Bitna
"Nggak usah mengalihkan cerita. Jawab dulu pertanyaan kami," desak mereka semua.
...🍎🍎🍎...
"Hyeong, ada telepon dari Bu Aram." Seon Wooil melambaikan smartphone milik kakaknya.
"Lim Chan, kau masih berhubungan dengan wanita penipu itu?" tanya Tuan Seon dengan nada agak tinggi.
"Hehehe.. itu..."
"Ayah nggak suka melihat wanita itu," ucap Tuan Seon tegas.
"Tenang aja, Yah. Aku nggak akan membuat masalah, kok," ucap Seon Lim Chan. Pemuda itu lalu ngeloyor pergi menemui mantan kekasihnya.
"Chan, hubungan kita beneran berakhir seperti ini?" Bu Aram berusaha memeluk mantan kekasihnya, namun ditepis oleh pria itu.
"Memangnya kau mengharapkan apa? Pernikahan impian bak putri dongeng? Kau kan sudah menikah?" balas Lim Chan.
"Tapi aku nggak cocok dengan suamiku. Dia..."
"Kalau begitu, kenapa dulu kau menikah dengannya?" Lim Chan memotong ucapan Bu Aram dengan sangat ketus. "Anggap saja perpisahan kita saat ini, juga karena kita tak saling cocok," kata Lim Chan.
"Bukankah dulu kau mengatakan, tak akan mau berpisah denganku? Kenapa kau sekarang jadi begini?" desak Bu Aram.
"Itu sebelum aku tahu, kalau kau berbohong dan memiliki suami. Aku membawamu ke sini, untuk mengakhiri semuanya dengan jelas, tanpa bersisa."
"Aku sudah bercerai dengannya!" terika Bu Aram histeris. Deru ombak yang menggulung di pantai, tak sanggup meredam suaranya yang lantang.
"Aku tidak peduli. Kau telah berbohong, dan itu menghancurkan kepercayaanku dalam sekejab," balas Lim Chan
"Tapi kita sudah beberapa kali tidur bersama? Dan sekarang, aku hamil sepuluh minggu. Kau mau menelantarkan anak ini dan kulaporkan pada ayahmu?" ucap Bu Aram kemudian.
(Bersambung)