Metamorphosis

Metamorphosis
S.2 Bab 36 - Tinggal Lebih Lama



"Gimana rasanya?" tanya Alva setelah mereka keluar dari warung sederhana tersebut.


"Enak. Luar biasa. Ternyata mi instan buatan Indonesia memiliki cita rasanya sendiri," jawab Bitna.


"Berarti cocok dong, ya, dengan lidahmu?"


"Cocok banget. Aku suka sama rasa kuahnya. Kenyal mi nya juga kenyal. Pantas saja Kak Ningsih rela membeli mi instan buatan Indonesia dengan harga mahal di Korea?" sahut Bitna.


Alva menghentikan langkahnya, "Kak Ningsih siapa?" tanya pemuda itu.


"Oh, dia itu guru privatku sebelum aku berangkat ke Indonesia," kata Seo Bitna.


"Oh, gitu. Tapi kenapa kamu menghindari pandanganku dari tadi?" tanya Alva. Pandangannya tepat tertuju pada wajah gadis remaja di hadapannya.


"Aku biasa aja, kok. Ini karena mataharinya terlalu silau," sahut Bitna buru-buru menutup wajahnya dari sinar matahari yang membahana.


"Hah..." Alva tertawa. "Kau jadi canggung karena ucapanku tadi, kan?" Alva mendekatkan tubuhnya kepada Bitna. Hidung mancung kedua remaja tersebut, hampir saja bersentuhan.


"O-obrolan tentang apa?" ucap Bitna pura-pura tak ingat. Kelopak matanya mengerjap beberapa kali, tanda ia berbohong.


"Jangan begitu. Kalau kau suka, ayo kita pacaran. Tapi kalau kau ragu, bersikaplah seperti biasanya. Aku tak akan mempermasalahkan hal itu," kata Alva di telinga Bitna.


Remaja kerwarganegaraan Korea Selatan itu mengangkat kepalanya. Ia berusaha memandang wajah pria tampan di hadapannya. Tapi belum sampai satu detik, ia langsung mengalihkan pandangannya lagi.


Saking rapatnya posisi mereka, bibir lembut Bitna hampir saja menyentuh kult Alva yang lembut dan wangi. Garis wajah yang sempurna, alis yang tercetak dengan indah, membuat Seo Bitna tidak sanggup menatapnya lebih lama lagi.


"Bitna, aku tahu. Kamu saat ini nggak berada di posisi untuk memikirkan soal pacaran. Ayahmu adalah segala-galanya. Jadi jangan khawatirkan ucapanku tadi," ujar Alva dengan lembut.


Remaja cowok itu mengusap rambut Bitna yang lembut, sebelum ia kembali menjauhkan tubuhnya dari gadis itu.


"Maafkan aku," bisik Bitna.


"Nggak apa-apa. Aku mengerti. Ayo kita kembali ke sekolah." Alva menghentikan sebuah angkot.


"Hei, hutang kita pada petugas keamanan itu gimana?" tanya Seo Bitna.


"Itu cuma candaan. Petugas keamanan itu tidak bisa disogok, walau pun dengan uang sekali pun," jawab Alva.


Ngggoeeeng....!!!


Tiba-tiba sebuah sepeda motor melaju kencang dari arah berlawanan.


"Awasss!!!" Teriak seluruh orang di dalam angkot tersebut.


Dengan cekatan, Alva menarik tangan Bitna yang hendak naik angkot ke belakang. Namun naas, sepeda motor itu melaju begitu kencang.


Bruk!!!


Bitna selamat dari tabrakan sepeda motor tersebut. Tapi...


"Bitna, kau nggak apa-apa? Ada yang terluka?" ucap Alva yang berada di bawah tubuh Bitna.


...🍎🍎🍎...


"Seo Bitna, kamu tadi dicari Bu Elya," kata Tika.


"Oh, ya ampun. Aku lupa kalau HP Bu Guru masih denganku," kata Bitna.


"Emang kamu tadi ke mana? Jam makan siang sudah habis dari tadi, lho," tanya Tika penasaran.


"A-aku..." Bitna menghentikan kalimatnya. Ia tak mungkin bicara jujur, kan? Kalau tadi ia pergi berdua dengan sang ketua kelas?


"Permisi, Bu. Maaf saya terlambat mengembalikan ini," kata Bitna.


"Nggak apa-apa. Kemarilah, Nak. Ada yang ingin ibu bicarakan," kata Bu Elya.


Mereka berbicara cukup lama. Air mata Bitna bercucuran.


"Sabar ya, Nak. Semua masalah pasti akan ada jalan keluarnya. Kau boleh mengadu pada Ibu kapan saja," ucap Bu Elya mengakhiri obrolan mereka.


Bitna berjalan sempoyongan menuju ke kelas, "Gimana caranya aku mengatakan pada guru-guruku di Korea? Aku nggak menyangka, kalau hancurnya nilai-nilaiku di sini hampir membuatku di DO?" pikir Bitna.


...🍎🍎🍎...


"Lim Chan, kau yakin akan tinggal Indonesia setelah wisuda?" tanya Tuan Seon pada putra pertamanya.


"Iya, Ayah. Aku sudah membuat rencana selama enam bulan ke depan," ucap Seon Lim Chan.


"Nak, kau tak perlu bertanggung jawab atas apa yang telah Ayah buat," ucap Tuan Seon dengan mimik wajah sedih.


"Kau telah banyak membantu dengan penemuan para korban tersebut. Meski sangat terlambat, tetapi itu semua sangat berharga bagi para keluarga korban," lanjut Tuan Seon.


"Kau berhak melakukan apa yang kau cita-citakan selama ini, Nak," lanjut pria paruh baya tersebut.


"Ayah salah. Aku ke Indonesia bukan cuma untuk menyelesaikan masalah itu. Tetapi aku sudah terlanjur jatuh hati dengan tempat itu. Begitu indah dan tenang."


Lim Chan menutup matanya. Kemolekan negeri kepulauan di gugusan Indonesia Timur itu kembali terkenang di kepalanya. Sungguh tempat yang tepat untuk melakukan self healing.


Selama ini hidupnya begitu penat. Ia terlalu sibuk mengejar akademis, bersenang-senang di negara yang terkenal dengan hiburan malam, hingga ia tidak menyadari, bahwa dirinya juga butuh istirahat.


"Kalau memang begitu, ayah serahkan keputusan pada dirimu. Tapi ingat, kau bisa kembali kapan saja jika bosan," sahut Tuan Seon.


"Hyeong, ada telepon dari Bu Aram." Seon Wooil melambaikan smartphone milik kakaknya.


"Lim Chan, kau masih berhubungan dengan wanita penipu itu?" tanya Tuan Seon dengan nada agak tinggi.


"Hehehe.. itu..."


( Bersambung)