
"Wooil, sepertinya kau mengabaikan kata-kata Ayah, ya?"
Wooil yang baru saja masuk rumah hanya bisa menghela napas. Ia tahu betul, apa yang dimaksud ayahnya.
"Apa aku telah melakukan dosa besar?" jawab Wooil tanpa menoleh.
"Ingatanmu pasti masih sangat tajam. Bukankah Ayah melarangmu bergaul dengan para gadis manja itu?" ucap Tuan Seon.
Wooil memutar bola matanya. Telinganya sudah panas mendengar omelan sang ayah.
"Di saat orang lain belajar kau malah pergi bermain dan menghabiskan uang sakumu selama sebulan." lanjut Tuan Seon.
"Aku juga butuh waktu istirahat, Tuan Seon. Otakku bisa meledak jika 24 jam dalam 7 hari hanya menatap buku," balas Wooil dengan nada tinggi.
"Ya, silakan saja jika itu maumu. Tapi kau harus tanggung sendiri konsekuensinya. Ayah tidak akan memberimu uang tambahan lagi," ujar Tuan Seon.
"Ya, aku tahu," jawab Wooil.
"Ayah juga akan menyita HPmu selama tiga hari. Agar kau bisa merenungkan kesalahanmu," lanjut Tuan Seon.
Matanya yang membesar dan garis wajahnya yang tegas menunjukkan bahwa pria paruh baya itu tidak bercanda.
"Ayah! Itu nggak adil. Nilai-nilaiku kan selama ini kan masih sangat baik. Ayah ingin aku seperti apa lagi? Apa aku harus hidup seperti robot, yang bekerja tanpa membantah?"
Kali ini Wooil benar-benar kesal. Bagaimana ia akan hidup tanpa HP selama tiga hari? Tiga puluh menit tanpa HP saja ia tidak bisa.
Wooil memegang tasnya erat-erat, agar sang ayah tidak bisa mengambil barang berharganya tersebut.
"Percuma saja kau simpan benda itu, Ayah pasti akan menemukannya," kata Tuan Seon.
...🍎🍎🍎...
"Sudah jam segini kenapa Bitna belum keluar sarapan juga?" gumam bibi gelisah.
Sejak Bitna terang-terangan mengatakan keinginannya untuk tetap pergi ke Indonesia, hubungan antara bibi dan keponakan itu sedikit merenggang.
Suasana di rumah kecil itu pun menjadi sangat canggung.
"Ara, kau panggil kakakmu untuk sarapan," ucap bibi.
Ara lalu menuju ke kamar sang kakak yang berada di paling belakang bagian rumah tersebut.
"Kak, sarapan yuk." Seru Ara di depan pintu.
Hingga beberapa detik kemudian, tidak ada jawaban dari dalam.
"Kak?" Ara mengetuk beberapa kali. Masih tidak ada jawaban.
Kali ini remaja SMP tersebut memutar kenop pintu. Ia tidak mendapati seorang pun di kamar yang tertata rapi tersebut.
"Bu, Kak Bitna tidak ada di kamar," seru Ara.
"Ke mana dia sepagi ini? Nggak mungkin kan sudah berangkat sekolah?" ucap bibi khawatir.
Sementara itu di lantai kelas satu SMA Seodaemu-Gu...
"Ehem! Mau ngapain kamu di sana?"
Bitna memergoki seorang cowok remaja mengendap-endap memasuki kelasnya.
"Oh, h-hai. A-aku..." pria itu tergagap mencari alasan.
"Kau Park Jun Hyeon dari kelas I A, kan?" tanya Bitna.
"Y-ya? Kau mengenalku?"
"Sebelumnya tidak. Tapi baru-baru ini aku jadi mengenalmu. Kau orang yang selalu memberi hadiah di mejaku, kan?" ucap Bitna to the poin.
"Apa maksudmu?"
"Sudahlah Jun Hyeon. Aku menyimpan bukti kalau kau yang selalu memberi hadiah padaku. Apa kau tidak salah alamat?" Bitna mengiterogasi Jun Hyeon, pengagum rahasianya selama ini.
"Ya. Aku mengaku. Apa aku terlihat seperti cowok aneh?" ucap Jun Hyeon kemudian.
"Tentu saja. Aku tidak tahu alasanmu memberi hadiah padaku setiap hari," kata Bitna.
"Itu karena aku menyukaimu," jawab Jun Hyeon tegas.
"Tapi kau tahu, kan? Aku bukanlah wanita yang pantas untuk dicintai, terutama cowok populer sepertimu," kata Bitna.
"Apa alasanmu itu masuk akal? Semua orang berhak dicintai, termasuk kamu. Kenapa kau meletakkan dirimu di kasta terendah?" protes Jun Hyeon.
"Kau cowok baik-baik jangan sampai terseret olehku. Bagaimana orang tuamu nanti jika mereka tahu anaknya berteman dekat dengan orang rendahan sepertiku?" ucap Bitna lantang.
"Yah... Itu pun kalau kau benar-benar menyukaiku," lanjut Bitna setengah berbisik.
"Aku benar-benar menyukaimu, Bitna. Tetapi kau selalu tertutup dan menghindari banyak orang. Aku jadi sangat kesulitan untuk mendekatimu," kata Jun Hyeon.
Bitna tertegun mendengar pengakuan cowok tersebut. Benarkah yang ia bilang itu?
"Jun Hyeon, jika aku tidak mengetahui siapa pengirim hadiah itu, apa kau akan terus memberiku hadiah? Sampai kapan?" kata Bitna.
"Yah, mungkin aku akan terus melakukannya sampai kita lulus."
"Bulshit. Mana ada orang seperti itu di dunia ini? Rasa cinta pasti memiliki kedaluarsa juga, kan?" bantah Bitna.
"Kenapa kau begitu tegas menolakku? Bukankah kita bicara secara terbuka dulu? Apa segitu tidak menariknya diriku?" ucap Jun Hyeon.
"Tidak. Kau sangat menarik. Contoh nyata karakter cowok sempurna di dunia nyata. Justru hal itu yang membuatku semakin ragu," jawab Bitna.
Waktu terus bergulir. Satu per satu siswa mulai berdatangan. Hal itu membuat Bitna dan Jun Hyeon tidak bebas berbicara.
"Terima kasih atas semua kebaikanmu. Tetapi cukuplah sampai di sini."
"Aku tidak tahu sudah berapa banyak biaya yang kau keluarkan untukku selama ini. Tapi mulai hari ini, aku akan mencicilnya. Aku tidak ingin berhutang budi pada siapa pun," bisik Bitna.
"Tidak. Kau akan melukai hatiku kalau mengembalikan semua itu. Lebih baik kau pura-pura tidak tahu tentangku," tolak Jun Hyeon.
Pria itu pergi meninggalkan Bitna, sebelum gadis itu sempat menjawabnya.
Bitna hanya bisa menatap punggung pria itu. Jantungnya berdebar kencang. Pipinya bersemu merah.
"Aku tadi tidak bicara keterlaluan, kan? Apa benar dia memiliki perasaan padaku? Tapi kenapa harus aku di antara banyak wanita populer lainnya?" gumam Bitna.
Gadis itu merasa sedikit bersalah pada Jun Hyeon. Tetapi ia sudah bertekad, untuk menyelesaikan semua urusannya di sini, sebelum berangkat ke Indonesia.
Dia sudah tidak sabar untuk mencari keberadaan sang ayah secara langsung.
"Ah, masih ada satu masalah penting lagi yang harus aku selesaikan," gumam Bitna.
...🍎🍎🍎...
"Bitna, kamu kenapa, sih? Dari tadi aneh banget?" Eunjo menatap sahabatnya dengan heran.
Sejak tadi Eunjo terlihat gugup di hadapannya.
"Kamu ada masalah lagi?" tanya Eunjo lagi.
"Nggak, kok," jawab Bitna.
"Nggak mungkin. Pasti kamu ada apa-apa, deh. Aku tahu banget, kalau kamu belikan aku bokkupang kayak gini, pasti ada maunya, kan?" desak Eunjo.
"Eunjo, aku mengikuti pertukaran pelajar ke Indonesia," kata Bitna tanpa bernapas.
"A-apa? Gadis introvert sepertimu ikut pertukaran pelajar?" Eunjo membesarkan matanya.
"Bukan. Bukan itu. Kamu mau pergi ke mana? En-do-nesa?" ucap Eunjo terbata-bata.
"Bukan Endonesa. Tetapi Indonesia. Itu loh, tempatnya hewan langka komodo," jelas Bitna.
"Kamu mau tinggal di pulau komodo? Ngapain? Meneliti saudaranya dinosaurus itu?" tanya Eunjo bingung.
"Bukaaan. Aku hanya ingin pergi ke Indonesia. Indonesia itu luas, pulaunya banyak. Dan aku ingin kamu mendengarnya lebih dulu sebelum orang lain," jelas Bitna.
"Kamu serius? Kenapa tiba-tiba?" tanya Eunjo tidak percaya.
Bitna yang dikenalnya adalah gadis penyendiri yang sulit bersosialisasi. Bagaimana ia akan tinggal di negeri yang asing seorang diri?
"Aku serius. Aku sudah memikirkannya hampir satu bulan."
"Tetapi kenapa kamu pilih negara yang begitu jauh?" tanya Eunjo.
"Karena ayahku ada di sana," jawab Bitna dengan lantang.
"Ayahmu sudah ketemu?" wajah Eunjo berbinar.
"Belum. Tapi mungkin ayahku ada di sana. Semoga saja," ucap Bitna lirih.
(Bersambung)