Metamorphosis

Metamorphosis
S.2 Bab 17 - Apa yang Sudah Diberikannya?



Pelabuhan Insale, County Cork, Irlandia


Seorang pemuda usia dua puluh lima tahunan sedang duduk di sebuah guest house sederhana. Matanya yang bitu menatap panorama kota nelayan bersejarah di tepian Sungai Bandon yang indah.


Jalan-jalan kota yang relatif sempit merupakan ciri khas salah satu kota tua terindah di Eropa ini. Toko-toko yang menawan, beragam galeri seni dan pub menyediakan hiburan yang sederhana bak oasis yang tenang, bagi para warga kota kecil itu.


Srup!


Pria itu menyeruput teh camomile yang disajikan dengan sesendok madu. Bola matanya berpindah, dari kapal-kapal para nelayan yang baru pulang melaut, ke layar smartphone yang sedang ia genggam.


"Sayang? Kamu melamun lagi?"


Seorang wanita berwajah Asia mengecup pipi pria itu. Tangannya meletakkan soda bread. Makanan khas Irlandia, resep turun temurun selama ratusan tahun.


Aroma tepung gandum yang khas, bercampur dengan minuman soda yang manis, serta sedikit buttermilk, menciptakan paduan aroma dan rasa yang memanjakan lidah dan indra penciuman.


"Sayang?" ucap wanita itu. Suaranya terdengar menggelitik di telinga sang kekasih.


"Ah... Maaf. Aku sedang memikirkan hal lain," ujar pria itu. "Hmm.. Aromanya wangi. Apakah ini sarapan pagi kita kali ini?" tanyanya sambil mengecup pipi sang kekasih.


"Iya... Aku juga bikin satu menu spesial lagi untuk sarapan kita. Tapi kamu mikirin siapa, sih? Bocah SMA yang kita jumpai di kafe sore itu, ya?" kata wanita itu dengan manja.


"Kenapa? Kamu cemburu? Padahal aku sudah tinggalkan dia demi kamu," kata Song Gae Nam sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Iya. Aku cemburu. Sudah jauh begini tapi kamu masih juga memikirkan dia."


"Kamu masak apa, sih, di belakang? Bau harumnya tercium sampai sini," kata Song Gae Nam lagi.


"Kamu pintar banget sih mengalihkan cerita?" kata wanita itu, lalu melangkahkan kakinya ke dapur.


Selang satu menit kemudian, wanita berkulit putih kemerahan itu pun kembali. Kedua tangannya mengangkat sebuah panci yang masih mengepul panas.


Song Gae Nam mampu mencium aroma daging yang mampu membuat air liur mengalir deras.


"Wow, Irish Stew," seru mantan guru matematika itu.


Irish stew adalah hidangan paling populer di Irlandia selama musim dingin. Menggunakan daging domba dan kentang sebagai bahan utama, menu ini sudah ada selama berabad-abad.


Herbal yang digunakan seperti thyme, rosemary dan dibumbui dengan bawang, membuat tubuh hangat ketika mengkonsumsinya di musim dingin.


Tetapi belakangan ini, Irish Stew juga populer sebagai menu sarapan bagi para pelancong ke luar negeri.


"Pacarku emang paling jago kalau soal masak. Bisa-bisa berat badanku naik lagi." Song Gae Nam merangkul sang kekasih, lalu mendaratkan wajahnya ke bagian paling kenyal dari wanita itu.


"Aku nggak tergoda dengan rayuan gombalmu Pak Guru Song. Ragamu ada di sini, tapi pikiranmu melayang entah ke mana. Apa murid perempuan itu masih lebih cantik dari pada aku?" rajuk wanita asal Korea itu.


"Kamu mau mendengar berita hebat hari ini?" tanya Song Gae Nam. Jemarinya yang lentik berselancar di atas layar smartphonenya. "Nih, coba baca," ujarnya kemudian.


"Hah? Jadi dia udah mati?" seru wanita itu.


"Aku pikir juga begitu. Aku hampir saja bersorak senang," kata Song Gae Nam. "Tapi sayangnya berita yang sudah terlanjur beredar luas itu salah. Gadis itu masih hidup. Tapi disembunyikan oleh orang tuanya."


"Terus? Jadi ini yang kamu bilang berita hebat hari ini? Kamu senang dia masih hidup? Lalu upacara pemakanan itu rekayasa?"


"Memangnya apa yang sudah dia berikan padamu? Kenapa dia begitu depresi?" tanya wanita itu curiga.


"Sebagian kecil saham miliknya, kedudukan, popularitas dan juga... " Song Gae Nam menghentikan kalimatnya di tengah-tengah. Membuat kekasihnya hampir mati penasaran.


"Apa?" desak wanita itu.


Song Gae Nam hanya tersenyum sambil memainkan bagian kenyal wanita itu dengan tangan kanannya.


"Dia memberikan seluruh hidupnya untukmu? Apa kau yang pertama kali membuka segelnya?" selidik wanita itu lagi.


"Nggak, sayangku. Aku tidak bermain dengan anak kecil di bawah umur," kata pria tampan itu.


"Terus apa, dong? Jangan buat aku mati penasaran...!" desak kekasih Song Gae Nam.


"Beasiswa kita berdua dan rumah yang kita tinggali di Inggris. Itu semua adalah pemberiannya," jawab Song Gae Nam.


"Oo.. Jadi itu alasannya kau menjual rumah itu?"


Song Gae Nam mengangguk, "Dasar cewek bodoh. Demi nilai dan popularitas ia sampai mengorbankan sebanyak itu, hanya demi seorang pria," ujarnya.


"Kalau dia tiba-tiba datang lagi gimana? Katamu, dia kan belum mati?"


"Ya tinggal diurus lagi aja. Aku nggak mau sama cewek bodoh kayak dia," kata Song Gae Nam sambil mengecup pipi dan kening wanita, yang kini mengambil progam S2 Jurusan Sastra Inggris Itu.


"Yuk, makan. Dari tadi kamu mengajak ngobrol terus, sampai makanan yang kamu masak ini jadi dingin," ujar Pak Guru Song.


...🍎🍎🍎...


Seon Wooil melangkahkan kakinya di bawah pepohonan yang rindang. Beberapa kali ia di klakson oleh kendaraan yang sedang melintas. Pikirannya tidak berada di tempat, membuat tingkat kewaspadaannya jauh menurun.


"Ku pikir setelah Bitna pergi, semua masalah akan selesai. Ternyata justru semakin bertambah. Sekolah itu bagai menerima kutukan karena telah membuangnya," gumam pemuda itu.


Memang, kejadian tak terduga datang bertubi-tubi pada sekolah favorit di Kota Seoul itu. Setelah kedua tenaga pengajar di sana terkena skandal perselingkuhan, kasus bunuh diri putri dari artis terkenal menjadi puncaknya.


Dinas pendidikan setempat pun melakukan investigasi menyeluruh. Beberapa kasus KKN pun mulai terungkap.


*Korupsi Kolusi Nepotisme.


Sepatunya menendang kerikil-kerikil yang bertebaran di jalan. Ia berharap semua masalah yang bertebaran bagai kerikil itu juga bisa dilempat sejauh mungkin.


"Padahal aku sudah menjadi nomor satu diantara seluruh siswa kelas satu. Tapi kenapa hatiku masih tidak puas, ya? Aku malah merasa keberadaan Bitna membuatku lebih terpacu meski hanya peringkat kedua," ujar pria itu pada dirinya sendiri.


Beberapa kali bola matanya memangdang ke arah HP miliknya. Dia mengecek pesan singkat yang ia kirim beberapa hari yang lalu. Ia mendapatkan nomornya dari Go Eunjo. Sayangnya masih belum ada jawaban.


"Haaahh.. Ke mana sih, anak itu? Apa benar ia sudah sampai di Indonesia dengan baik? Sudah lama aku tidak memarahinya. Aku harus memastikan dia tidak lagi berada di Korea dan mengganggu ayahku," ujar Seon Wooil.


Wooil memperlambat langkahnya. Pemuda tampan itu telah sampai di depan rumah.


"Tumben Ayah sudah pulang. Tapi siapa yang sedang berbincang dengannya?"


(Bersambung)