Metamorphosis

Metamorphosis
Bab 11 – Indonesia



“Bitna, ayo keluar. Saatnya sarapan,” seru bibi sambil menyusun sarapan sederhana di ruang keluarga.


“Baik, Bi,” sahut Bitna.


Ternyata semua sudah berkumpul mengelilingi meja makan sederhana itu. Ara bahkan sudah makan lebih dulu. Sepertinya ia buru-buru ingin berangkat ke sekolah.


Bitna memasukkan bibimbap dan Miyeol Guk ke dalam mangkuk sarapannya. Hatinya berdebar kencang hendak menyampaikan sesuatu.


Berulang kali ia menghembuskan napasnya, mengumpulkan keberanian untuk berbicara pada paman dan bibi.


“Paman, Bibi… Aku…” Bitna menghentikan kalimatnya di tengah-tengah.


“Ya?” gumam paman.


“Aku ingin…”


“Kamu mau minta tambah uang jajan lagi? Kamu sudah sangat boros bulan ini,” bibi memotong ucapan Bitna.


“Ti-tidak, Bi. Bukan begitu. A-aku… Ingin mengikuti pertukaran pelajar.” Bitna ahirnya mengugkapkan keinginanya.


"Oh, ya? Ke mana? Jepang? China?" tanya paman antusias.


"In-do-ne-si-a," ucap Bitna terbata-bata.


"Indonesia? Maksudmu negara Asia Tenggara yang sangat luas itu?" seru bibi.


Wanita itu meletakkan sumpit yang sedang dipegangnya, lalu menatap Bitna menunggu jawaban.


Bitna pun mengangguk tanpa ragu. Ia tidak ingin menunda-nunda hal ini lagi.


“Tidak boleh!” larang bibi dengan tegas.


Garis bibir Bitna melengkung ke bawah mendengar jawaban bibi. Meski ia sudah menduganya sejak awal, rupanya saat mendengarnya langsung tetap saja menyakitkan.


“Bi... Aku ingin menambah pengalaman,” ucap Bita.


"Mau apa kamu ke Asia Tenggara? Apa kamu nggak puas hidup di Korea? Apa rumah Bibimu ini membuatmu nggak nyaman?" marah bibi.


"Dami, jangan marah-marah dulu. Mari kita dengarkan alasan Bitna memilih Indonesia," ucap paman menenangkan istrinya.


"Bagaimana aku bisa mendengarkan penjelasannya? Dia hanya gadis kecil berusia lima belas tahun. Pergi ke semenanjung Korea saja ia tidak pernah. Ini malah mau ke luar negeri sendirian."


Yah, bibi nggak salah, sih. Selama ini Bitna memang jarang sekali bepergian keluar Kota Seoul, apalagi pergi sendirian.


"Dami. Bitna punya hak untuk bicara. Ia pasti punya alasan sendiri," seru paman. “Nah Bitna, jadi apa alasanmu memilih Indonesia?” tanya paman pada Bitna.


“Apa pun alasannya, aku tidak mengizinkan. Sekarang kita ini adalah walinya. Kalau terjadi apa-apa dengannya, siapa yang akan bertanggung jawab?” kata bibi kepada paman.


“Memangnya dia tahu Indonesia itu di mana? Indonesia itu negara yang seperti apa? Menyebut namanya saja masih terbata-bata,” omel bibi tanpa henti.


“Indonesia itu negara tropis, Bu. Pemandangan alamnya sangat indah, terutama gunung dan pantainya,” celetuk ara.


“Ara…”


“Aku suka melihat pakaian adatnya yang indah dan beragam. Makanannya juga terlihat sangat e-“


“Ara…!” tegur bibi pada putrinya. “Kau yang tidak tahu apa-apa cukup diam saja!”


“Uh, padahal kan aku hanya menjawab pertanyaan Ibu tentang Indonesia,” sungut Ara.


“Yang Ibu tanya itu Seo Bitna, bukan dirimu! Apa kamu juga mau ke Indonesia juga?” Tampaknya bibi benar-benar marah.


Dada Bitna sangat sesak untuk mengatakan semuanya, "Se-sebenarnya aku punya alasan sendiri.”


“Jadi apa alasanmu?” Yeon Woo yang sedari tadi diam, ternyata juga sangat penasaran.


“Beberapa hari yang lalu aku mendapat kabar, kalau sinyal radio kapal ayah berada di Indonesia," ungkap Bitna.


"Belum bisa dipastikan, kalau itu benar kapal milik ayah. Sekarang masih dalam investigasi dan penelusuran lebih lanjut," jelas Bitna.


"Jadi maksudnya, dengan kabar yang belum pasti ini kamu mau menemui ayahmu di Indonesia?" kata bibi.


Bitna hanya bisa menundukkan kepala. Ia tidak membantah perkataan sang bibi padanya.


“Investigasi itu dilakukan oleh pemerintah Indonesia, bukan pemerintah Korea. Jadi semua informasinya terhenti di sana,” jelas Bitna.


“Apa kau bisa mempercayai itu? Pemerintah Korea saja sudah lepas tangan, apa lagi negara lain? Gimana kalau kamu hanya jadi korban perdagangan manusia?” protes bibi.


Bitna hanya terdiam. Yang dikatakan bibi itu ada benarnya. Tetapi misi Bitna ke Indonesia bukan hanya untuk mencari ayahnya. Ia ingin mengubah hidupnya yang penuh sesak di sini.


"Apa kau tahu Indonesia? Negara itu sangat luas. Memiliki banyak pulau dan laut. Kau nanti akan tinggal di mana di sana? Lalu ayahmu berada di laut yang mana? Bagaimana kalian akan bertemu?" protes bibi panjang lebar.


Lagi-lagi, ucapan bibi sangat benar. Bitna tidak bisa membantahnya.


"Bitna, apa kamu punya alasan lain sampai mengikuti pertukaran pelajar ini?" tanya paman dengan lembut.


Tentu saja Bitna tidak bisa mengatakan jika ia korban bully di sekolah. Ia juga tidak bisa menjamin, apakah di Indonesia nanti ia akan bebas bully?


"Aku bersyukur bisa tinggal bersama paman dan bibi. Kalian baik sekali padaku. Tapi aku juga ingin mencari pengalaman agar bisa memudahkanku saat kuliah atau kerja nanti," kata Bitna kemudian.


"Memangnya pengalaman di Korea masih belum cukup untukmu? Kamu mau kerja di luar negeri lalu menghilang seperti ayahmu?" tanya bibi dengan jutek. Ia masih tidak terima dengan keinginan Bitna.


"Sayangku, biarkanlah Bitna pikir-pikir dulu,” kata paman pada sang istri.


"Kamu pikir aku akan membiarkan keponakanku pergi begitu saja, setelah Kakak laki-lakiku menghilang tanpa kabar ketika merantau? Setelah itu kakak iparku meninggal karena terlalu sibuk mencari nafkah."


Tangis bibi pecah. Ia meluapkan emosinya melalui air mata yang terus mengalir.


"Nggak. Aku nggak akan membiarkan keponakanku satu-satunya pergi dari tanah leluhurnya."


Semuanya terdiam. Emosi bibi saat ini sangat sulit dikendalikan.


"Bibi, maafkan aku. Aku tak bermaksud membuat bibi bersedih," ucap Bitna mengalah.


“Bitna kamu pergi lah dulu, nanti terlambat ke sekolah. Masalah ini nanti kita bicarakan lagi lain waktu,” kata paman menenangkan suasana.


...🍎🍎🍎...


“Bitna, apa kamu benar-benar mau pergi ke sana?” tanya Yeon Woo ketika mereka berjalan menuju halte bus.


“Iya mungkin,” jawab Bitna singkat.


“Apa kamu nggak nyaman tinggal di rumah kami? Maafkan ibuku kalau dia agak kasar. Tapi sebenarnya dia itu baik,” ucap Yeon Woo.


“Oppa, aku sangat bersyukur bisa tinggal bersama kalian. Paman dan bibi benar-benar sangat baik, nggak membedakan aku dengan anak-anak kandungnya,” jawab Bitna dengan tenang.


“Tetapi aku memang ingin mencoba hal baru,” lanjut Bitna lagi.


“Apa kamu dibully di sekolah?” tanya Yeon Woo tiba-tiba.


Langkah kaki Bitna terhenti. Jantungnya pun seakan berhenti berdetak, “Kenapa Oppa bisa berpikir ke sana?” ucap Bitna sangat pelan.


“Aku cuma menebak aja. Biasanya kan kalau tiba-tiba ingin pindah sekolah, karena nggak nyaman di sekolah. Apalagi alasannya kalau bukan di bully?” jelas Yeon Woo.


“Ditambah lagi melihat penampilanmu yang bau telur busuk setiap pulang sekolah. Aku jadi terus berpikir yang bukan-bukan,” tambah pria bertubuh tinggi bak idol itu.


“Ah… Oppa berpikir terlalu jauh. Sebenarnya keputusan ini nggak buru-buru, kok,” jawab Bitna sedikit gugup.


“Setelah aku mendengar kapal tentang ayah, kebetulan aku melihat pengumunan ini di sekolah. Aku penasaran, kenapa tidak ada yang berminat untuk mendaftar,” jelas Bitna.


“Ya baguslah, kalau emang bukan karena bully. Aku harap itu keputusan terbaik yang kamu ambil.”


(Bersambung)