
Bitna terhenyak mendengar kabar Kim Min Ji bunuh diri. Entah gimana nasibnya sekarang, Bitn masih penasaran. Tadi Eunjo buru-buru menutup teleponnya.
"Apa semua yang terjadi karena aku?" Bitna sedikit merasa bersalah, karena telah menyebarkan video Min Ji dan Pak Guru Song secara diam- diam.
"Loh, Kak Bitna udah pulang? Kok sendirian? Kak Juli dan Kak Tika ke mana?" tanya Afie yang baru saja kembali ke asrama, bersama Citra dan Yumna.
"Mereka berdua masih ada kegiatan ekstrakulikuler. Jadi aku pulang duluan," kata Bitna sambil memaksa mengukir senyum di wajahnya.
"Kak Bitna belum masuk ekskul? Mau ikut ekskul dance sama aku?" ajak Citra.
"Hah, nggak deh. Aku nggak bisa dance. Mungkin mau lihat-lihat ekstrakulikuler yang menyenangkan dulu," kata Bitna.
"Ah, btw aku masih penasaran. Ada apa sih dengan Tika? Kok kalian semua bilang serem sekamar sama dia?" tanya Bitna pada adik-adik kelasnya itu.
"Aah... Bukan cuma serem. Tapi horor banget," kata Citra dengan ekspresi wajah meyakinkan.
"Horor gimana? Kayaknya tadi malam biasa aja?" kata Bitna menggunakan Bahasa Indonesia bercampur Bahasa Inggris. Untung saja mereka mengerti.
"Kak Tika itu gila belajar. Sehari-hari kerjanya belajaaarrrr mulu. Dia juga orangnya rapi banget dan tepat waktu," jelas Citra.
"Oh, ya bagus dong kalau gitu," sahut Bitna.
"Ih, Kak Bitna nggak asik, deh. Belajar mulu kan nggak asik. Kak Tika itu nggak pernah melanggar peraturan jam malam dan larangan ketemuan sama cowok," kata Citra lagi.
"Nilai-nilai Kak Tika juga selalu perfect, jadi cowok-cowok juga takut deh mau deketin," kata Yumna.
"Terus Kak Tika itu nggak suka suara ribut. Pokoknya kalau belajarnya terganggu, dia bakalan kayak reog ngamuk," kata Afie pula.
"Hmm...Tapi emang, sih. Tika itu pendiam banget. Jarang ngomong. Aku jadi bingung mau ngobrol apa. Tapi reog itu apa, ya?" kata Bitna.
"Siapa yang kayak reog?" Julia tiba-tiba muncul.
"K-kak Juli? Nggak sama Kak Tika, kan?" kata Afie dengan wajah tegang.
"Kalau iya emangnya kenapa? Kalian takut lihat reog ngamuk?" kata Julia sambil tertawa kecil.
"Bitna, kamu nggak usah khawatir. Tika anak baik, kok. Dia cuma terlalu introvert dan sibuk mengejar akademisnya demi ayahnya," kata Julia menenangkan Bitna.
"Mengejar akademis demi ayahnya?" tanya Bitna tidak mengerti. "Bukannya ayahnya sudah..."
"Iya. Ayahnya udah meninggal. Dia cuma punya seorang ibu dan adik laki-laki. Dia sangat menyesal, karena nggak bisa melihat saat terakhir sebelum ayahnya pergi," jelas Julia dengan Bahasa Inggris, agar Bitna lebih mengerti.
"Jadi, Tika bertekad membahagiakan ibu dan mendiang ayahnya melalui prestasi, dan ingin mendapatkan pekerjaan yang bagus nantinya. Gara-gara itu Tika jadi nggak punya banyak waktu untuk bermain," jelas Julia lagi.
"Oh, iya. Minggu depan jadwal kunjungan orang tua, kan? Pasti bakal rame makanan enak, nih," celetuk Afie membubarkan rasa haru.
"Eh, benar juga. Ibuku katanya mau membawakan udang besar untuk kita makan bersama," kata Julia kemudian.
"Kalau mamaku, mau bawain cake kesukaan kalian," kata Citra pula.
"Kalau aku..."
"Udah deh. Kami tau, umi kamu mau bawain keripik ubi balado dan keripik pisang, kan?" Yumna memotong ucapan Afie.
"Kunjungan orang tua? Maksudnya kita boleh dijenguk?" tanya Bitna.
"Iya. Jadi satu bulan sekali orang tua bisa mengunjungi kita, terutama anak kelas satu," kata Yumna.
"Ooh... Enak ya bisa ketemu orang tua," raut wajah Bitna berubah menjadi sedih.
"Oh iya. Keluarga Kak Bitna kan di Korea, ya. Pasti nggak bisa ketemu dong," ujar Citra.
"Hah, nggak kok. Ibu aku udah meninggal beberapa bulan yang lalu. Dan Ayahku..."
Bitna menghentikan kalimatnya. Air matanya mulai menetes.
"Bitna, kalau kamu nggak mau, nggak perlu cerita, kok," ujar Julia.
"Maafkan aku udah ngebahas soal keluarga," kata Citra seraya memberikan tisu pada gadis Korea itu.
"Ayahku menghilang di Indonesia. Karena itu aku jadi datang ke sini untuk mencarinya," kata Bitna kemudian. "Ku rasa nanti kalian akan mendengarnya juga," lanjutnya.
"Hilang? Di Indonesia? Maksudnya?" tanya mereka semua. Bitna lalu menceritakannya.
"Kak, kita pasti membantumu," ujar Citra.
"Benar Eonnie. Kami akan selalu mendukungmu," tambah Yumna.
Drap! Drap! Drap!
"Bitna! Hosshh.. Hoshh... Katanya kapal dagang Korea yang hilang lima tahun lalu udah kemu. Hosh... Itu kapal ayahmu, bukan?" kata Tika dengan napas ngos-ngosan.
"Beneran? Itu kapal ayahku!"
(Bersambung)