Metamorphosis

Metamorphosis
S.2 Bab 2 - Gagal



Tak! Tak! Tak! Tak!


Bitna menggoyangkan kakinya ke kursi yang ia duduki. Hatinya gelisah.


"Tenang, Bitna. Ini pasti cuma kesalahan teknis saja. Nggak mungkin pemerintah mengeluarkan paspor palsu, untuk perwakilan negara ke luar negeri."


Nyonya Park Yujeong, pendamping kontingen pertukaran pelajar Korea Selatan ke Indonesia, dengan sabar menenangkan Bitna.


"Gara-gara aku semuanya jadi susah. Mesti nunggu berjam-jam di sini," kata Bitna. Air mata gadis mungil itu meleleh, membasahi pipinya yang tirus.


"Sini, ku peluk."


Nyonya Yujeong memeluk Bitna dengan erat. Wanita tiga puluh tahunan itu sangat cocok menjadi pendamping, dengan sifat keibuannya.


"Kamu tuh cuma risau sendiri aja. Tuh lihat teman-teman kamu happy aja menunggu di sini," kata Nyonya Yujeong sambil mengusap rambut Bitna yang halus.


Bitna merasa sangat tenang dalam pelukan wannita itu. Dia seperti menemukan kembali kehangatan seorang ibu.


Tapi Bitna menyalahkan kecerobohannya sendiri, yang tidak teliti sebelum berangkat.


Kenapa hal ini sampai terjadi?


Sementara itu di waktu yang sama dan tempat yang berbeda. Seorang pria sedang memegang sebuah buku kecil sambil tertawa sinis.


“Terlalu mudah menipumu, gadis lugu. Kau nggak akan bisa ke mana-mana tanpa benda ini.”


Jun Hyeon melemparkan buku berlambang Korea Selatan itu ke sembarang tempat. Pikirannya kembali ke beberapa hari yang lalu.


Jun Hyeon membutuhkan waktu berjam-jam, demi menunggu Seo Bitna berpisah dengan wanita bernama Ningsih itu. Hari itu Jun Hyeon melihat, Bitna baru saja menyelesaikan berkas-berkasnya untuk ke luar negeri. Di saat ia mulai kehilangan kesabaran, Bitna dan Ningsih pun berpisah di halte.


Dengan memanfaatkan keluguan gadis belia itu, Jun Hyeon mampu membuatnya lengah. Remaja cantik yang berdebar dengan pemuda tampan yang sedang menggodanya, dimanfaatkan oleh Jun Hyeon untuk mengambil sesuatu paling penting milik perempuan itu.


Dalam waktu kurang dari dua detik, lengan Jun Hyeon yang melingkar di pinggang Bitna, berhasil mencuri paspor yang terletak di dalam tas.


“Pesawat mereka sudah tertunda selama satu setengah jam. Jika masih tertunda satu jam lagi, maka semuanya akan batal berangkat hari ini, dan Bitna kembali dikucilkan,” gumam Jun Hyeon.


“Tetaplah jadi orang lugu seperti itu, Bitna. Agar aku bisa dengan mudah menghancurkanmu,” kata Jun Hyeon sambil tertawa puas.


...🍎🍎🍎...


Sudah hampir dua jam Bitna dan teman-temannya tertahan di bandara. Bitna mulai gelisah melihat petugas bandara berdebat dengan panitia pengurus pertukaran pelajar ke Indonesia. Salah seorang guru dari SMA Seodemu-Gu juga turut datang membantu.


“Gimana kalau masalah ini gak selesai? Apa pasporku memang palsu? Siapa yang berani melakukan hal ini?” tangis Bitna.


“Kalau pasporku memang palsu, apakah artinya aku harus pulang ke rumah dan kembali sekolah di sana?” gumam gadis malang itu.


Beberapa orang peserta pertukaran pelajar itu mulai marah dan menyalakannya. Bitna tak bisa membalas, karena memang ia salah.


“Di negara orang, kita ini saudara. Tapi kalian belum berangkat saja sudah ribut,” tegur Nyonya Yujeong.


“Gimana kami nggak kesal, Bu. Kita hampir batal berangkat gara-gara kelalaian dia,” kata seorang siswi dari SMA Saebum.


“Dia memakai jalur apa sih, kok bisa paspornya palsu? Jangan-jangan hasil ujiannya juga palsu,” kata siswa dari sekolah kusus pria.


“Aku nggak seperti itu! Ini pasri cuma kesalahpahaman saja,” bantah Bitna.


“Bitna!”


Seorang pemuda berkaos putih, berlari menerobos petugas keamanan. Napasnya terengah-engah, terlihat bahwa ia berlari melintasi luasnya bandar udara internasional tersebut.


“Wooil?”


“Wooil?”


“Ini… Hahhh… Paspormu dan visamu. Hhhh… Haah…”


Seon Wooil memberikan beberapa benda dengan lambing resmi Korea Selatan kepada Bitna. Baju kaosnya yang putih polos tampak basah kuyup oleh keringat.


“Bagaimana kau…”


“Kau itu ke mana saja, sih? Kenapa ceroboh banget, sampai nggak tahu kalau paspormu ditukar orang lain?” marah Wooil memotong ucapan Bitna.


“Maaf.”


“Harusnya kau sudah angkat kaki dari Korea. Apa aku harus menemanimu dua puluh empat jam selama satu minggu, supaya kau baik-baik saja? Dasar menyusahkan!”


“Maafkan aku. Dan terima kasih, Wooil,” kata Bitna menangis terharu.


“Nak, dari mana kau mendapatkannya? Pihak sekolah saja masih belum menemukan akar masalahnya,” kata guru dari SMA Seodaemu-Gu yang tadi datang membantu.


“Aku membuat surat hilang ke polisi, lalu dengan cepat meminta gantinya ke kantor imigrasi,” ujar Wooil dengan napas masih belum teratur.


“Terima kasih, Nak,” Nyonya Yujeong.


“Kau siapa, sih? Pacarnya, ya? Kenapa nggak datang dari tadi? Kami semua terlantar gara-gara dia,” ujar siswi dari SMA Saebum itu dengan sangat angkuh.


“Aku Seon Wooil, kakaknya Bitna. Kau Han Nara dari SMA Saebum, kan?” kata Wooil dengan tatapan mengintimidasi.


“Seon Wooil? D-dia putra bungsu Tuan Seon penasehat tinggi walikota Seoul, kan?”


“Kalau dia anak Tuan Seon, lalu Bitna? Apa saudara tirinya?”


Para siswa saling berbisik.


“Ka-kak?” gumam Bitna heran.


Ucapan Wooil itu ampuh membuat Bitna berhenti menangis. Malah ia hampir saja tertawa.


“Ini, paspornya sudah di scan dan terbukti asli. Kalau begitu kita bisa berangkat tanpa ada halangan lagi,” kata panitia pertukaran pelajar itu.


“Syukurlah,” kata Nyonya Yujeong.


“Ka-kak, aku pergi dulu,” kata Bitna canggung.


“Cepatlah pergi jauh-jauh dari Korea dan jangan mengangguku lagi,” ujar Wooil ketus.


Semua mata memandang mereka berdua dengan tatapan aneh. Siapa pun yang berada di sana, pasti menyadari ada yang janggal dari kedua kakak beradik ini.


“Ma-maksudku, belajarlah baik-baik di Indonesia. Kau harus jadi anak pintar dan jangan menggangguku lagi. Jangan menginjakkan kaki di Korea, sebelum kai berhasil,” kata Wooil.


“Pffftt… Terima kasih, Wo- kakak,” kata Bitna tk sanggup menahan tawanya.


Yah, lagi-lagi usaha Park Jun Hyeon untuk menjatuhkan Bitna pun gagal. Entah apa penyebabnya, yang jelas pemuda itu tidak pernah senang dan selalu dendam pada prestasi Bitna.


(Bersambung)