Metamorphosis

Metamorphosis
S.2 Bab 44 - Sebelum Badai



"Apa? Kapten Seo Il Sang ditemukan hidup?" seru Tuan Kim sambil melemparkan gelasnya ke lantai.


"Benar, Tuan."


"Bagaimana bisa? Bukankah semua awak kapal telah tewas? Tulang belulang yang diangkat kemarin, bukankah sudah lengkap semua anggota?" tanya Tuan Kim dengan mata menyala.


"Tidak, Tuan. Kabarnya, ada empat orang awak kapal lagi yang tidak sesuai dengan DNA tulang-tulang yang ditemukan tersebut."


"Lalu, putra sulung Tuan Seon yang masih berada di Indonesia, tanpa sengaja bertemu dengan kapten Seo Il Sang."


"Sialan! Mana mungkin bertemu tanpa sengaja? Itu pasti permainan mereka untuk menjatuhkanku."


Tuan Kim berulang kali menggerutu. Para anak buahnya hanya bisa tertunduk diam, agar tidak kena semprot.


"Bisa berbahaya kalau sempat pria itu membuka semua kedok kita. Cepat cari dan bunuh dia," perintah Tuan Kim.


"Baik, Tuan."


Lima tahun yang lalu, sebelum badai...


"Kenapa semua barangku dikembalikan lagi ke dermaga?" marah Tuan Kim pada awak kapal Seowol 13 yang hendak berlayar.


"Ini perintah kapten, Tuan."


"Brengsek! Cepat kalian masukkan lagi semua barang itu!" perintah Tuan Kim.


"Tidak bisa, Tuan. Kami harus mematuhi kapten."


"Berapa uang yang kalian perlu? Aku bisa memberikannya. Cepat lakukan!" kata Tuan Kim.


"Anda tidak bisa memerintah kami, Tuan. Semua barang yang naik dan turun harus diketahui kapten." Para awak kapal tersebut tetap menolak permintaan Tuan Kim.


"Kalian anak baru semua, ya? Aku sudah lama di industri ini! Dan semua barang-barang itu harus dibawa sekarang," seru Tuan Kim di tepi dermaga.


"Kau tidak bisa memarahi dan memerintah anak buahku seperti itu, Tuan Kim." Sang Kapten kapal tiba-tiba muncul dari belakang.


"Jangan sok arogan, Brengsek. Jabatanku berada di atasmu. Kau hanya pesuruh. Jangan belagu! cepat kembalikan barang daganganku ke atas kapal."


"Tuan Kim, jabatanmu memang lebih tinggi. Tetapi di atas kapal, aku lah pemimpinnya. Dan kami tidak bisa membawa barang ilegal untuk diselundupkan," jelas Seo Il Sang.


"Kenapa kau kaku begitu. Ilegal di negara kita, belum tentu ilegal juga di negara lain. Negara-negara di Asia Tenggara membutuhkan barang-barang ini," ujar Tuan Kim sedikit melunak.


"Aku tetap menolak tindakanmu, Tuan," kata Seo Il Sang tegas.


"Duh, bajingan satu ini. Kau itu bukan siapa-siapa di sini. Aku bahkan bisa membeli rumahmu, bersama anak dan istrimu hanya dengan satu jentikan jari," Tuan Kim mengamuk.


"Dan kalian semua harus ingat kata-kataku ini. Kalau kalian tetap mengikuti kapten kapal yang kolot ini, selama kalian pergi berlayar, keluarga kalian berada di bawah cengkeraman tanganku," ancam pria arogan tersebut.


Kapten Kapal Seowol 13 tersebut, hanya menarik napas panjang menghadapi pria di hadapannya. Memang tidak mudah menghadapi pria arogan seperti itu.


"Kapten, Anda dipanggil ke kantor," seru salah seorang awak kapal.


Seo Il Sang pun meninggalkan dermaga, lalu menuju ke kantor kepala perdagangan dan pelayaran.


"Ada apa, Pak?" tanya kapten Seo Il Sang.


"Aku baru mendapat kabar, kalau wilayah Asia Tenggara, terutama Filipina Selatan dan sebelah Laut Cina Selatan akan diterpa badai. Bagaimana kalau kita undurkan saja pelayaran ini sampai badai berlalu."


"Diundur? Lalu barang-barang yang telah dijanjikan sampai pada bulan depan bagaimana?" tanya Sang Kapten.


"Nanti akan kita kabari satu per satu. Ini semua demi keamanan kalian," kata Pak Kepala.


"Tapi, Pak..." Tuan Seon menginterupsi. "Jika kita tunda lagi, musim dingin akan datang. Dan beberapa jalur jadi terhambat."


"Badai ini lebih buruk daripada yang kita kira. Lebih baik menghindari badai daripada menghindari musim dingin," sahut Pak Kepala.


"Jika melihat penyebaran badai yang akan dstabg, sepertinya sulit untuk mencari jalur lain. Karena semua wilayah ini baru dugaan. Kita tidak tahu di mana badai akan benar-benar muncul," kata Kapten Seo Il Sang.


Berdebatan tersebut berjalan lebih lama dibandingkan yang diduga. Akhirnya, keputusan yang diambil, kapal tetap berangkat melalui jalur lain.


Sementara itu Tuan Kim menggunakan kesempatan tersebut untuk memerintah para awak kapal untuk memasukkan barang-barang illegal miliknya.


"Tuan, ini sudah melebihi kapasitas. Kalau kita paksa masukkan semua, kapal kami bisa oleng," ujar salah seorang awak kapal.


"Ya dipikirkan dengan cara lain, dong. Masa barangku harus ditinggal sebagian? Turunkan sekoci kalian. Benda itu tidak akan berguna nantinya."


"Ta-tapi..."


"Kalian nggak ingat ancamanku tadi?" ujar Tuan Kim.


Para awak kapal yang berada di bawah tekanan Tuan Kim, terpaksa menurunkan beberapa buah sekoci, peralatan keselamatan dan juga satu kotak bahan baku persediaan makanan.


Mereka semua terpaksa melakukannya, karena tak ingin keluarga yang ditinggalkan, di bawah tekanan Tuan Kim.


Akhirnya, kapal pun berangkat tanpa sempat di cek lagi oleh sang kapten. Awal pelayaran mereka berlangsung dengan aman. Tetapi dua minggu kemudian, ketika sampai di perairan Filipina, apa yang dikhawatirkan pun datang.


"Kapten, badai menuju ke koordinat kita."


"Alihkan ke arah selatan. Kita melalui jalur Indonesia."


Tak berapa lama kemudian kapal mulai oleng. Gelombang air laut akibat serangan badai mulai mengombang-ambingkan kapal bermuatan penuh tersebut. Tapi kemudi kapal masih bisa terkendali.


"Kapten, badai semakin mendekat. Kapal kita sudah kecepatan penuh."


Kapal semakin terombang-ambing di atas lautan. Sementara awan hitam dan gelombang tinggi bergerak cepat menuju ke arah kapal.


"Kenapa begini, ya? Rasanya kita tidak membawa muatan berlebih?" ucap Kapten Seo Il Sang melihat kapal mereka yang bergerak lamban seperti keberatan muatan.


Para awak kapal hanya menunduk ketakutan. Tidak ada yang berani angkat bicara, tentang kelakuan Tuan Kim sesaat sebelum berangkat.


Bruak!!! Tiba-tiba lambung kapal pecah. Kapal oleng dan tidak dapat dikendalikan. Secara perlahan, air pun mulai memenuhi bagian kapal.


"Kapten!"


"Cepat pasang life jacket. Naikkan layar," perintah Kapten Seo.


Sayangnya, jaket pelampung tersebut jumlahnya tidak sesuai dengan seluruh awak kapal. Padahal seharusnya jumlahnya lebih banyak sepuluh persen dari seluruh penumpang. Kapten Seo Il Sang mulai merasakan ada yang tidak beres.


Kapal barang dari Korea Selatan tersebut semakin oleng. Sebagian besar badannya sudah masuk ke dalam air. Keadaan semakin tidak terkendali.


Semua awak kapal sudah mengurangi sebagian muatan. Namun tetap tidak dapat menolong. Angin dan gelombang yang datang jauh lebih besar menghantam kapal.


"Cepat turunkan sekoci. Tinggalkan ini semua. Kapal sudah tidak aman!" Perintah Kapten lagi.


Lagi-lagi, jumlah sekoci tersebut tidak cukup untuk menampung mereka semua.


"Apa yang terjadi? Kenapa jumlah sekocinya hanya ada enam? Ke mana sisanya?"


Dalam keadaan genting tersebut, mereka akhirnya mengaku, apa yang telah terjadi di pelabuhan. Mereka pun menyatakan, kalau kapal telah kelebihan muatan hingga puluhan ton.


Kapten Seo Il Sang terjatuh di lantai kapal. Ia benar-benar menyesal, karena tidak sempat melakukan pengecekan lagi sebelum berangkat. Tidak ada gunanya juga untuk marah pada saat ini.


Tiga hari kemudian di Korea Selatan. Kapal Seowol 13 pun resmi dinyatakan hilang, bersama puluhan awak kapalnya.


Pernyataan Tuan Seon yang memaksa pelayaran itu, disebut-sebut sebagai penyebab hilangnya kapal tersebut.


Tidak ada yang tahu, jika Tuan Kim lah penyebabnya. Jika saja sekoci dan life jacket tersebut tidak dikurangi, masih ada kesempatan untuk mereka semua selamat di wilayah kepulauan Indonesia.


(Bersambung)